oleh

Atraksi Barong Ider Bumi sebagai implementasi Tolak Bala Masyarakat Osing

Barong Ider Bumi adalah ritual tahunan masyarakat Osing. Tradisi ini merupakan salah satu ritual Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kab. Banyuwangi.

Sebuah upacara sinkretisme yang ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan masyarakat desa juga bisa dipercaya sebagai Ritual Pengusir bahaya (Tolak Bala). Tradisi ini rutin dilaksanakan pada bulan Syawal, tepatnya pada hari kedua Lebaran Idul Fitri.Upacara barong ider bumi yang merupakan ritual pengusir pagebluk yang dipercaya sebagai ritual pensucian diri dari segala kesalahan yang dilakukan selama setahun dan penyembuhan terhadap wabah penyakit. Bagi masyarakat desa Kemiren Kacamatan Glagah Banyuwangi tradisi ini telah berjalan selama puluhan tahun, setiap tahunnya diperingati hari kedua lebaran idul fitri, seperti tahun 1443 hijriah ini bertepatan hari Selasa, 3 Mei 2022.

IMG-20220504-WA0000

Dalam upacara arak-arakan ider bumi masyarakat setempat mengarak sesosok barong berkeliling desa. Pada ritual adat Barong Ider Bumi di Desa Adat Kemiren, Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi turun-temurun masyarakat suku Osing yang dilaksanakan setiap hari ke dua dihari Raya Idul Fitri yang dipercaya dapat terhindar dari wabah pagebluk itu. Arak-arakan barong berkeliling desa Kemiren dimaksudkan untuk mengusir energi negatif yang menimbulkan penyakit / pagebluk bagi seluruh warga Kemiren.
Di hari kedua Lebaran tahun, dimulai pukul 14.00 WIB, seluruh warga Kemiren keluar rumah mengarak tiga barong Osing yang diawali dari pusaran (gerbang masuk) desa ke arah barat menuju tempat mangku barong sejauh dua kilometer.

Selama diarak warga, barong-barong tersebut juga diikuti para sesepuh desa yang berjalan beriringan sambil membawa dupa dan melafalkan doa-doa untuk keselamatan seluruh warga. Tak lupa, tabuhan musik khas Osing juga mengiringi. Sangat meriah namun tetap sakral. Meski digelar di hari kedua Lebaran, Barong Ider Bumi ini disaksikan ratusan hingga ribuan warga, baik dari Banyuwangi maupun luar Banyuwangi.

Pemimpin ritual melakukan sembur uthik- uthik diikuti tokoh adat dan rombongan Direktur Kepercayaan Terhadap Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan, Sjamsul Hadi ambil bagian dalam kegiatan ini.

IMG-20220504-WA0003

Sepanjang perjalanan sambil melakukan pembacaan macapat atau tembang yang terserat dalam lontar yusuf yang merupakan bentuk doa kepada Tuhan dan mantera untuk roh nenek moyang. Menurut Suhaimi, 61 tahun Sesepuh adat Desa Kemiren,
” Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, merupakan ritual adat tahunan yang digelar setiap 2 Syawal. Tradisi ini dipercaya warga dapat mengusir segala penyakit dan keburukan dari Desa Kemiren, ” katanya.

Lebih lanjut kata Suhaimi, upacara adat leluhur ini digelar sebagai bentuk syukur pada Yang Kuasa atas karunia-Nya yang telah memberikan ketenteraman dan kemakmuran kepada warga desa. Tradisi ini juga dipercaya dapat menghilangkan bala bencana.

“Dalam kepercayaan masyarakat Osing, Barong ini dirasuki roh leluhur,” tuturnya.

Setelah diarak sejauh dua kilometer, para Barong digiring kembali ke pusaran untuk selamatan bersama. Nah di sinilah puncak acaranya, yakni selamatan dengan menggunakan tumpeng pecel pitik (ayam kampung yang dibakar dengan ditaburi kelapa) sebagai wujud rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keberkahan.

Tumpeng pecel pitik ini jumlahnya banyak sekali karena tiap keluarga menyuguhkan pecel pitik untuk makan bersama-sama.

“Ini dianggap sebagai sedekah Syawal. Sehari sebelumnya, masyarakat membuat kupat lepet dan kue-kue tradisional khas Banyuwangi untuk dibagikan kepada penonton,” terang Suhaimi.

M. Arifin, Kepala Desa Kemiren , menyatakan Tradisi yang sudah digelar puluhan tahun ini, lebih meriah dibandingkan perhelatan 2 tahun kemarin. Karena, selama pandemi COVID-19, kegiatan ritual ini dilakukan dengan cara sederhana. Berbeda pada tahun ini, kegiatan ritual bersih desa ini diikuti oleh ratusan warga,”Alhamdulillah kegiatan berlangsung lancar. Masyarakat yang ikut serta dalam kegiatan ini bahagia, bisa turut serta dalam selamatan bersih desa. Kalau dua tahun lalu tidak bisa seperti ini. Karena kita gelar hanya pokoknya saja,” ujarnya

Sementara itu, Direktur Kepercayaan Kepada Tuhan Yang Maha Esa dan Masyarakat Adat pada Direktorat Jenderal (Dirjen) Kemendikbudristek, Sjamsul Hadi mengatakan, pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif masyarakat Osing di Desa Kemiren yang telah menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Khususnya adat istiadat Osing di Banyuwangi. “Ke depan, kiranya ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Using Banyuwangi tetap lestari,” harapnya.

Pemkab Banyuwangi, lanjut Sjamsul diakui telah berhasil melakukan pelestarian melalui beberapa fasilitasi kegiatan adat dan tradisi. Selain itu, promosi kegiatan ini juga berdampak secara ekonomi kepada masyarakat yang ada di sekitar kegiatan ritual adat.

“Ini bakal menjadi model percontohan praktek baik dimana Pemkab Banyuwangi telah berhasil melakukan pelestarian budaya Using san juga upaya peningkayan ekonomi bagi masyarakat,” kata Samsul usai mengikuti ritual barong ider bumi.

Sejarahnya Ritual Idher Bumi dimulai dari peristiwa yang terjadi sekitar tahun 1800-an. Pada saat itu Desa Kemiren terserang Pageblug atau Blindeng dalam Bahasa Kemiren. Pageblug adalah sebuah keadaan bencana tiba-tiba yang menjadi momok bagi sebagian besar Masyarakat Jawa.

Di Desa Kemiren, peristiwa ini tidak hanya menyebabkan tanaman di sawah warga di serang hama namun juga menyebabkan kematian sebagian warga. Desa Kemiren memperlihatkan suasana ketakutan hingga diceritakan pada malam hari mereka tidur berkelompok dan tidak berani untuk tidur dirumah sendiri.

Melalui kejadian tersebut, para sesepuh desa berinisiatif untuk mendatangi atau berziarah ke Makam Buyut Cili. Mereka berharap mendapatkan petunjuk untuk memberantas pageblug yang melanda desa mereka. Selang beberapa hari mereka mendapatkan wangsit lewat mimpi.

Wangsit tersebut mengisyaratkan masyarakat Desa Kemiren diharuskan mengadakan upacara slametan dan arak-arakan yang melintasi jalan desa.

Setelah masyarakat melaksanakan apa yang menjadi petunjuk dari Buyut Cili, semua penyakit atau pagebluk hilang. Menurut salah satu sumber bahwa dari peristiwa tersebutlah Ritual Ider Bumi tetap dilakukan.

Menurut Edy ” Haidi ” Bing Kendang, tokoh muda pelaku seni Kemiren, “Tradisi ini dilaksanakan, masyarakat Kemiren tidak berani meninggalkan adat weluri leluhur . Barong Ider bumi juga bertujuan untuk mengusir wabah penyakit yang disebut pagebluk, jadi momen sangat pas dengan keadaan saat ini. Pada pelaksanaan tahun ini, berbeda dari 2 tahun lalu saat pandemi, ratusan orang menyaksikan langsung tradisi yang digelar setiap hari kedua Idul Fitri tersebut. Tidak sedikit warga asal luar Kecamatan Glagah maupun wisatawan asal luar daerah yang sengaja datang menyaksikan dari dekat tradisi ini. Arak-arakan, warga dan wisatawan makan bersama dengan hidangan pecel pitik khas Banyuwangi. Semua masyarakat kumpul menjadi satu, mulai dari masyarakat biasa, wisatawan domestik, mancanegara, sampai pejabat, ikut makan bersama, “jlentreh Edy Haidi.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *