Acara silaturahmi yang sudah lama terlewatkan sejak masa pandemi 3 tahun lalu (2019-2022) membuat banyak komunitas merindukan kembali giat sosial tersebut. Salah satu paguyuban dari jawa etnis ngapak/ mbanyumas dari jawa tengah yang Minggu kemarin ( 29-05-2022) melangsungkan acara silaturahmi bertempat di aula INNA Hotel jl. Veteran 3 Denpasar Bali.
Undangan yang terdiri dari kelompok tokoh masyarakat Bali Anak Agung Gede Agung Pemecutan hadir dan memberikan sambutannya.
Dalam sambutan tersebut beliau bangga bisa terus memelihara persahabatan dan persaudaraan dengan semeton jawa tengah(mbanyumas) serta lainnya.
Dikatakan olehnya bahwa leluhurnya semua berasal dari Jawa/ jaman Majapahit yang kemudian berdomisili di Pulau Bali.
Tetap suku Jawa adalah saudara juga harus dilindungi dan dijaga.

Demikian juga sebaliknya beliau berpesan agar etnis Jawa yang rantau kerja tinggal di Bali,harus melindungi, menjaga, merawat agar Bali tetap aman nyaman dan sakral.
Dalam sambutannya ketua paguyuban Mbanyumas yang seorang advokat/ pengacara (group Adnan Buyung Nasution berkantor di Salah satu sudut INNA Hotel depan kanan ) mengharapkan ada kader baru calon ketua yang nanti bisa terpilih selain dirinya yang sudah menjabat ketua paguyuban 2 periode berturut-turut.
Pengasuh Pondok La Royba mewakili dari yayasan Bali Bina Insani yang para santriwannya tampil membawakan marawis juga memberikan tauziah dan pesan moral agar semua bisa mengambil hikmah dari silaturahmi berhalal bihalal.
Yang cuma ada dan dimiliki oleh bangsa Indonesia.
Beliau menceritakan bahwa zaman presiden Sukarno banyak para tokoh ulama yang berbeda faham dan pendapat saling menyalahkan, terutama saat pasca kemerdekaan. Maka diusulkanlah kepada presiden untuk memanggil para alim ulama dan tokoh masyarakat ke istana duduk bersama untuk saling bersilaturahmi dan disitulah terjadi saling meminta maaf yang akhirnya menjadi tradisi Halal Bi Halal yang terpelihara sampai sekarang.
Selain menyuguhkan musik religi, panitia juga menjamu para undangan dengan kuliner khas Mbanyumasan seperti tempe mendhoan yaitu tempe dibalut tepung dan digoreng. Ada polo pendhem kacang, telo, dele, ganyong dan mbothe. Gorengan lumpia jajan tradisional lemper, kukis dan juga gedhang ambon teh, kopi yang dilengkapi dengan nasi box ayam dan tempe bakar sambal dan ca sayur .
Group Mendhoan yang tampil adalah para ibu2 dengan semangat dan lucu berdendang lagu jawa Mbanyumasan judul Tempe Mendhoan. Dibalut kostum kebaya hijau dan ka in batik plus kerudung kuning membuat segar penampilannya.
Lagu prau layar berhasil memeriahkan acara dibarengi dengan saweran juga tari kolosal bersama dipanggung atas dan bawah semua hadirin ikut bersuka ria.
Terakhir setelah acara doa (petugas) kembali seni mbanyumasan di pertontonkan dengan unjuk kebolehan seniman kendang dan kenong mengiringi penari dongkrek yang juga dari anggota paguyuban.
Tampak tokoh NU dari Bali hadir dan mengikuti acara sampai tuntas (Hj. Asmudy Manik-MWC NU Kerambitan beserta istri Hj. Manik,Tanfidzyah MWC NU Mengwi Hj. Moh Sugeng beserta istri Hj. Sri Wahyuningsih/Ketua PAC Muslimat NU Mengwi,beberapa petugas Polda Bali jamaah NU dan anggota paguyuban serta pengurus NU lainnya bercengkrama deng an santai diatas rerumputan halaman hotel bagian depan aula pertemuan.
Dari INNA HOTEL, Denpasar Bali -Ambarwati Soenarko.


Komentar