Agenda pameran lukisan yang bertajuk Artos Kembang Langit berlangsung 10 – 22 Desember 2021 di Gedung Juang Banyuwangi.Sejumlah tokoh nasional menghadiri pameran ArtOs Kembang Langit beberapa waktu lalu. Mereka antara lain, kolektor-pengamat lukisan Melani W. Setiawan dan OHD menghadiri pameran ArtOs Kembang Langit. Termasuk tokoh pers Agus Sudibyo, seniman Sujiwo Tejo, dan sastrawan Nirwan Dewanto. Mereka tidak bisa menahan rasa kagumnya terhadap pameran nasional Artos Kembang Langit.
Pameran lukisan ini menampilkan karya 52 perupa asal Banyuwangi yang lolos seleksi kurator nasional Agus Dermawan T. plus puluhan karya pelukis undangan seperti Katirin, Nasirun Mas Dibyo, Koeboe Sariawan , Hartono , dan lain sebagainya. Masyarakat yang datang bisa menyaksikan 120 karya lukis dan belasan seni instalasi manequin dan beberapa karya patung. Karya-karya tersebut ditata menarik, sehingga pengunjung bisa menikmatinya dengan nyaman. Para seniman yang terlibat dalam pameran seni antara lain S Yadi K, Awiki, Abd.Azis, Windu Pamor, Sugilaros, Ilyasin, Joko Sutrisno, dan lainnya juga ditampilkan Mozez Misdy, Bani Amora ( keduanya sudah almarhum ).

Dalam pameran ini, pengunjung akan melihat berbagai karya pelukis terkenal S Yadi K, Mozes Misdy, Katirin, Mas Dibyo , Edi Sunaryo hingga Awiki. Tidak hanya itu, pengunjung juga bisa membeli lukisan yang dipamerkan tersebut. Harganya variatif. Ada juga lukisan di atas kanvas berukuran 140 x 300 cm karya Awiki berjudul Pasar Bunga “Lukisan ini memang istimewa, milik pelukis Awiki. Keistimewaan Awiki adalah seorang pelukis dengan keterbatasan fisiknya. Namun, dia dapat menghasilkan karya-karya yang menumpahkan cat tebal ke dalam bentuk-bentuk , sehingga tervisualisasi karya lukis impresi yang tak kalah bagusnya dengan perupa-perupa lain yang berkelas dunia. Lukisan goresan paletnya yang berjudul Pasar Bunga akhirnya dilepas ke kolektor mancanegara. Harganya pun fantastis dan menjadi pemecah rekor harga lukisan yang terjual di Pameran ArtOs Kembang Langit, yakni Rp 2,4 miliar dan menjadi pemecah rekor untuk pameran – pameran lukisan di kota Kabupaten seperti Banyuwangi.
Salah satu lukisan karya Awiki, pelukis asal Banyuwangi yang kini menetap di Bali , terjual begitu fantastis seharga Rp 2,4 miliar. Lukisan berukuran 300 x 140 sentimeter berjudul ”Pasar Bunga” yang dipamerkan dalam ajang Artos Kembang Langit di Gedung Juang 45 Banyuwangi.
Tidak hanya dari sisi penyelenggaraan, tetapi juga dari angka penjualan yang mencapai kurang lebih Rp 3,1 miliar hasil penjualan lukisan lebih dari 21 buah termasuk karya Awiki.
Awiki adalah Seorang pelukis hebat asal Banyuwangi yang sekarang bermukim di Bali, karyanya sangat diminati para kolektor nasional maupun internasional” kata Imam Maskun , ketua Panitia.
Sebagai Ketua Panitia Pameran ArtOs Kembang Langit Imam Maskun sangat menginginkan agar setelah sukses perhelatan tahun ini, pihaknya berencana menggelar ajang serupa secara berkelanjutan, ujarnya. Selain itu lanjut Imam dari sisi transaksi, ArtOs Kembang Langit sukses besar. Untuk ukuran pameran yang digelar kali pertama di tingkat kabupaten, nominal transaksi yang mencapai Rp 3,1 miliar bahkan mungkin akan terus meningkat sampai penutupan nanti , ini nilai penjualan sangat besar , tambah Imam. Lukisan Pasar Bunga karya Awiki memecahkan rekor penjualan di pameran lukisan spektakuler ArtOs Kembang Langit Banyuwangi. Lukisan yang dipajang di lantai bawah pameran itu, laku Rp 2,4 miliar. Pembelinya, adalah seorang kolektor dari luar negeri.
Penyematan pita merah tanda terjualnya lukisan Pasar Bunga karya Awiki ini dilakukan oleh Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani Azwar Anas, di Gedung Djuang 45 Banyuwangi, Senin malam (20/12/2021). Bupati Ipuk mengapresiasi terjualnya lukisan berukuran 300 X 140 cm itu. Dikatakan Bupati Banyuwangi Ipuk Azwar Anas, saat menyematkan pita merah ke lukisan Awiki, pameran Artos Kembang Langit ini sebagai panggung bagi seniman untuk menampilkan karya-karyanya.
Ipuk menambahkan, dirinya atas nama Pemkab Banyuwangi mengapresiasi pameran seni ArtOs Kembang Langit yang digeber untuk memperingati Hari Jadi Banyuwangi (Harjaba) ke-250 tersebut. Dia juga menyatakan siap mendukung kegiatan seni-budaya di kabupaten ujung timur pulau jawa ini.
Ini menjadi penanda kebangkitan dunia seni rupa Banyuwangi, ujar bupati Ipuk. Ucapan selamat pun disampaikan Bupati Banyuwangi Ipuk Fiestiandani kepada Awiki, pelukis nasional yang lahir di Surabaya, besar di Genteng – Banyuwangi, dan menetap di Bali.
“Beliau pelukis hebat. Mudah-mudahan lukisan ini bisa dinikmati pencinta seni mancanegara,” ujar Ipuk Festiandani.
“Kami bersyukur dipertemukan dengan teman-teman yang mempunyai kecintaan dengan dunia seni. Sehingga ini menjadi warna bagi Banyuwangi, tidak hanya pariwisata, tetapi kesenian dan budayanya yang terus tumbuh,” kata Bupati Ipuk.
Juga sebagai sarana melahirkan seniman-seniman baru di Banyuwangi yang karya-karyanya tak kalah dengan Bali, Surabaya , Jogya dan Jakarta sebagai barometer seni rupa nasional.
“Pameran ini memberi ruang bagi seniman Banyuwangi untuk menampilkan karyanya di tingkat nasional. Harapan kami, dengan pameran nasional ini digelar akan melahirkan karya-karya seni lukis berskala nasional bahkan internasional dengan karya-karya yang menarik,” katanya.
“Kami juga berharap, pameran ini menjadi sarana para seniman berdiskusi dan bertukar pikir untuk perkembangan seni Banyuwangi ke depan,” kata Ipuk .
Sementara Menurut Lely Murwiki, Putri perupa Awiki, yang juga merangkap manajernya , “Ide lukisan itu berasal dari aktivitas Pasar Bunga Bandungan, Kabupaten Semarang, Jawa Tengah. Dulu banyak pedagang bunga yang datang ke ayahnya untuk menjual dagangannya,” tambah Lely.
Membutuhkan kurang lebih 10 kardus cat minyak dengan berat bersih masing – masing 200 mili liter. Itungan itu dengan asumsi untuk lukisan ukuran 100cm x 125 cm bisa menghabiskan 3 dos cat minyak. Demi menjaga kualitas agar tidak mudah berjamur, kata Lely Murwiki, ayahnya memilih cat minyak berkualitas tinggi dengan harga yang menguras dompet. Cat minyak pada lukisan berjudul Pasar Bunga bukan yang murahan.
“Bapak biasa menggunakan cat minyak jenis Rembrandt, Van Gogh dan Winton. Cat minyak itu harus kami order di Bandung dan Jakarta karena stok di Bali sedikit. Kadang order di Bali tapi barang tetap didatangkan dari Jakarta,” ungkap Lely Murwiki.
“Selain lukisan Pasar Bunga yang sekarang dipajang di Pameran ArtOs Kembang Langit Banyuwangi, masih ada puluhan lukisan koleksi pribadi lainnya. Lukisan itu ada yang pakai kuas di awal Papa melukis sampai lukisan palet yang masih tipis – tipis,” pungkasnya.(Ilham Triadi)


Komentar