oleh

Upacara Adat Tradisi “Labuh Tandur” Masih Dilaksanakan Oleh Masyarakat Suku Osing

Suasana Prosesi pelaksanaan upacara adat tradisi Labuh Tandur yang dilaksanakan oleh Pemerintahan Desa Tamansuruh dan KOPAT (Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi) Banyuwangi, berjalan sangat meriah dan penuh hikmat Rabu (15/06/2022).

Upacara pelaksanaannya diselenggarakan di dusun Wonosari Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi-Jatim. Hampir semua yang hadir mengenanakan pakaian adat khas suku Osing lengkap dengan udengnya, baik yang laki maupun yang wanitanya.

Prosesi diawali dengan menyanyikan lagu Indonesia Raya secara bersama-sama dan dilanjutkan sambutan sambutan.
Mengawali sambutannya, Teguh Eko Rahadi selaku Kepala di Desa Tamansuruh menyampaikan rasa terima kasihnya kepada semua undangan yang telah rela meluangkan waktunya demi untuk mensukseskan acara Adat ritual Labuh Tandur yang ia laksanakan bersama Kopat Banyuwangi.

20220615_090638
Teguh juga menyampaikan rasa syukur nya kepada Allah SWT karena atas keridhoannya diberi kesempatan menjalin komunikasi dan koordinasi untuk mewujudkan kegiatan ini”. Masih Teguh mengatakan sesuai amanat Inpres no. 104/2022 menyebutkan bahwa penggunaan alokasi dana desa yang 20 persennya digunakan untuk ketahanan pangan, untuk dilapangan ia berimajinasi, berinovasi dan diimplementasikan dengan melakukan kerja sama dengan Kopat mengusung program “Pengembangan Pertanian Organik terintegrasi menuju ketahanan pangan sehat bagi masyarakat”,

“Jadi tidak hanya ketahanan pangannya yang sehat tetapi tangannya juga harus sehat. Oleh karenanya prosesnya harus dilalui dengan proses menuju sehat dan yang melaksanakan harus sehat artinya otaknya harus sehat, prilakunya harus sehat serta menggunakan ilmu yang menuju sehat, “ungkap Teguh.

Yang dimaksud terintegrasi adalah tidak semata-mata untuk pertanian tanaman pangan saja tetapi mencakup banyak hal misalnya tanaman pertanian keras, tanaman tahunan (perkebunan), non tahunan (holticultura), peternakan, perikanan dan lain lainnya. Sektor sektor ini di integrasikan di desa Tamansuruh secara bertahap karena diperlukan proses pembelajaran dan penyesuaian dengan mainside masyarakat Tamansuruh itu sendiri. Mudah mudahan apa yang saya lakukan ini merupakan awal yang baik, dan dalam pelaksanaannya saya berkolaburasi dengan Kopat karena tugas Kopat adalah selalu hadir ditengah masyarakat untuk berkarya dan mengabdi dengan cara menggali, menumbuhkembangkan, menjaga keberlangsungan serta bagaimana program ini bisa berkelanjutan. Saya tidak ingin kegiatan ini hanya bersifat seremonial saja, kegiatan ini perlu pengorbanan, perjuangan dan kebersamaan.

20220615_094253

“Hari ini saya juga mengundang guru-guru TK Sirih kuning untuk mendampingi siswa siswinya, agar kelak anak anak tahu bahwa di desa Tamansuruh ada edukasi pertanahan dan pertanian yang dapat memberikan pondamen dasar sehingga mereka dapat mengenal adat tradisi serta nilai nilai luhur nenek moyangnya. Anak anak akan disuguhkan high teknologi yaitu tentang inovasi pertanian, hal ini karena seringnya kita disuguhkan hal yang sulit dan hanya sebagai angan angan saja, “kata Teguh.

Sambutan kedua disampaikan oleh Kaban Kesbangpol, Lutfi dalam sambutannya mengatakan “Sekali layar berkembang pantang surut kebelakang, Kemudi sudah terpasang jangan lari tunggang langgang, ” pantunnya, “tutur Lutfi.

Masih kata Lutfi “Kita harus praktis dan sistimatis artinya kegiatan ini Saya ikuti perkembangannya sejak awal dan ini luar biasa, hanya tinggal dukungan anggaran.
Kalau AWT (Agro Wisata Tamansuruh) sudah jadi, imbasnya pasti masyarakat desa Tamansuruh dan sekitarnya. Harus ada persiapan, dan ini luar biasa. Tolong buatkan jadwal pelaksanaan kegiatannya dari mingguan, bulanan dan tahunannya, biar tamu tamu domestik maupun asing tahu kalau Tamansuruh punya kegiatan ritual adat yang dilaksanakan secara berkesinambungan. Masalah anggaran bisa diambilkan dari dana desa, dari Kecamatan maupun dari APBD dengan mengajukan proposal prosal ke Bupati, ” katanya.

Lebih lanjut sambutan dari yang mewakili Kadis Pertanian dan ketahanan pangan menyampaikan bahwa “Pertanian organik itu diawali semuanya sehat termasuk pelakunya, tanamannya, produksinya sehingga yang menikmati nanti nya juga sehat. Perencanaan yang dari awal sudah bagus dan dilanjutkan dengan pelaksanaan yang bagus pula, nantinya akan diwujudkan dengan legalitas nya yaitu dengan terbitnya sertifikat organik. Kami siap mendukung dengan dipandu oleh para para penyuluh, ” cetusnya.

Sambutan dilanjutkan oleh Camat Glagah yang mengatakan bahwa : “Saya sangat mengapresiasi Pemerintahan Desa Tamansuruh dengan menggandeng Kopat Banyuwangi dalam penyelenggaraan Pengembangan Pertanian organik terintegrasi menuju ketahanan pangan sehat bagi masyarakat. Intinya terintegrasi, berkolaburasi dan sinergi menuju ketahanan pangan dan menuju masyarakat sehat. Kita yang hadir disini adalah roda penggerak desa Tamansuruh, saya minta untuk tetap berkolaburasi, semangat tidak hanya sebagai gebyarnya saja tetapi harus terintegrasi yang nantinya dapat mendatangkan tamu tamu asing untuk melihat dan menikmati serta berbelanja di sini. Bagaimana cara masyarakat bisa tergugah untuk bisa mandiri serta berdaya guna sehingga bisa menghasilkan pendapatan yang mantap.
Kita bisa support anggaran DDADD , Musrenbang juga dari Dinas Pertanian. Yang penting bisa berkelanjutan dan bisa dijadikan sebagai percontohan sehingga desa desa lain bisa digalakkan pertanian organik yang diramu dengan adat budaya”.
Lebih lanjut beliau mengatakan ; “Desa Tamansuruh diuntungkan dengan dibangunnya AWT (Agro Wisata Tamansuruh) oleh Pemerintah, yang imbasnya dipastikan masyarakat Tamansuruh dan sekitarnya dapat meningkatkan perekonomiannya karena banyak tamu tamu yang berkunjung, “jelas Nanik.

20220615_095231

Acara dilanjutkan dengan prosesi adat “Labuh Tandur” yang dipimpin Sanusi Marhaedi selaku tokoh adat Suku Osing dengan diawali iring iringan menuju lokasi sawah yang akan ditanduri (diberi benih) padi. Setelah upacara adat tradisi Labuh tandur di sawah selesai, para pejabat yang hadir diperkenankan untuk menanam pohon sirih disepanjang jalan persawahan.

Kegiatan upacara adat tradisi Labuh Tandur ini dihadiri oleh : Kaban Kesbangpol Kabupaten Banyuwangi, Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kab. Banyuwangi beserta team, Kepala Dinas Pariwisata Kab. Banyuwangi, Forpimka Kecamatan Glagah Kab. Banyuwangi, Ketua DKB (Dewan Kesenian Banyuwangi) kab. Banyuwangi, Ketua Aman (Aliansi Masyarakat Adat Nusantara) Kab. Banyuwangi, Ketua dan anggota KOPAT Kab. Banyuwangi, Team Pemuda Pancasila Kab. Banyuwang, Team penggerak PKK desa Tamansuruh, Ibu ibu guru TK Sirih Kuning beserta para wali murid, Para Akademisi serta para awak Media cetak, electronik dan Online.

20220615_100416

Setelah ritual labuh tandur dilanjutkan dengan penanaman berbagai macam sirih di sepanjang jalan. Tepat pukul 11.30 wib, para tamu undangan diperkenankan untuk menikmati hidangan khas upacara Adat Labuh Tandur dan dihibur oleh pertunjukan Angklung Paglak dan Pacul gowang. (Hariyanto)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *