Ragam tradisi setiap desa di Kabupaten Banyuwangi merupakan warisan leluhur yang sampai saat ini tradisi tersebut masih melekat di masyarakat. Salah satunya tradisi unik setelah hari raya yakni Gelar Pitu.
Gelar Pitu merupakan acara sedekah bumi sebagai ritual bersih desa masih terus dilestarikan bertepatan dengan hari ketujuh hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah.
Tak ubahnya ritual-ritual khas suku Osing, Gelar Pitu yang berarti pergelaran di hari ketujuh Lebaran tersebut juga diramaikan dengan gamelan dan angklung paglak khas Banyuwangi. Sejak pukul 13.00 masyarakat sudah berbondong-bondong untuk dapat melihat langsung ritual asli masyarakat Dukuh Talun Jeruk Dusun Kampung Baru, Desa/Kecamatan Glagah Banyuwangi.
Tradisi Gelar Pitu berlangsung setiap tujuh hari setelah lebaran, berupa arak-arakan Barong disertai gunungan dari ketupat.Sebelum diarak, ketupat gunggungan dan barong terlebih dahulu disucikan dengan tujuh mata air yang ada di desa. Air suci tersebut lantas dipercikkan pada ketupat gunggungan dan Barong dengan tujuan penyucian. Lantunan doa kemudian dibacakan oleh Gambuh / tetua adat sebagai simbol agar diberi keberkahan dan keselamatan.

Uniknya, ketupat gunggungan ini tidak berisi kukusan beras seperti ketupat pada umumnya. Melainkan berisi sejumlah uang hasil sumbangan warga sekitar. Setelah berkumpul, ketupat berisi uang ini lantas disusun seperti bentuk gunung. Warga Dukuh Talun Jeruk Dusun Kampung Baru Glagah, Banyuwangi. menyebutnya sebagai ketupat gunungan. Bebas, satu rumah ada yang nyumbang satu ketupat, dua ketupat atau 10 ketupat. Isi uang di dalamnya pun sukarela tidak ada ketentuan. Seperti halnya tradisi sedekah bumi berupa tumpeng Gelar Pitu di dusun Talun Jeruk Dusun Kampung Baru Desa/ Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, yang diselenggarakan minggu ( 8/5/2022 ).
Acara sedekah bumi ini sebagai ritual bersih desa masih terus dilestarikan dan diselenggarakan bertepatan dengan hari ketujuh hari raya Idul Fitri 1443 Hijriah.
Tradisi ini merupakan syukuran warga dukuh Talun Jeruk dalam melakukan bersih Desa. Partisipasi warga sangat bagus, dan sangat antusias mengikuti acara sedekah selamatan kampung ini dengan semangat dalam suasana gotong royong. Setiap Lebaran hari ketujuh atau 7 Syawal tahun Hijriyah, warga Dukuh Talun Jeruk Dusun Kampung Baru, Desa / Kecamatan Glagah, memperingati Lebaran Ketupat yang dirangakai dengan ider bumi yang disebut Gelar Pitu.
Uniknya, ketupat gunungan ini tidak berisi kukusan beras seperti ketupat pada umumnya. Melainkan berisi sejumlah uang hasil sumbangan warga sekitar. Setelah berkumpul, ketupat berisi uang ini lantas disusun seperti bentuk gunung. Bebas, satu rumah ada yang nyumbang satu ketupat, dua ketupat atau 10 ketupat. Isi uang di dalamnya pun sukarela tidak ada ketentuan.
Arak-arakan barong dan ketupat gunungan diarak di sekitar rumah penduduk. Menyusuri gang dan areal persawahan hingga menuju makam Buyut Saridin yang merupakan leluhur warga Dukuh Talun Jeruk. Di sana kemudian digelar acara selamatan serta makan bersama ancak yang ikut diarak.Di puncak acara, gunungan ketupat kembali diperciki air sekaligus merapalkan berbagai doa. Baru kemudian warga diperbolehkan berebut ketupat berisi uang. Warga meyakini semakin banyak mendapatkan ketupat, maka akan semakin diberi kelancaran rezeki.

Kopat Lodoh merupakan tradisi warga Dukuh Talun Jeruk. Sebelum makan ancak kopat loduh warga berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual gelar pitu diyakini merupakan selamatan tolak bala terlebih saat pandemi korona ini. Usai berdoa yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan ancak bersama.
“Setelah melakukan tradisi Gelar Pitu, masyarakat bisa kembali bekerja. Bagi yang kerja di Bali atau di luar kota baru boleh berangkat setelah acara selamatan ini. Agar masyarakat diberi keberkahan dan keselamatan. Jadi ini merupakan acara bersih desa,” ujar Sanusi Marhendi ( 65 ), budayawan Pendiri Kopat.
“Gelar Pitu berasal dari kata Gelar yang artinya menggelar atau menata, sedangkan pitu berarti pitutur atau ucapan. Jadi jika di artikan Gelar Pitu mengandung makna menata ucapan dari buyut Saridin, yang telah memberikan tujuh wejangan kepada keturunannya. Salah satu isi wejangannya adalah keturunan buyut Saridin diminta melaksanakan sedekah bumi yang dilaksanakan di halaman atau di tengah jalan. Selamatan itu dilaksanakan dengan menggunakan pelepah pisang atau biasa di sebut Ancak , “ujar Sanusi.
“Dalam tradisi yang telah dilaksanakan turun-temurun ini, para warga dari berbagai usia berbondong-bondong mengikuti ider bumi mengarak gunungan tumpeng dari ketupat yang sudah diisi uang 2000 – 5000 – 10000 – 20000 bahkan 50000. Semua warga dukuh Talun Jeruk berpartisipasi dalam acara ini dengan guyub dalam suasana gotong royong, ” tambahnya.
Penjelasan Sanusi diatas dikuatkan oleh Wowok Meirianto budayawan juga owner Warung Kemarang , “Masyarakat petani Osing yang tinggal di pedukuhan dikelilingi persawahan di kampung Dukuh Talun Jeruk desa Glagah, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi menggelar “Tradisi Gelar Pitu” yang dilaksanakan pada hari ke tujuh Syawal, Inti yang terdapat dalam ritual komunal ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME juga sekaligus memohon keselamatan agar senantiasa dilindungi dari segala malapetaka, balak penyakit yang bersifat alamiah maupun berupa gangguan gaib termasuk untuk mengusir pageblug , “harapnya.
Masyarakat Osing ini masih mempercayai bahwa mereka tinggal di tanah leluhur dan menyadari bahwa ritual ini digelar sebagai media berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya dan juga merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk lebih memahami dan menyelaraskan hidup dengan apa yang ada di sekitarnya. “Mereka percaya bahwa kehidupan manusia akan berjalan baik apabila keharmonisan dalam masyarakat, dengan alam dan dengan Tuhan Adikrodati tetap terjaga. Semoga pagebluk corona segera sirna, ” pungkas Wowok yang merupakan Ketua Kopat ini.(Ilham Triadi)


Komentar