Setiap desa pasti mempunyai sebuah tradisi dan adat istiadat beraneka ragam, dan itu merupakan warisan leluhur yang sampai saat ini tradisi tersebut masih melekat di masyarakat. Seperti halnya tradisi sedekah bumi berupa tumpeng Gelar Pitu di dukuh Talun Jeruk Dusun Kampung Baru Desa/ Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, yang diselenggarakan rabu ( 19/5/2021 ). Acara sedekah bumi ini sebagai ritual bersih desa masih terus dilestarikan dan diselenggarakan bertepatan dengan hari ketujuh hari raya Idul Fitri 1442 Hijriah.
Tradisi ini merupakan syukuran warga dukuh Talun Jeruk dalam melakukan bersih Desa. Di tengah Pandemi COVID-19, kegiatan ini digelar dengan keterbatasan.

“Partisipasi warga sangat bagus, dan sangat antusias mengikuti acara sedekah selamatan kampung ini dengan tetap mematuhi dan menerapkan protokol kesehatan, ” ujar Wowok Meirianto , budayawan Ketua Kopat.
“Setiap Lebaran hari ketujuh atau 7 Syawal tahun Hijriyah, warga Dukuh Talun Jeruk Dusun Kampung Baru, Desa / Kecamatan Glagah, memperingati Lebaran Ketupat yang dirangakai dengan ider bumi yang disebut Gelar Pitu, “jelas Wowok .
Uniknya, ketupat gunggungan ini tidak berisi kukusan beras seperti ketupat pada umumnya. Melainkan berisi sejumlah uang hasil sumbangan warga sekitar. Setelah berkumpul, ketupat berisi uang ini lantas disusun seperti bentuk gunung.
“Bebas, satu rumah ada yang nyumbang satu ketupat, dua ketupat atau 10 ketupat. Isi uang di dalamnya pun sukarela tidak kami tentukan,” tambah Wowok.
Usai salat Asyar ritual ini mulai dilaksanakan, meski ditengah wabah pandemi korona inilah kesempatan masyarakat untuk bersilaturahmi dan berdoa bersama agar wabah korona ini segera berakhir namun tetap dilaksanakan sesuai protokol kesehatan pencegahan COVID-19.
Arak-arakan Barong dan ketupat gunggungan diarak di sekitar rumah penduduk. Menyusuri gang dan areal persawahan hingga menuju makam Buyut Saridin yang merupakan leluhur warga Dusun Kopenkidul. Di sana kemudian digelar acara selamatan serta makan bersama ancak yang ikut diarak.

Di puncak acara, gunungan ketupat kembali diperciki air sekaligus merapalkan berbagai doa. Baru kemudian warga diperbolehkan berebut ketupat berisi uang. Warga meyakini semakin banyak mendapatkan ketupat, maka akan semakin diberi kelancaran rezeki.
Namun saat pandemi ini, mereka melakukan ritual selamatan biasa, di depan rumah masing-masing. Kopat Lodoh merupakan tradisi warga Dukuh Talun Jeruk. Sebelum makan ancak kopat loduh warga berdoa agar desanya dijauhkan dari segala bencana, dan sumber penyakit karena ritual gelar pitu diyakini merupakan selamatan tolak bala terlebih saat pandemi korona ini. Usai berdoa yang yang dibacakan sesepuh dari masjid di desa setempat, masyarakat mulai makan ancak bersama.
“Setelah melakukan tradisi Gelar Pitu, masyarakat bisa kembali bekerja. Bagi yang kerja di Bali atau di luar kota baru boleh berangkat setelah acara selamatan ini. Agar masyarakat diberi keberkahan dan keselamatan. Jadi ini merupakan acara bersih desa,” ujar Sanusi Marhendi , tokoh adat Talun Jeruk .
“Gelar Pitu berasal dari kata Gelar yang artinya menggelar atau menata, sedangkan pitu berarti pitutur atau ucapan. Jadi jika di artikan Gelar Pitu mengandung makna menata ucapan dari buyut Saridin, yang telah memberikan tujuh wejangan kepada keturunannya. Salah satu isi wejangannya adalah keturunan buyut Saridin diminta melaksanakan sedekah bumi yang dilaksanakan di halaman atau di tengah jalan. Selamatan itu dilaksanakan dengan menggunakan pelepah pisang atau biasa di sebut Ancak , “ujar Sanusi.

Dalam tradisi yang telah dilaksanakan turun-temurun ini, para warga dari berbagai usia berbondong-bondong mengikuti ider bumi mengarak gunungan tumpeng dari ketupat yang sudah diisi uang 1000 – 5000. Semua warga dukuh Talun Jeruk berpartisipasi dalam acara ini, meski dalam pengawasan satgas Covid Desa / Kecamatan Glagah.
Penjelasan Sanusi diatas dikuatkan oleh Aekanu Hariyono , budayawan dari DKB , “Masyarakat petani Osing yang tinggal di pedukuhan dikelilingi persawahan di kampung Dukuh Talun Jeruk desa Glagah, kecamatan Glagah, kabupaten Banyuwangi menggelar “Tradisi Gelar Pitu” yang dilaksanakan pada hari ke tujuh Syawal,
” Ritual komunal kali ini dilaksanakan pada situasi pandemi dengan sangat hati-hati mulai dari menyiapkan sesaji dan tata perilaku tertentu, tertutup untuk umum agar tidak menimbulkan kerumunan orang, semua harus mengikuti protokoler kesehatan yang diawasi ketat langsung oleh satgas covid – 19, kepala desa maupun dari polsek setempat.” ujar Aekanu.
“Inti yang terdapat dalam ritual komunal ini adalah sebagai rasa syukur kepada Tuhan YME juga sekaligus memohon keselamatan agar senantiasa dilindungi dari segala malapetaka, balak penyakit yang bersifat alamiah maupun berupa gangguan gaib termasuk untuk mengusir pageblug pandemi covid-19 ini, “harapnya.
Masyarakat Osing ini masih mempercayai bahwa mereka tinggal di tanah leluhur dan menyadari bahwa ritual ini digelar sebagai media berkomunikasi dengan sesuatu di luar dirinya dan juga merupakan bentuk ikhtiar manusia untuk lebih memahami dan menyelaraskan hidup dengan apa yang ada di sekitarnya.
“Mereka percaya bahwa kehidupan manusia akan berjalan baik apabila keharmonisan dalam masyarakat, dengan alam dan dengan Tuhan Adikrodati tetap terjaga. Semoga pagebluk corona segera sirna, ” pungkas Aekanu.(Ilham Triadi)


Komentar