oleh

Banyuwangi Kehilangan Supinah sang Maestro Gandrung

Maestro Gandrung ‘ Mak Supinah , 56 tahun sebagai salah satu penari Gandrung senior di Banyuwangi, berpulang ke rahmatullah, layak disebut maestro Gandrung Banyuwangi karena memiliki suara emas dan karakter tarian yang khas telah meninggalkan kita bersama. Beliau merupakan salah satu sosok luar biasa yang telah berdedikasi terhadap pelestarian kesenian Gandrung Banyuwangi selama kurang lebih 40 tahun. Supinah merupakan satu seniwati gandrung yang masih aktif berkesenian dari usia 16 tahun sampai menjelang ajal menjemputnya masih aktif membimbing generasi penerus gandrung Banyuwangi.

Banyuwangi kembali kehilangan salah satu seniman tradisional andalannya. Masyarakat Banyuwangi utamanya seniman berduka atas Gandrung Supinah meninggal Minggu Malam (26/12/21). Maestro gandrung Supinah yang biasa dikenal dengan mak Pinah telah berpulang, setelah beberapa bulan berjuang melawan sakit yang dideritanya.

IMG-20211227-WA0002

Perempuan yang seluruh hidupnya didedikasikan menjadi gandrung dan sinden itu tutup usia pada Minggu malam sekitar pukul 19.50 wib. Ia menghembuskan nafas terakhir di RSUD Blambangan Banyuwangi.

“Sejak pandemi , dia tidak pernah manggung lagi. Mungkin karena diam di rumah itu, penyakitnya jadi sering kambuh dan keluar masuk rumah sakit.

Tampak di rumah duka para sahabat, seniman , budayawan dan sejawatnya seperti Gandrung Temu Misti, Dartik dan Sunasih berada di rumah duka.
Beberapa sahabat seperjuangannya turut berduka cita kepada sang maestro gandrung Banyuwangi itu.

“Mbok Pinah Riko wes Melaku sulung…mugi jembar kubure padango dalane ugo mugi Gusti Pengeran nyepuro Kabeh salah lan khilaf Riko, ugo Nompo sak kabehe amal ibadah Riko lan Mugi Husnul Khotimahh ya mujibassailin,” kata Aden Sanusi

Suara emasnya khas yang dimiliki juga memberikan warna tersendiri untuk Mak Pinah. Mak Pinah juga merupakan Gurunya puluhan Gandrung yang masih eksis di Banyuwangi saat ini. Semoga Mak Pinah tenang alam sana dan karya-karya beliau selalu di kenang dan memberikan motivasi sebagai sumber inovasi bagi seniman dari generasi sekrang ke generasi yang akan datang, kata Momo.

Tak hanya di usia produktifnya, Supinah sebelumnya tetap aktif berkesenian di usia senjanya. Selain tampil di berbagai tempat sebagai sinden, dia tak segan berlatih bersama seniman-seniman muda, melatihnya menjadi gandrung.

Sementara Ketua Dewan Kesenian Blambangan Hasan Basri, menyampaikan bela sungkawa atas meninggalnya sang maestro Supinah . “Innalilahi wainnailaihi rojiun. Insyaallah ahli suwargo. Jembar kubure padhang dalane. Keluarga ne sabar lan ikhlas.” Kang Son panggilan Hasan Basri berdoa agar almarhumah diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya, dan keluarga tegar dalam kondisi saat ini.

“Insya Allah wafatnya Bu Supinah ini akan meningkatkan teman-teman untuk bisa terus melahirkan generasi penerus sebagai penjaga seni tradisi, ” ungkap kang Son.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *