oleh

BALAWANGI Ngluruk Dispar Dan DPRD Banyuwangi Soal Gandrung Zombie

BANYUWANGI – Munculnya Gandrung Zombie di media sosial yang kemudian viral dan menimbulkan kontroversi dianggap belum tuntas oleh Perkumpulan Masyarakat Pembela Adat dan Budaya Banyuwangi (BALAWANGI). Rabo (22/01/2020).

Mereka menuntut agar permasalahan yang dianggap melecehkan budaya Banyuwangi itu segera diselesaikan.

Kini semua anggota Perkumpulan Masyarakat Pembela Adat dan Budaya Banyuwangi (BALAWANGI) yang beralamatkan didusun krajan Desa Tamanagung Kecamatan Cluring itu berkumpul hendak menuju Dispar dan DPRD.

Sebelum menuju kantor Dispar dan DPRD Mereka berkumpul dilapangan desa Sraten pada pukul 07.30 wib, selama kurang lebih satu jam. dilapangan ketua Solehudin memberi paparan.

Menurut solehudin saat memberi paparan kepada rekan – rekan, dirinya menginginkan agar Dispar menindak lanjuti soal gandrung Zombie yang sudah melecehkan budaya Banyuwangi.

“Kita akan menindaklanjuti permasalah Gamdrung Zumbie yang sudah mencoreng budaya kita.” Ucapnya.

Foto: Anggota Balawangi saat berkumpul dilapangan desa Sraten.
Foto: Anggota Balawangi saat berkumpul dilapangan desa Sraten.

Selain itu Solehudin juga memberi pembinaan kepada anggotanya yang jumlahnya sekitar 120 orang, agar didalam perjalanan menuju kota banyuwangi berjalan dengan tertib.

“Diperjalanan jangan arogan patuhi aturan lalu lintas, bagi yang pakai motor diharuskan memakai helem.” Tambahnya.

Rombongan melunjur ke kota Banyuwangi pukul 08.45 wib. Selama perjalanan rombongan dikawal oleh anggota Polsek Cluring.

Diketahui sebelumnya dilangsir dari media online Lensa Banyuwangi. Kedatangan Balawangi ke kantor Dispar adalah mengklarifkasi atas beredarnya infomasi Banyuwangi di media sosial khususnya di Facebook tentang adanya festival Parfi Award 2020.

Festifal tersebut indentik dengan fashion hantu, zombie, pocong kuntilanak, sundel bolong serta tokoh hantu yang yang sangat menyeramkan, yang menjadi miris adalah Budaya Gandrung menjadi ajang festival tersebut yang menampilkan budaya gandrung yang mempunyai wajah yang buruk rupa mirip dengan hantu atau genderuwo. (Rny)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *