oleh

TKW : di Antara Sastra dan Sakit Jiwa

Para TKW adalah kumpulan perempuan-perempuan yang bermasalah. Jika tidak menderita kerumitan hidup -terutama dari segi ekonomi- tidak mungkin mereka nekat bekerja ke luar negeri. Meski sadar dengan segala resikonya.

Resiko yang membayang kerap diperoleh dari berita-berita di media yaitu kekerasan yang dialami oleh para TKW dari hulu hingga hilir. Terutama kekerasan dari pihak majikan. Namun, kadang kerumitan resiko yang nanti bakal diterima mengalahkan kerumitan hidupnya sendiri. Sehingga tetap saja berani ke negeri seberang.

Para TKW adalah kumpulan perempuan-perempuan sakit jiwa. Sakit jiwanya mendapati lahan berpindah tangan dan dikuasai oleh pemilik modal busuk. Sakit jiwanya, hasil pertaniannya dihargai sangat murah dibanding biaya produksi. Sakit jiwanya, lahan-lahan pertanian menjadi tandus akibat pertambangan oleh sekelompok orang yang tamak. Sakit jiwanya, melihat gaji sebulan buruh pabrik jauh lebih kecil dibanding uang saku anak pemilik pabrik dalam sehari. Sakit jiwanya, mendapati para lelakinya tidak bekerja. Jika tidak menderita kerumitan jiwa sedemikian rupa, mereka tak kan sudi bertaruh nyawa di negeri orang.

Ternyata masalah yang dihadapi tak melulu soal uang. Patah hati dan susah move on juga bisa menjadi pemicu dahsyat ingin lari dari kenyataan. Berharap pergi merantau bisa mengobati luka. Sadar atau tidak, jiwa yang sudah  ruwet akan bertambah njlimet ketika mendapati beban pekerjaan dan karakter majikan yang jauh dari sangkanya.

IMG-20231105-WA0110

Jangankan jiwa yang sedang sakit, yang waras pun kadang menjadi galau begitu mendapati pekerjaan yang sangat membosankan, rutin dan sama dikerjakan setiap hari. Meskipun sudah mendapatkan majikan yang baik hati bak peri dalam dongeng. Ini juga berlaku terhadap para ibu rumah tangga yang melulu berada di wilayah domestik.

Sebenarnya manusia tak lepas dari masalah, bahkan senyaman apapun hidupnya. Karena manusia hidup di dunia. Bukankah hakikat dunia itu adalah masalah? Demikian juga dengan para TKW, mereka percaya jika pergi bekerja ke luar negeri, masalah yang dihadapi akan selesai. Itu jika sesuai harapan. Tapi kadang kenyataan tak seindah angan-angan.

Jadi, manusia sakti mana yang tidak memiliki masalah? Masalahnya adalah “seberapa tangguh”. Kadang masalah tak mengharapkan solusi. Tapi justru butuh pelampiasan emosi. Jika sudah terlampiaskan, biasanya terasa plong. Namun, jika salah memilih metodenya, alih-alih bisa lega, masalah justru akan bertambah parah. Merokok, narkoba, minum-minuman keras, dan seks bebas adalah contoh metode pelepasan yang salah. Bukannya waras tapi malah modar.

Sastra sebagai Alternatif

Dengan demikian hal yang paling dibutuhkan adalah sesuatu yang akan menimbulkan ketenangan batiniah. Batin bisa tenang karena adanya rekreasi pikiran. Rekreasi pikiran salah satunya bisa didapat dengan menulis.

Menulis bisa dijadikan metode pelepasan yang paling aman. Menulis bisa di kertas atau di buku diary. Fungsinya adalah untuk mengeluarkan beban dalam bentuk tulis, sehingga bisa disebut sebagai terapi. Apalagi jika bisa diubah ke dalam bahasa sastra, misalnya puisi atau cerpen.

Bagaimana dengan menulis status di media sosial? Apakah itu juga bisa disebut sebagai terapi menulis? Kita harus hati-hati jika menulis di media sosial. Karena akan berlaku ungkapan“You are what you write.” Jika tulisan kita melulu berisi keluhan, kemarahan, umpatan, dan makian, maka itu sesungguhnya menggambarkan jati diri kita. Maukah kita disebut sampah? Karena media sosial bukan tempat sampah, membuang ke sana tentulah kurang tepat.

Beda dengan jika kita menulis di kertas atau di buku diary. Yang penting adalah proses menulisnya, bukan hasilnya. Efek yang akan didapat adalah kelegaan. Karena berhasil mengeluarkan uneg-uneg dalam bentuk tulisan, yang kadang itu adalah sampah yang harus dibuang. Tentu saja itu bukan jati diri kita yang sebenarnya, karena kita masih dalam proses terapi diri.

Namun akan lebih bermanfaat jika segala kegundahan ditulis dalam bentuk sastra. Sebait puisi atau cerpen misalnya, akan menjadi obat hati dan penenang jiwa. Imajinasi yang tertata akan menggugah rasa sehingga dapat mengubah suasana menjadi santai dan rileks. Karena sastra adalah media terbaik untuk menciptakan kembali rasa kehidupan dan meneguhkan kesadaran. Untuk itu efeknya sangat luar biasa, yaitu lebih percaya diri, lebih berani menghadapi tantangan hidup, dan ujung-ujungnya bisa berprestasi.

Dengan sastra, bahkan keluhan dan kemarahan pun akan terasa sekali maknanya jika dianalogikan secara tepat. Dengan sastra, segala kepedihan terasa demikian memesona. Umumnya pelajaran hidup yang diterima pasti menarik untuk dijadikan tema dan akan mengandung pesan yang sarat pembelajaran bagi pembaca. Selain berguna untuk terapi diri, menulis berarti menorehkan sejarah kita sendiri.

Geliat sastra di kalangan para TKW beberapa tahun belakangan sudah  mulai terlihat. Hal ini bisa dibuktikan dengan banyaknya buku-buku yang sudah mereka terbitkan. Bahkan beberapa kalangan menyebut sastra mereka memiliki genre tersendiri. Mudah-mudahan akan menjadi semacam virus menular di antara sesama mereka, maupun kepada masyarakat luas. Nah, kabar yang menggembirakan, bukan? Berharap, para TKW kita tak lagi “sakit jiwa.”(*)

Eni Kusuma, Mantan TKW Hong Kong, Penulis buku “Anda Luar Biasa!!!”, “Mitra Kerja Tanpa Pamrih”, “Karate in You”, “Karate with You, Peraih Penghargaan Tupperware “She Can Award” 2009 dan Liputan 6 SCTV Award 2015 sebagai Tokoh Inspiratif di bidang Sosial Pendidikan, Pendiri Bimbel “Rumah Cerdas”, Pendiri Sekolah (Gratis) Paud “Melati”, Seorang karateka, Pendiri Dojo Laskar Arum, Jurnalis Inkai Jatim.

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *