Paguyuban Pelatih Tari dan Seniman “Patih Senawangi” Banyuwangi yang di pimpin oleh Suko Prayitno, menyelenggarakan Lomba Tari Gandrung Gurit Mangir tingkat pelajar se Kabupaten Banyuwangi dan pelaksanaannya dibagi empat zona.
Suko menjelaskan “Tujuan penyelenggaraan Lomba Tari Gandrung Gurit Mangir ini adalah untuk lebih mengenalkan budaya tari tradisional kepada para generasi muda dan sekaligus menanamkan rasa cinta terhadap budaya tari tradisional yang pada jaman milenial ini kurang diminati, “ungkapnya.
Lanjut Suko “Awalnya konsep Tari ini dipersiapkan untuk even Festival Gandrung Sewu yang rutin di gelar setiap tahun oleh Dinas Pariwisata Kabupaten Banyuwangi, tetapi karena pandemi covid -19 even ini tidak terselenggara. Ia lalu dibantu oleh beberapa seniman tari diantara nya gandrung Wiwik untuk membuat terobosan agar kecewanya para peserta Gandrung yang sudah mati matian latihan bisa terobati. Dengan restu beberapa pihak, akhirnya Lomba Tari Gandrung Gurit Mangir Zona I tingkat pelajar ini bisa dilaksanakan pada hari ini Minggu wage (10/10/2021) yang berlokasi di Panggung Omprog Gandrung Waroeng Kemarang Jalan Perkebunan Kalibendo Km 5 desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi, “jelas Suko.

Menurut Samsul Slamet Diharjo selaku ketua pelaksana lomba mengatakan Lomba Tari Gurit Mangir tingkat pelajar se kabupaten yang pelaksanaannya diadakan secara zona terlaksana hari ini karena Banyuwangi telah berhasil melandaikan penyebaran virus covid-19.
“Saya ucapkan terima kasih Kepada Pak Wowok Meirianto beserta Ibu Ririt Meirianto selaku owner Waroeng Kemarang yang telah menyediakan Panggung Omprog Gandrung beserta sarana prasarananya untuk kegiatan lomba Tari Gandrung GuritMangir ini, ” cetusnya.
Anak muda yang hidup dijaman sekarang ini, lebih menyukai kesenian modern dan mulai melupakan seni tradisional warisan para leluhurnya. Padahal gerakan tari seperti Tari Gandrung ini terkandung nilai filosofi didalamnya. Banyak anak anaka muda jaman sekarang merasa minder melakukan tari budaya yang ia miliki, mereka kurang percaya diri terhadap budaya nya sendiri.

Lomba Tari Gandrung Gurit Mangir ini ternyaya mendapat respon positif dari para pelajar, sebanyak 161 pelajar yang berasal dari kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro, Licin dan Wongsorejo ikut ambil bagian dalam lomba Tari Gandrung Gurit mangir ini.
Mereka terbentuk dalam 22 kelompok tari, dengan 2 kategori yaitu kategori kelompok dan individu sebanyak 51 peserta.
Kembali Suko Prayitno “Penjurian dalam Lomba Tari Gandrung kali ini, meliputi tiga aspek yaitu : Wiraga, Wirama dan Wirasa. Penari dituntut memenuhi ke tiga kriteria ini, setelah itu juri akan menilai costum dan dandanannya saat tampil di panggung. Semua jurinya mempunyai kompetensi di bidang seni tari. Penyelenggaraan Lomba Tari Gandrung Gurit Mangir ini terbagi menjadi tiga zona yaitu :
Zona I Diselenggarakan di Waroeng Kemarang dengan peserta para pelajar yang berdomisili di wilayah Kecamatan Banyuwangi, Giri, Glagah, Kalipuro, Licin dan Wongsorejo, “kata Suko.
Zona II
Diselenggarakan di Hotel El Royal dengan peserta pelajar dari Kecamatan Blimbingsari, Kabat, Rogojampi, Songgon, Muncar dan Srono.
Zona III
Diselenggarakan di Hotel Surya Jajag dengan peserta pelajar dari Kecamatan Purwoharjo, Cluring, Tegaldlimo, Bangorejo, Gambiran, Siliragung dan Pesanggaran.
Zona IV
Diselenggaran di Hotel Mahkota Indah Genteng dengan peserta pelajar dari Kecamatan Singojuruh, Sempu, Genteng, Tegalsari, Glenmore dan Kalibaru.
(Hariyanto)


Komentar