Banyuwangi – Menyambut pergantian tahun Jawa yang jatuh pada 1 Suro, sejumlah warga mengadakan selamatan yang penuh dengan doa bersama dan tradisi leluhur. Rangkaian doa biasanya dipimpin oleh tetua desa atau imam masjid setempat, berisi permohonan agar seluruh warga senantiasa dilimpahi keberkahan serta ketenangan hidup.
Adat yang kerap dilakukan meliputi ider bumi dan kenduri. Kegiatan ider bumi berupa berkeliling desa sambil membawa obor, diikuti anak‑anak, remaja, hingga kaum dewasa, sementara warga yang lebih tua umumnya menyaksikan dari depan rumah masing‑masing. Sementara itu, kenduri menghadirkan beragam sajian — bisa berupa tumpeng atau makanan khas desa setempat lainnya.
Salah satu hidangan yang hampir selalu ada saat bulan Suro adalah Jenang Suro. Sajian ini terdiri dari bubur nasi, irisan telur gulung, kacang tanah goreng, irisan daging ayam, serta kuah kare yang gurih. Disajikan dalam berbagai bentuk dan ukuran, ada yang menggunakan alas daun pisang maupun piring, tampilannya sangat menggugah selera.
Menurut Pak Usik, pendiri KOPAT Wangi, kegiatan adat ini rutin dilaksanakan setiap tahun sebagai wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Kuasa. “Tidak ada salahnya jika kita juga meluangkan hati untuk bersedekah,” ujarnya serupa berharap tradisi ini tetap dijaga dan dilestarikan oleh generasi penerus.
Di sekretariat KOPAT Wangi, peringatan malam 1 Suro kali ini berlangsung meriah dan dihadiri berbagai tokoh budaya. Tampak hadir di antaranya Pak Pramu (pakar teater), Fatah Yasin Noor (penyair), dan Miskawi (tokoh Kebangsaan), serta para tamu undangan lainnya.
Hari berganti hari, bulan berganti bulan. Dan tahun baru pun telah hadir. Kita sambut tahun baru ini dengan sekeping doa agar kita tetap dalam kerukunan dan kekompakan.
Mm


Komentar