oleh

DIKLAT PEMBELAJARAN KEKINIAN DI PPM AL AZHAR MUNCAR

Tuntutan K-13 dan AKM di era pandemi mendorong pengajar dibawah naungan PPM Al Azhar Muncar melaksanakan diklat yang diikuti 38 guru SMP dan Madrasah Aliyah Unggulan Al Azhar yang mengajar mapel umum serta 2 staf TU. Kegiatan bertajuk “Pembelajaran Kekinian” dilaksanakan di aula di Ponpes yang berada di Desa Tembokrejo, selama 2 hari yakni tanggal 9 -10 September 2021.

Pemateri yang dihadirkan adalah Fasilitator Pendidiian Program Prioritas, Edy Siswanto,S.Pd guru SMPN 1 Purwoharjo dan Yeti Chotimah, M.Pd guru SMPN 3 Rogojampi.
Pengasuh PPM Al Azhar, KH.Abdillah As’ad,Lc dalam sambutannya menyampaikan bahwasannya menuntut ilmu itu wajib. Sehingga harapannya seluruh terlebih bagi dewan assatidz yang menerapkan hasil kuliah dengan tuntutan jaman serta menyiapkan kader ummat kebangsaan di masa depan. “Kami berharap pelatihan 2 hari bisa diterapkan dalam 2 bulan ini yang 2 tahun lagi mesti kita segarkan lagi karena ilmu itu terus berkembang.Dan bagaimana suasana kelas menjadi hiburan santri yang 24 jam tinggal di pondok, ” ungkap beliau seraya mencontohkan sejarah para alim mengembangkan ilmu dan mengamalkannya dengan ikhlas mengharap Ridho Allah.

IMG-20210909-WA0049

Sedang Yeti Chotimah, M.Pd mengungkapkan “Jangan paksakan peserta didik seperti kita, tapi siapkan murid kita bisa mencari solusi menghadapi tantangan dan hambatan di masa depan dengan keunikan dan potensi masing-masing dengan juga bekali dengan akhlak berbudi luhur. Bagaimana pula peserta didik mempunyai keberanian bemimpi setinggi-tingginya, “tuturnya.

IMG-20210909-WA0047

Ditambahkan Edy Siswanto S.Pd yang mantan Ketua MGMP IPA dengan menyitir ungkapan tokoh Taman Siswa dan Mantan Mendikbud bahwasannya bila pengajar tidak mau belajar maka hakekatnya sudah bukan guru lagi.
sementara itu, ustadzah Via Rista Indriyana, S.Pd yang mengajar matematika senang dengan metode dan strategi yang dimodelkan narasumber. “Walau ada yang pernah didapatkan pada lokakarya serupa, namun kali ini bisa mengrefresh untuk menggali kreativitas guru dan potensi literasi peserta didik. Dan pandai-pandainya kita menyesuaikan dengan sikon murid yang mukim di pondok, tentu berbeda dengan sekolah non-pondok. Yang jelas, teman sejawat senang diharap murid juga bisa gembira dengan proses belajar-mengajar yang menyenangkan yang tumbuhkan aura positif, ” tuturnya dengan senyum.(Aguk)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *