oleh

Fakultas MIPA Universitas Bakti Indomesia Gelar Kuliah Tamu Dengan Menghadirkan Bupati Banyuwangi Sebagai Keynote Speaker

Cluring – Kuliah tamu bertemakan “Sinergi Pemerintah Daerah & Perguruan Tinggi Dalam menumbuhkan Iklim Berwirausaha, Potensi dan Kapasitas Usaha di Daerah Melalui Implementasi Ekosistem Halal” di gelar oleh Fakultas MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam) Universitas Bakti Indonesia Sabtu, (16/04/2022) bertempat di Aula UBI. Kuliah tamu yang dibuka oleh Kepala Bappeda (Badan Perencana Pembangunan Daerah) Kabupaten Banyuwangi Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si. Ini diikuti oleh seluruh mahasiswa dari berbagai fakultas yang ada di Kampus yang sangat asri dan luas di Kecamatan Cluring tersebut.

Hadir sebagai tamu undangan perwakilan Baznas Kabupaten Banyuwangi, pelaku usaha, salah satunya pengrajin Batik di Kabupaten Banyuwangi. Acara yang dihadiri juga oleh Rektor Universitas Bakti Indonesia Dr. Haya, S.HI., M.PdI serta Ketua PGRI Jawa Timur Drs. H. Teguh Sumarno, MM., mendatangkan narasumber Dr. H. Edi Purwanto, STP., MM selaku Presiden Yayasan Insan Cita Agro Madani (ICAM). Sedangkan yang bertindak sebagai Keynote Speaker adalah Bupati Banyuwangi Hj. Ipuk Fiestiandani, S.Pd.

Dalam sambutan dan paparannya, Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si. yang sekaligus mewakili Bupati Banyuwangi, mengawalinya dengan motivasi dan kisah inspiratif dari Kecamatan Genteng Banyuwangi. Dimana pada tahun 2017 ada siswa Madrsah Aliyah swasta yang memiliki inisiasi usaha sehingga mengantarkan dia menjadi pemenang dalam ajang kewirausahaan, yakni dengan cara menggandeng ibu-ibu rumah tangga di lingkungannya untuk membuat olahan makanan rumahan dan memasarkan produknya di perkantoran wilayah Kota Genteng dengan omzet per harinya mencapai 300 porsi dengan harga 13 ribu hingga 15 ribu.

“Bapak, ibu saya menawarkan makan siang, makanannya a,b,c,d dan akan saya share di pagi hari jam 6, nanti ibu baru mau beli harganya cukup 13 ribu saja sampai 15 ribu. Diantar di tempat, sehat, hieginis, masakan rumah tangga asli bukan warung bukan restaurant. Si anak tadi bekerjasama dengan temannya satu sekolah yang ngojek khusus Genteng saja, satu kali ngantar makanan itu, dia diberi honor dua ribu saja. Anak ini hanya mengambil seribu per ongkos. Omzet terakhir, dia di Genteng saja 300 porsi makanan rumahan setiap hari, “Cerita Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono yang akrab di panggil Pak Yayan itu.

IMG-20220418-WA0004

Selanjutnya dalam paparannya terkait implementasi ekosistem halal, Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono menjelentrehkan bahwa ekosistem adalah rangkaian struktur sistem yang saling berkaitan kemudian secara sukarela mendapatkan suatu fenomena tertentu. Ditambahkan pula bahwa Ekosistem ada dua macam yaitu ekosistem sosial dan ekosistem alam, dimana ekosistem alam terbentuk secara alamiah sedangkan ekosistem sosial terbentuk dengan kekuatan masing masing. Berdasarkan data pada tahun 2015 penduduk muslim dunia sekitar 1,8 milyar dari 6 milyar penduduk dunia, kurang lebih di angka 24% sampai 25% dan diprediksi pada tahun 2030 nanti akan ada kurang lebih 2,2 milyar penduduk muslim di dunia.
“Ini pangsa besar untuk kita semuanya bukan hanya adik-adik. Mengapa saya sampaikan? Karena non muslim sedang mengambil ceruk peluang itu. Non muslim saja ngambil kok kita tidak, “heran Dr Suyanto.

Kepala Bappeda Kabupaten Banyuwangi itu, juga menyampaikan bahwa di Korea, Jepang dan Taiwan ceruk peluang tersebut telah di ambil. Pertanyaannya adalah Mengapa mereka mau mengambilnyal? karena hal tersebut, bukan hanya konsep ajaran agama tetapi sudah menjadi gaya hidup, gaya perilaku orang dengan menkonsumsi makanan halal.

“Maka dari itu, ceruk ini perlu menjadi pemikiran kita semua dan dimulai dari sekarang bukan besok, bukan menunggu lulus, keliru kalau menunggu lulus untuk enterprenuer, untuk masuk masuk ke sistem syariah. Keliru kalau nunggu lulus. Lulus adalah stempel anda selesai belajar tetapi pergerakan hati ingin bekerja, masuk ke level halal dimulai dari sekarang, “pesan Dr, Suyanto yang merupakan mantan dosen UBI dihadapan mahasiswa peserta kuliah umum dengan semangat.

IMG-20220418-WA0003

Lebih lanjut, Dr. Suyanto mengatakan untuk gaya hidup halal tidak berkaitan dengan nilai moral, nilai-nilai agama tetapi bergaya dengan logika berfikir manusia. Dengan memberikan ilustrasi gaya hidup masyarakat di Jepang, dimana ketika makan daging sapi saja semua sudah terecord riwayatnya. Mulai dari asal sapi tersebut, siapa pemiliknya, apa jenis asupan makanannya kemudian siapa yang menyembelihnya. Sehingga proses halal yang panjang inilah seharusnya sudah dijadikan sebagai gaya hidup.

“Sudah ada riwayatnya, daging sapi ini berasal dari desa ini, yang memilhara ini, makanannya ini, disembelih oleh ustad ini pada tanggal sekian, dagingya sekian, itu semua terdaftar. Harganya mahal iya. Bahkan ada dokumentasinya, sapinya di pijet supaya dagingnya empuk. Jadi proses halal yang panjang itu menjadi gaya hidup, “tutur Pria yang pernah studi banding di sebuah desa negara Jepang terkait ekosistem halal itu.

Terkait UMKM Dr. Suyanto menerangkan ada sekitar 2000 UMKM go digital seperti Jagoan Tani yang diperuntukkan bagi petani petani yang ingin menjadi jagoan tani dan saat ini sedangkan dilombakan, ada juga Jagoan Bisnis dan Digital. Kemudian ada juga Pendampingan Kewirausahaan Kaum Muda yang menargetkan sebanyak 5000 pemuda, ada pula Pendampingan Women Prenuer diperuntukan untuk 2000 kepala keluarga perempuan, juga ada Teman Usaha Rakyat khusus alumni S1 yang dilatih untuk menjadi pendamping usaha kecil. termasuk ada program perijinan Produk Industri Rumah Tangga (PIRT) untuk umkm sebagai tanda bahwa produk olahannya telah di proses secara sehat.

“Semua itu, dapat dengan mudah diakses dan gratis, “ungkap Dr. Suyanto.

Dalam kesempatan tersebut pula Dr. Suyanto Waspo Tondo Wicaksono, M.Si. Juga menyampaikan Program Banyuwangi Rebound. Rebound sendiri diartikan melenting, oleh sebab itu, semua target kegiatan di Pemkab Banyuwangi dinaikkam berlipat lipat. Tidak hanya pemkab tetapi semua kampus, masyarakat ikut menargetkan dirinya sendiri berlipat lipat.

“Bupati berharap dan menginginkan semua menjadi Rebound Center. Tahun ini adalah tahun kebangkitan ekonomi di banyuwangi. Pertumbuhan ekonomi positif di tahun ini, semoga pandemi cepat turun. Artinya sektor ekonomi bergerak, maka waktunya mengambil peluang itu. Ambil peluang itu, “kata Dr. Suyanto

Sementara itu, Presiden ICAM Dr. H. Edi Purwanto, STP., MM mengatakan dasar hukum konsep halal adalah terdapat dalam Surat Al Baqoroh : 168 yang berbunyi “Wahai manusia! Makanlah dari (makanan) yang halal dan baik yang terdapat di bumi, dan janganlah kamu mengikuti langkah langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagimu.”

“Maka bicara halal ini, tidak sekedar halal tetapi thoyib. Makanya jelas tadi di surat Al Baqoroh ayat 168 disebutkan bahwa halal thoyib bukan halal saja.kalau thoyib itu adalah sehat dan aman, “Jelas Pria dengan sapaan Edi Ortega itu.

Jadi ketika produk itu disebut halal, maka disitu sudah masuk di dalam rantai sehat dan aman. Makanya kesadaran global itu justru lebih bagus. Kemudian Dr Edi Ortega Purwanto mengatakan regulasi halal ini ada dengan hadirnya UU No. 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal kemudian PP No. 31 Tahun 2019 tentang Implementasi Jaminan Produk Halal selanjutnya di sempurnakan di UU No. 11 Tahun 2020 dimana Undang-Undang Cipta Kerja itu, saat ini sedang di Judicial Review. Kemudian di PP No. 31 Tahun 2019 dan yang terakhir di pertajam lagi di PP No. 39 Tahun 2021.

“Jadi dasarnya hukumnya juga sudah sangat jelas mulai dari Undang-Undang, Peraturan Pemerintah, turunan PMA (Peraturan Menteri Agama) dan sebagainya, “tutur Dr. Edi Purwanto yang juga merupakan salah satu Presidium KAHMI Jatim ini

Dr. Edi juga menerangkan dengan regulasi ini, berimplikasi adanya ekosistem halal. Ekosistem halal melibatkan banyak stake holder, mulai dari kementerian, lembaga negara, pemerintah daerah kemudian perbankan dan seterusnya dan semuanya terlibat di situ. salah satu pihak yang sejak pemberlakuan Undang-undang ini sangat getol untuk menopang adalah Bank Indonesia. Sedangkan Yayasan ICAM Indonesia sendiri sudah mendapatkan kepercayaan dari Bank Indonesia sejak tahun 2020. Kegiatan ICAM adalah melakukan edukasi, pendampingan hingga membantu proses pengurusan sertifikat halal. Dan di tahun ini Bank Indonesia Jember telah mensertifikasi 20 UMKM dan 3 diantaranya adalah umkm yang berasal dari Kabupaten Banyuwangi.

Disampaikan pula, perihal strategi partnershipnya dimana banyak sekali kelembagaan yang terlibat di dalam ekosistem halal ini. Kalau di tingkat nasional itu, melibatkan Kementerian Kesehatan, Kementerian Dalam Negeri, Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan Perindustrian dan yang lainnya termasuk BPPOM juga.

“Hal ini, ekosistem halal di tingkat pusat harus diterjemahkan di daerah yaitu apa? Tentunya di dinas-dinas, mulai dari Dinas Perindustrian, Dinas Perdagangan, Dinas Pertanian harus terlibat aktif. Kalau belum aktif ya ini, harus diingatkan karena sudah menjadi amanat Undang-Undang. Kalau tidak melaksanakan amanat Undang-Undang ya keliru, “ucap Edi Ortega.

Sehingga ketika berbicara tentang Banyuwangi, Pemerintah Kabupaten Banyuwangi dengan organ teknisnya seperti Dinas-Dinas kemudian perguruan tinggi. Mengapa peran perguruan tinggi penting? Karena perguruan tinggi memilik resources dari sumber daya manusianya. Mereka yang akan menghasilkan sumber daya yang akan mensukseskan ekosistem halal ini. Perlu diketahui di dalam ekosistem halal regulasi Undang-Undang No. 33 Tahun 2014 ini, melahirkan 4 profesi baru yang pertama Auditor Halal. Kedua, Juru Sembelih Halal. Ketiga, Penyelia Halal. Dan yang keempat adalah Pendamping Halal. Edi Ortega Purwanto juga menyampaikan apa yang dimaksud Halal Value Chain Framework. Jadi bicara halal tidak sekedar bicara makanan-minuman tetapi melibatkan banyak hal selain product seperti Islamic Banking & Finance, kemudian Halal Logistic, Tracebility & Testing dan Halal Assurance system.

Sebagai gambaran Berdasarkan data yang di rilis Global State Islamic Ekonomi pada medio 2019 hingga 2020 terkait Halal Global Industri Indonesia menduduki rangking ke 5 di bawah Malaysia, UAE, Bahrain dan Saudi Arabia. Sementara di jajaran Top 10 kategori Halal Food, Indonesia tidak masuk nominasi. Kemudian Di Top 10 kategori Islamic Finance, Indonesia berada di urutan ke 5. Untuk Top 10 kategori Halal Tourism, Indonesia menempati peringkat ke 4. Di Top 10 kategori Modest Fashion Indonesia menempati rangking ke 3. Sedangkan untuk Top 10 kategori Media & Recreation dan Halal Cosmetics & Pharmaceuticals Indonesia tidak masuk rangking sama sekali.

“Itu semua terlibat. Hal seperti ini seharusnya informasi-informasi ini bahkan sosialisasi begini harusnya sudah 5 tahun yang lalu. Kenapa? Karena di undang- undang No. 33 Tahun 2014, pemberlakuan wajib halal itu sejak 17 oktober 2019, “pungkas Dr. Edi Purwanto

Untuk diketahui, acara Kuliah Umum tersebut dimoderatori oleh Agung yang berprofesi sebagai Penyelia Halal ini, berlangsung mulai jam 09.00 hingga 13.00 Wib berlangsung gayeng, peserta antusias mendengarkan paparan narasumber serta interaktif, walaupun dalam suasana Puasa di Bulan Suci Ramadhan.

Menurut Ketua Panitia sekaligus Dekan MIPA UBI Thoriq Moh. Yusuf, M.Pd. Kuliah Umum ini di lakukan dengan model hybrid yakni secara offline dan online dengan tetap memperhatikan protokol kesehatan serta diikuti oleh ratusan mahasiswa dan dosen.
Kemudian di sesi akhir acara dilakukan penandatanganan Nota Kesepakatan antara Yayasan ICAM Indonesia dengan Fakultas MIPA Universitas Bakti Indonesia dengan disaksikan Ketua PGRI Jawa Timur sekaligus Pembina Yayasan Puspa Dunia Drs. H. Teguh Sumarno, MM. (Pras)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *