oleh

Gesah Budaya di Galery Kawitan Banyuwangi

Galery Kawitan  berkesempatan menjadi tuan rumah acara Diskusi bertemakan Membaca Estetika Sekitar Forum ini dikemas dengan  Komunikatif. Selain sebagai forum diskusi yang membahas bagaimana membaca estetika sekitar, acara ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi antara pelaku seni rupa, budayawan , pelaku seni tari, seni teater . Gesah bersama budayawan Banyuwangi di Galeri Kawitan . Ada sesuatu yang menarik  puluhan pemerhati budaya dan pelaku seni Banyuwangi berkumpul sambil gesah malam itu,  mereka juga berdiskusi tentang berbagai hal seputar sosial – budaya dan filosofi masyarakat Banyuwangi, Sabtu Malam Minggu (20/02/21)

Gesah yang dikemas sambil ngopi itu dihadiri akademisi dan pemerhati sosial- budaya maestro seni lukis S. Yadi K. merangkap tuan rumah,  Sastrawan Fatah- Yasin Noor, Saham Sugiono – Ketua III DKB , Imam Maskun – Ketua Yayasan Langgar Art,  pemerhati  sejarah dan  spiritual Kjn. Ilham  dan pemerhati adat,  budaya dan sejarah -Ali Momo, Aby dari Studio Klampisan  serta beberapa komunitas-komunitas milenial, pelaku seni dan budaya.

WhatsApp Image 2021-02-23 at 19.29.33

Hadir pula sebagai moderator sekaligus pemantik diskusi, Dwiki Dwinugroho Mukti , pegiat budaya dari Kemendikbud.   Melalui diskusi  ini, Dwiki berharap kegiatan diskusi seperti ini  digunakan sebagai ajang reaktivasi studi  galery kawitan yang sudah vakum kurang lebih 2 tahun, sebagai ajang pemetaan intelektual seni di Banyuwangi untuk kemudian dapat menjadi pantikan kegiatan yang selanjutnya, membuka peluang untuk lebih lanjut  berkolaborasi  untuk melakukan eksplorasi seni budaya dan adat istiadat yang ada di Banyuwangi kedepan.
Sedangkan Aji Krisna ” Jibon” pengelola Galery  Kawitan,  berharap peran para budayawan sangat diperlukan untuk menggali budaya dan adat istiadat sendiri sehingga pemahaman generasi mendatang tentang Banyuwangi bukan hanya didapat selain  dari bahasa tutur, juga  untuk menjaga situs-situs budaya maupun wisata alam yang ada di Banyuwangi, ungkap Aji.

Melihat beberapa permasalahan di atas, yang hadirpun menyatakan kesanggupannya dalam membantu pengelolaan walau pun budaya dan wisata di Banyuwangi belum optimal di berdayakan.  Harapan Aji dipertegas  oleh S. Yadi K. maestro seni lukis Banyuwangi,

“Dalam budaya Banyuwangi Gesah merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan masyarakat dengan tujuan untuk membahas berbagai permasalahan yang ada di masyarakat, yang bisa dilakukan secara santun. Tradisi Gesah hampir terlupakan dalam masyarakat sekarang ini, padahal Gesah merupakan sarana yang tumbuh dari masyarakat yang bercirikan kehidupan di Banyuwangi.  Dalam hal budaya, adat istiadat  dan pariwisata  pengembangannya sudah luar biasa berkembang dengan baik,   namun secara individu banyak seniman yang telah mengukir nama di tingkat nasional maupun internasional, seperti Mozes Misdy ( almh ), “tambah S. Yadi.

WhatsApp Image 2021-02-23 at 19.30.02

Malam itu ketika  membahas Tradisi Osing, Kjn. Ilham  berpendapat  ” Bagi masyarakat Osing agama merupakan media atau cara beribadah kepada sang Khaliq. Sedangkan tradisi adalah konsekuwensi yang muncul dari tanah kelahiran”.  Bagaimana Suku Osing atau orang Blambangan juga tak kalah hebatnya mempertahankan kearifan lokal karena dinilai sangat erat dengan keluhuran budaya dan budi pekerti. Masyarakat Osing Banyuwangi sudah terbiasa dan sangat kuat mempertahankan tradisinya hingga saat ini. Melihat kenyataan seperti ini agar kita bersikap bijaksana dan lapang dada agar tatanan kehidupan masyarakat tetap tenteram dan damai dengan balutan multikultur, “ungkap Ilham

Imam Maskun, turut  menyampaikan bahwa  untuk membahas Kebudayaan Banyuwangi, kita harus memahami masyarakatnya dan untuk  itu  realitasnya bisa ditinjau dari berbagai sudut pandang yang berbeda termasuk harus ikut pula  mempelajari sejarahnya.

WhatsApp Image 2021-02-23 at 19.28.30

“Presepsi berkesenian  dalam hal ini juga harus diselesaikan dengan paradigma baru yang diasumsikan sebagai suatu proses yang berlangsung terus-menerus dengan memelihara simbol-simbol, kita memanusiakan manusia dengan memelihara kebudayaan, katanya.  Tambah Imam, gesah dan diskusi seperti malam ini harus diagendakan menjadi rutinitas dengan memanfaatkan medsos sebagai pendukung utamanya, “pungkas Imam.

Ketika membahas gandrung Fatah Yasin Noor  sempat memprofokasi suasana gesah malam itu, “Kita tahu Marsan, lelaki penari Gandrung di zaman VOC yang terkenal, sekaligus terkenang sampai hari ini. Kita bisa bayangkan bagaimana saat Marsan menari sembari menyanyi dan belakangan menyedot perhatian khalayak. Kita ingat Mbah Marsan, kemudian ingat seniman kini yang meneruskan kepiawaian Marsan. Gerakan Gandrung yang penuh magis, dan gending-gending yang dilantunkannya. Menyayat hati,  ada rasa yang diluar bahasa. Dan penampakan, seperti sesuatu yang menjelma dalam wujud yang lain. Seperti perayaan para makhluk halus, tak kasat mata tapi bisa dirasakan kehadirannya, “pungkas Fatah.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *