Banyuwangi, Jurnalnews.com – Pemerintah Desa Sumberanyar, Kecamatan Wongsorejo, Banyuwangi, kembali menggelar tradisi tahunan Rokat Dhisa (bersih desa) yang dirangkai dengan Haul Masyayikh, para pahlawan, serta sesepuh Desa Sumberanyar.
Kegiatan yang dikemas dalam tajuk “SUMBERANYAR BERSHALAWAT” tersebut mengusung tema “Merajut Ukhuwah, Menjaga Tradisi, Mengisi Kemerdekaan dengan Amal Kebajikan” dan dijadwalkan berlangsung pada Minggu malam pukul 19.00 WIB di Lapangan Desa Sumberanyar.
Acara tersebut akan menghadirkan Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo, K.H.R. Achmad Azaim Ibrahimy, bersama Majelis Shalawat Sokarajeh. Kehadiran ulama dan majelis shalawat tersebut diharapkan semakin menambah kekhusyukan sekaligus mempererat silaturahmi masyarakat Desa Sumberanyar.
Kepala Desa Sumberanyar, Niwi, menjelaskan bahwa kegiatan pengajian dan shalawatan tersebut merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun oleh Pemerintah Desa Sumberanyar dengan melibatkan masyarakat serta Komisariat IKSASS Sumberanyar.
“Alhamdulillah, kami mendapat dukungan dari masyarakat untuk kembali melaksanakan kegiatan shalawatan yang akan digelar di lapangan desa. Antusiasme warga sangat luar biasa, termasuk dalam membantu mengupayakan pengadaan dana kegiatan,” terang Niwi.
Menurut Niwi, pembiayaan kegiatan bersumber dari APBDes Desa Sumberanyar serta dukungan dan partisipasi masyarakat.
Untuk menggalang partisipasi warga, panitia juga telah melaksanakan khatmil Qur’an yang dimulai sekitar empat bulan sebelum pelaksanaan acara. Selain itu, terdapat sejumlah sumbangan dari masyarakat yang turut mendukung terselenggaranya kegiatan.
“Sebagian dana diambil dari APBDes desa dan sisanya dari partisipasi masyarakat melalui khotmil Qur’an. Untuk menggalang dana, panitia mengadakan khotmil Qur’an yang dimulai empat bulan sebelum acara, ditambah sumbangan lainnya. Alhamdulillah, sampai saat ini sudah terkumpul sekitar Rp60 juta,” imbuhnya.
Niwi berharap pelaksanaan Sumberanyar Bershalawat dapat menjadi momentum untuk memperkuat persaudaraan dan kebersamaan masyarakat, sekaligus menjaga tradisi serta mengenang jasa para ulama, pahlawan dan para sesepuh desa.
Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari semangat masyarakat dalam mengisi momentum Kemerdekaan Republik Indonesia dengan kegiatan positif dan bernilai keagamaan. (Venus).


Komentar