BANYUWANGI – Sosok pria yang tidak asing dikanca pergerakan Aktivis Banyuwangi, ternyata dirinya seorang pencipta lagu yakni Slamet Santoso (50) alias Mbah Geger.
Slamet Santoso lahir di kota Jajag, namun kini dirinya tinggal di Dusun Krajan Desa Kebaman Kecamatan Srono. Selain seorang aktivis Forum Kawulo Alit Bersatu, dirinya adalah tim aksi pergerakan Promeg 96 juga sekertaris Baguna di PDI Perjuangan Banyuwangi.
Aktivis satu ini sudah menciptakan lagu sebanyak 6 judul lagu, 2 lagu sekarang viral di dunia mensos 2 judul lagu itu adalah “Rupo Lan Dunyo” dan “Duren Montong”.
Saat ditemui Slamet Santoso disela – sela kesibukannya ia menceritakan lagu – lagu ciptanya karena realita kehidupan sehari – hari.
“Lagu yang saya ciptakan kebanyakan cerita kehidupan sehari – hari. Makanya lagu itu ketika dibawakan oleh biduan sangat menyentuh hati. Sampai – sampai yang menyanyikan meneteskan air mata.” Terangnya.
Hampir semua lagu yang diciptakan berbahasa Oseng, Aransemen musik karya bergenre musik tradisional yakni musik kendang kempul. Tak ayal, lagu yang diciptakan banyak menarik perhatian produser rekaman di Banyuwangi.
“Sebenarnya lagu karya saya banyak, semua juga sudah dinyayikan. Namun yang lagi ngebum saat ini berjudul ‘Rupo Lan Dunyo’, dan ‘Duren Montong’ .”Ucapnya
Untuk menciptakan sebuah lagu, Mbah Geger hanya membutuhkan alat musik berupa guitar. Dari petikan nada – nada yang dikaitkan dengan pengalaman hidup, sebuah karya lagu bisa diciptakannya dengan sekejap.
Dari kegemarannya bermain musik, mbah Geger berhasil menciptakan lagu bernada indah dengan sentuhan irama yang terkadang menyayat hati bagi yang mengalunkan.
Mewujutkan cerita menjadi sebuah lagu Mbah Geger hanya memerlukan alat musik berupa gitar saja.
“Alatnya cuman gitar,” katanya.
Dari karyanya itu dia berharap kemajuan industri musik asli Daerah Banyuwangi dapat berkembang dengan pesat. Karena musik Banyuwangi memilki ciri khas dan keunikan tersendiri, maka lagu – lagu Oseng mampu menembus pasar musik di Indonesia.
“Saya berharap musik Banyuwangi terus berkembang dan bisa melahirkan bibit – bibit berjiwa seni, supaya musik daerah ini tetap lestari,” pungkasnya. (Rony),


Komentar