Ritual pencak sumping merupakan kesenian bela diri ( pencak silat) asli Indonesia yang sangat melekat pada kehidupan Suku Osing di dusun Mondoluko desa Taman Suruh Kecamatan Glagah, setiap tahunnya dilaksanakan bertepatan dengan 10 Dulhijah ( lebaran Idul Adha ) , tahun ini bertepatan dengan minggu, 10 Juli 2022 .
Ritual adat Pencak Sumping ini dihadiri tamu undangan , Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi ( Kopat ). Masyarakat Dusun Mondoluko, Desa Tamansuruh punya tradisi kuno Pencak Sumping yang masih dilestarikan. Setiap lebaran Idul Adha, warga Dusun Mondoluko mengundang puluhan jawara pencak silat lintas generasi se-Kabupaten Banyuwangi untuk tampil dalam rangkaian ritus bersih desa.
Pada setiap pagelaran seni pencak silat ini masyarakat Mondoluko sangat antusias dan kompak. Mereka juga mengundang dan menjamu para tamu yang hadir dari luar desa maupun dari kecamatan lain untuk mengikuti pagelaran pencak silat ini.
Menurut Achmad Surur ( ketua, panitia penyelenggara) bercerita, tradisi Pencak Sumping dalam ritus bersih desa sudah berlangsung ratusan tahun secara turun-temurun. Kegiatan kali ini di ikuti 70 Pesilat dari seluruh penjuru Banyuwangi dan disaksikan kurang lebih 400 orang
Adapun tujuan utama Pencak sumping adalah tradisi turun temurun. Sebagai upaya melestarikan adat tradisi leluhur agar kampung tetap damai dan sejahtera.
Dari cerita turun temurun, Dusun Mondoluko pernah dipimpin oleh seorang raja dan meninggal dengan kondisi terluka, karena tidak menguasai ilmu bela diri. Sang ratu kemudian diminta untuk belajar ilmu silat agar bisa membela diri saat berperang. Mondol artinya luka yang parah, dan disebut Mondoluko. Tradisi Pencak Sumping tidak terlepas dari cerita asal muasal Dusun Mondoluko. Di zaman penjajahan Belanda, Buyut Ido terluka (luko) sampai terkoyak (modol-modol), hingga akhirnya mendasari penamaan dari Dusun Mondoluko.
Yang menjadi keunikan dari setiap acara pagelaran pencak silat dilaksanakan seluruh masyarakat mondoluko menyuguhkan kue jajanan tradisional nogosari yang di sebut Sumping. Sehingga pagelaran pencak silat yang ada di dusun Mondoluko ini di sebut “Mencak Sumping”
“Selain sebagai ajang silaturahmi, pencak sumping ini juga jadi tempat saling mengingatkan. Ilmu bela diri bukan untuk kesombongan, hanya untuk jaga diri,” ujar Achmad Surur.

Surur, yang juga tokoh dusun Mondoluko , Ritus bersih desa yang berlangsung setiap lebaran Idul Adha. Diawali malam sebelumnya warga mondoluko, mengarak dan menaruh sesaji di setiap sudut desa dengan pawai obor ( ider bumi ).
“Kalau Pencak Sumping ini untuk hiburan rangkaian seni dalam bersih desa itu. Setiap pendekar yang bermain, kalau kalah nanti sama temannya dikasih makan sumping (jajanan tradisional),” ujar Surur.
Kali ini, ada 70 pendekar pencak silat dari 20 perguruan silat yang datang ke Dusun Mondoluko untuk tampil dalam tradisi Pencak Sumping. Mulai Anak-anak dari usia 7 tahun hingga orang dewasa tampil menunjukkan seni bela dirinya. Sementara puluhan Ibu-ibu terus memasak sumping, jajanan yang terbuat dari tepung beras dan pisang. Bila sudah matang, akan terus disajikan kepada para pendekar.
Mulai anak-anak hingga dewasa baik laki-laki maupun perempuan. Hingga saat ini Warga Mondoluko tetap melestarikan pencak silat sebagai bela diri yang di pelajari oleh warga.

Sejak saat itu buyut Ido bersama rakyatnya rutin belajar silat. Bahkan Anak-anak mulai usia 7 tahun juga sudah belajar, baik Laki-laki dan perempuan,” terangnya. Sementara istilah Pencak Sumping, berawal dari peristiwa pagebluk yang mengakitbatkan banyak orang meninggal, sehingga diadakan ritus bersih desa untuk menghilangkan petaka tersebut.
Pencak sumping merupakan sebuah tradisi masyarakat suku Osing terutama sekali di Dusun Mondoluko, Desa Tamansari, Kecamatan Glagah, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur. Tradisi bela diri ini merupakan bagian daripada kegiatan bersih desa yang dilakukan masyarakat setempat.
Tradisi Pencak Sumping, Seni Bela Diri Kuno yang Masih Eksis di Banyuwangi
Banyuwangi memiliki segudang tradisi seni dan budaya. Namun, Kabupaten paling ujung Timur Pulau Jawa ini juga memiliki tradisi seni bela diri yakni Pencak Sumping. Tradisi ini dilestarikan lintas generasi.
Atraksi Pencak Sumping digelar dengan iringan musik tradisional dengan irama gendang yang rancak. Penampilan Pencak Sumping diikuti oleh para pendekar mulai anak-anak hingga lanjut usia. Mereka menampilkan jurus-jurus silat, baik dengan tangan kosong maupun dengan senjata dengan lincah.
Salah satu pelestari Pencak Sumping, Rayis mengungkapkan, nama Pencak Sumping sendiri, diambil dari suguhan yang disajikan pada jaman itu yang mengiringi para pendekar saat berlatih.
“Sumping merupakan makanan tradisional yang terbuat dari pisang berbalut adonan tepung yang dikukus, didaerah lain dikenal dengan nama kue Nagasari.” kata Rayis
Sumping menjadi suguhan kepada para tamu yang datang saat acara. Bahkan saat atraksi tanding dua pendekar silat, sumping juga digunakan untuk pengakuan kemenangan.
“Biasanya pendekar yang menang akan menyumpal mulut lawan yang kalah dengan kue sumping.” imbuh Rayis.
Sedangkan menurut budayawan Fatah Yasin Noor, menulis tentang Mondoluko. Saya suka dengan kata ini. Mondoluko itu ternyata dusun di Desa Tamansuruh. Tak ada yang pernah ke sini selain saya dan Kang Usik dengan anggota Kopatnya. Dari Kemarang naik dikit belok kanan. Kami ke Mondoluko ingin tahu adat tradisi Pencak Sumping. Sebuah tradisi turun temurun di dusun itu. Dilaksanakan tiap tahun pas Idul Adha. Saya mampir ke rumah Ahmad Surur, santri jebolan pondok pesantren Al Anwari Kertosari. Ahli membaca tulisan Arab gundul, Pegon. Yang mbabat alas di situ tak lain dan tak bukan ternyata Mbah buyutnya Ahmad Surur. Kurang lebih 300 tahun silam. Pendekar silat dan ahli solat. Namanya lupa. Surur ini fasih menerjemahkan quran ke bahasa Osing. Qowim pernah geleng geleng kepala oleh kecerdasan alamiah anak muda ini. Sekarang mbuh. Dirumahnya saya disuguhi kopi dan makan, jangan kesrut, dan jajan kampung. Saya cuma nyicipi tape yang dibungkus godong aneh, bukan daun pisang, “ujarnya.
Pencak sumping adalah tradisi turun temurun. Sebagai upaya melestarikan adat tradisi leluhur agar kampung tetap damai dan sejahtera.(Ilham Triadi)


Komentar