Membahas perihal kopi seakan tiada habisnya,mulai awal tanam,tekstur tanah kebun, asal biji , jenis kopi, cara roasting, sampai penyajian baik yang diolah secara manual ataupun memakai alat sangrai mesin. Adapun kopi asal Banyuwangi sudah sejak lama dikenal baik nasional ataupun internasional. Contoh produk kopi terkenal asal perkebunan Malangsari, kec Kalibaru, Banyuwangi adalah biasa disebut kopi lanang Malangsari, terkenal di Eropa dengan sebutan kopi de Java.
Untuk itu dalam kegiatan Choocolate & Cofee Festival, Hari Minggu, 21 Maret 2021 bertempat di hotel Margo Utomo Hill View Resort , Jl. Gunung Putri No. 3 Desa Kaharharjo Kecamatan Kalibaru, Banyuwangi dan masih dalam rangkaian agenda Banyuwangi Festival 2021. Pemerintah daerah dalam hal ini , bekerja sama dengan kantor desa seluruh kabupaten Banyuwangi mengadakan acara pelatihan roasting kepada para pegiat kopi baik yang belum memiliki usaha ataupun yang baru merintis membuka kedai kopi /cafe. Maksud dan tujuan pelatihan ini sebagai program UMKM naik kelas dalam rangka 100 hari kerja bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani, sehingga meracik kopi atau coklat yang benar adalah keharusan agar bisa bersaing di kancah nasional bahkan internasional.

Acara pelatihan ini diawali oleh sambutan manager hotel Margo Utomo 2, bapak Sugeng sebagai tuan rumah kegiatan ini yang menyampaikan beberapa poin penting ,utamanya tetap mematuhi protokol kesehatan di lingkungan hotel, bermasker, menjaga jarak dan sering mencuci tangan diarea hotel. Lebih lanjut pak Sugeng mengatakan, sudah lama daerah Kalibaru memiliki potensi besar sebagai daerah sebagai sentra kopi rakyat ataupun yang dikelola oleh PTP (perkebunan ). Pak Sugeng menambahkan jika selain kopi ada juga produk olahan kakao yang tidak kalah dengan daerah lain di luar Banyuwangi, cita rasa yang khas dari coklat disini bisa jadi momentum untuk lebih meningkatkan mutu dari produk lokal yang bisa dikemas melalui kegiatan edukasi roasting kopi juga pengolahan berbahan coklat asli. Hadir dalam acara ini bapak camat Kalibaru Drs. H. Ahmad Nuril Falah, Msi. sebagai ketua panitia sekaligus pembuka acara pelatihan roasting untuk pegiat kopi Banyuwangi. Dalam Hal ini pak Nuril menyampaikan rasa senang kepada pemuda pemudi dari berbagai desa di pelosok Banyuwangi yang antusias mengikuti kegiatan ini, disampaikan pula ada hampir seratus orang yang ikut dalam pelatihan ini walaupun dalam kondisi pandemi ,sama sekali tidak menyurutkan niat untuk datang dalam kegiatan ini. Beliau memberikan keterangan sedikit tentang sejarah kopi Kalibaru dan menekankan jika kopi perkebunan Malangsari sudah lama dikenal oleh masyarakat luas dipasar lokal, nasional bahkan internasional. Karena sebagai penghasil kopi asli dari Kalibaru, sebutan kopi asli Banyuwangi di Eropa menjadi kopi van Java, bukan brand Malangsari, Kalibaru, setelah melalui proses di Dampit, kota Malang baru setelah itu di ekspor ke mancanegara. Tidak dipungkiri dari perkebunan Malangsari dalam satu tahun bisa menghasilkan kurang lebih 3000 ton kopi siap ekspor. Pak Camat menambahkan ada asosiasi petani kopi Kalibaru yang saat ini sedang memproses kopi robusta wine sebagai andalan untuk di pasarkan ke kancah nasional. Melalui proses natural sangrai kopi wajan dan tungku api sebagai daya tarik, ada pula yang menggunakan proses roasting menggunakan alat yang modern, semata mata agar kopi Malangsari ini bisa sebagai raja di kota sendiri. Pria kalem dan bersahaja ini menerangkan jika kegiatan nantinya akan diimplemantasikan ke desa desa melalui gerobak pintar dan disetiap desa ada semacam booth/warung berbentuk gerobak yang produknya disuplai dari kopi Banyuwangi asli, yang di kemas atau packing dalam bentuk shaset seperti produk kopi shaset luar kota Banyuwangi yang didalam bungkus (shaset kopi) tersebut estimasi kadar kopi aslinya hanya 20 % dan jika ini berjalan dengan baik maka akan di ubah dalam kemasan shaset milik pelaku usaha kopi Banyuwangi nantinya kadar bubuk kopinya nanti 80% sisanya bahan penunjang kopi siap saji. Ini merupakan terobosan luar biasa bagi dunia ‘perkopian’ Banyuwangi yang bisa naik kelas… dalam artian kelas sebenarnya, sejajar bahkan melibihi produk kopi luar kota Banyuwangi.

Di akhir sambutannya pak Nuril berpesan agar terus belajar dalam mengambil intisari edukasi pelatihan ini agar nantinya bisa bermanfaat untuk kemajuan kopi asli Banyuwangi khususnya dan produk coklat asli lokal Banyuwangi agar bisa bersaing secara sehat di tingkat nasional.
Disela sela kegiatan pelatihan ini, kami sempat berbincang dengan salah satu peserta pelatihan yang bernama Alif, pemuda asli Desa Suko, kec. Kalipuro Banyuwangi ini sangant senang bisa menimba ilmu oleh mentor peracik kopi asli Banyuwangi. Alif yang dalam hal ini mewakili Waroeng D’Lakon yang beralamat di jalan Borobudur No. 4 (utara Pemda Banyuwangi) bertutur ingin menambah teman dan pengalaman meracik kopi yang baik dan benar agar bisa dipraktekkan langsung di waroeng D’Lakon nantinya.
Puncak acara di Festival Choocolate and Cofee digelar besoknya, Senin, 22 Maret 2021 yang di hadiri bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiestiandani. Hadir pula kepala Dinas kebudayaan dan Pariwisata Banyuwangi, M Bramuda, kepala desa se Kalibaru dan Pengusaha Kopi termasuk pegiat kopi Banyuwangi. Acara dibuka oleh Bupati Banyuwangi, dalam pidato singkat nya bupati mengapresiasi pemuda dan pemudi kota banyuwangi yang selalu berfikir untuk maju dan full inovasi juga saling mendukung satu sama lain tanpa pelit ilmu. Ditambahkan nantinya bupati berpesan setelah pelatihan ini diharapkan bisa terus menjalin komunikasi antar peserta, contohnya melalui dibentuknya grup WA pelatihan roasting kopi ini.
“Pemerintah akan selalu mendukung dan memfasilitasi anak anak muda pelaku UMKM dan star up tersebut. Tujuannya agar menjadi usahawan mikro handal yang bisa dibanggakan dikemudian hari dipadu program gerobak atau warung pintar disetiap balaidesa tanpa meninggalkan kearifan lokal budaya Banyuwangi. Sebelum meninggalkan podium acara bu Ipuk berpesan agar petani kopi dan pelaku usaha bisa membangun sinergisitas yang baik melalui kegiatan kegiatan semacam ini dan tentu pada akhirnya tujuan utama adalah untuk kesejahteraan masyarakat sebagai estafet kepemimpinan sebelumnya dan untuk menjaga agar program yang baik ini bisa berkesinambungan, ” pungkasnya.
Leo Prada


Komentar