Mengapa selama ini bahasa Osing masih disebut sebagai dialek, salah satu materi Gesah yang dilaksanakan di cafe D’lakon, Rabu, (19/01/22)
Gesah yang dikemas sambil ngopi itu dihadiri akademisi, Bappeda dan DKB, antara lain: Kundofir ( Bappeda), Agus (Bappeda), Hasan Basri ( DKB), Qowim ( DKB), Miskawi ( UNIBA), dan I Kadek Yudiana (UNTAG).
Awal Gesah, tidak lain berdasarkan hasil penelitian Awaludin Rusiandi, dkk, 2007.Hasil penelitian kekerabatan dan pemetaan bahasa-bahasa di Jawa Timur adalah sebagai berikut. Pertama, berdasarkan penghitungan leksikostatistik dan pengakuan penuturnya, di Jawa Timur terdapat lima bahasa, yaitu bahasa Jawa, Madura, Osing, Bali, dan Bajo. Akan tetapi, berdasarkan analisis dialektologi diakronis melalui penghitungan dialektometri, isolek Osing ternyata masih merupakan anggota bahasa Jawa. Oleh karena itu, pengakuan penutur isolek Osing mengenai isolek Osing sebagai bahasa tersendiri gugur sehingga dapat disimpulkan bahwa bahasa di Jawa Timur hanya ada empat, yaitu bahasa Jawa, Madura, Bali, dan Bajo.
Berdasarkan permasalah diatas, I Kadek Yudiana mengatakan “Bahasa Osing saat ini hanya diakui sebagai dialek belum mendapat mengakuan sebagai bahasa daerah. Problematika ini harus disikapi dengan serius mengingat kajian atau riset tentang kebahasaan bahasa Osing belum pernah dilakukan. Hal ini berdampak pada lemahnya pengakuan terhadap bahasa Osing itu sendiri. Ada dua hal yg urgen saat ini, yaitu: pertama, bagaimana upaya untuk mendapatkan pengakuan terhadap bahasa Osing. Sedangkan yang kedua, bagaimana membangun pondasi kaidah tata bahasa Osing itu sendiri. Untuk melakukan hal tersebut dibutuhkan riset secara mendalam, ” Ungkap Ka.Prodi di Untag Banyuwangi.
Qowim juga sependapat terkait riset, maka ada beberapa tahapan dalam penetapan bahasa Osing sebagai bahasa daerah harus melalui beberapa langkah, diantaranya Pertama adalah dilakukan penelitian dialektologi. Melalui penelitian ini akan diketahui status kebahasaan sebuah isolek. Setelah statusnya diketahui, dilakukan penelitian mikrolinguistik yang terdiri atas penelitian sistem fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Penelitian ini berguna untuk menyusun tatabahasa. Baru setelah itu sebuah bahasa bisa diajarkan di sekolah.
Diakhir gesah, Hasan Basri menekankan tahapan penelitian ini memperkuat pembelajaran muatan lokal bahasa Osing, tambah Ketua DKB.
Dengan berbagai permasalahan ini, beberapa langkah perlu dicarikan solusinya. Menurut Agus In’ amullah, S.IP ( Bappeda Banyuwangi) “Dengan semangat Banyuwangi rebound harus ada upaya percepatan dan lompatan penelitian analisis dialektologi diakronis sehingga bahasa Osing di akui sebagai bahasa, ” (Misk).


Komentar