Bakesbangpol memandang posisi strategis media sebagai akses informasi untuk berperan dalam upaya menangkal penyebaran faham radikalisme. Hal ini disampaikan pada Sarasehan Wartawan Media Cetak, Elektronik dan Online denga. Tema “Peran Media dalam Menangkal Penyebaran Faham Radikalisme dan Terorisme, Kamis 29 April 2021 di Auditorium Untag Banyuwangi.
Seperti maraknya isu radikalisme terkait tenggelamnya kapal selam Nanggala 402 pemerintah daerah berupaya hal itu tidak terjadi di Banyuwangi.
” Kami berharap media mengambil peran dalam mencegah paham radikalisme,” ujar Drs.H. Abdul Aziz Hamidy, MM. Kepala Bakesbangpol Banyuwangi.

Selain persoalan isu radikalisme, Kaban Kesbangpol juga memaparkan Kondisi Banyuwangi yang saat ini telah masuk ke zona oranye.
“Setiap sendi masyarakat terdampak covid 19. Dalam bbrp hari terakhir Banyuwangi masuk data korban teratas (kabupaten terbanyak sumbangan) penyebaran covid 19 di Jawa timur,” ujarnya.
Dalam skala nasional diambil kebijakan larangan mudik. Bakesbangpol meminta media menyampaikan pada masyarakat bahwa keputusan ini sebagai bentuk perlindungan.
” Kita tidak ingin penyakit ini tidak bisa dikendalikan. Kebijakan pemerintah pusat larangan mudik tolong disosialisasikan dan didukung pihak pers,” ujar kaban.
Media juga diminta terus mengimbau 3 M dan menjaga protokol kesehatan.
Dampak lainnya adalah meningkatnya pengangguran, pendapatan dan pertumbuhan ekonomi minus, kemiskinan meningkat. Beberap hari terakhir ini pemerintah konsern pada peningkatan pertumbuhan ekonomi dengan bbrp jalan. Diantaranya UMKM naik kelas, wenak ( warung naik kelas) untuk menggerakkan kembali perekonomian. Pemerintah melihat peran dan ketahanan UMKM dalam kondisi krisis ekonomi. Maka pemerintah meminta peran media untuk mendukung.
” Mari kita beritakan hal2 yang menyemangati masyarakat, hal positif dan konstruktif,” pungkas Abdul Aziz.
Iptu Lita Kurniawan, S.Sos,
Kasubag Humas Polres Banyuwangi menyoroti strategi radikalis dalam menyebarkan pahamnya. Menurut Iptu Lita, cara-cara inilah yang membuat orang secara tidak sadar tertanam paham radikalisme.
” Awalnya Mereka memarginalkan objek sebagai strategi doktrinasi,” kata Lita.

” Kamu adalah warga yang tidak berdaya, tidak dipedulikan oleh pemerintah,” tutur Lita.
Namun dalam perkembangannya kelompok radikalis mampu menjaring latar belakang yang lebih beragam, hingga menjangkau akademisi.
Lebih lanjut, Lita mengingatkan pernyataan Said Aqiel Siradj ketua PBNU bahwa radikalisme berawal dari intoleransi dan itu bukan budaya Indonesia. “Apa yang mereka (radikalis) lakukan sangat bukan Indonesia,” ujar Lita.
Lita juga mengingatkan bahwa peran media, informasi yang berulang akan memiliki pengaruh besar dan dianggap benar baik itu informasi yang menyesatkan maupun informasi yang benar.
Pemateri selanjutnya, H. Ikhwan Arief, SHi, MP. Ketua PC GP Ansor Banyuwangi mengajak insan pers merunut kembali kepada sejarah perkembangan Islam.
“Merujuk pada sejarah, Sayyidina Ali sahabat nabi mati di tangan orang Islam ,begitu juga cucu-cucu Rasulullah Hasan dan Husen. Pelaku adalah orang2 Islam yang taat beribadah namun telah tertanami paham Radikalisme,” papar Ikhwan.
Menurut Ikhwan dua organisasi besar di Indonesia, Muhammadiyah dan NU banyak berbicara soal fiqih, sehingga lebih banyak diskusi dan dialog dan tidak berdampak pada radikalisme.
Ikhwan menyebut, Wahabi dan Salafi adalah ajaran ekstrimis yang menjadi benih pintu masuk terorisme dan melahirkan aliran radikal.
“Ada dua aliran ekstrim, JAT yang menargetkan orang2 non-muslim sebagai target dan disebut kafir lalu JAD yang menghalalkan darah orang muslim,” papar Ikhwan.
Lebih lanjut, Ikhwan mengatakan NU melakukan upaya mencegah penyebaran Radikalisme secara massif dengan berbagai kegiatan diantaranya Kolaborasi dengan Densus 88, Kodim serta Polres. Selain itu GP Ansor juga membuat media sosial yang mengimbangi konten-konten radikal.
Ikhwan berharap media berperan aktif dalam mencegah penyebaran Radikalisme ini. “Jangan beri ruang setitik pun bagi mereka (radikalisme),” ujar Ikhwan menutup materi. (Indah)


Komentar