Trenggalek — Dalam rangka memperingati Hari Keris Nasional 2026, Paguyuban Parikesit Kabupaten Trenggalekh menggelar pameran pusaka dan pertunjukan seni budaya di kawasan Pasar Pon Trenggalek, Minggu (19/04/2026).
Acara ini berlangsung meriah dengan menghadirkan atraksi seni jaranan serta pertunjukan spektakuler tari Rampag Barong yang diikuti oleh sekitar 500 peserta.
Sejak siang hari, masyarakat memadati area pasar untuk menyaksikan rangkaian kegiatan yang memadukan unsur edukasi dan hiburan. Pameran pusaka menampilkan berbagai koleksi bersejarah seperti keris, tombak, dan benda pusaka lainnya, yang sarat akan nilai filosofis dan historis. Kegiatan ini juga dihadiri oleh berbagai komunitas budaya dari sejumlah daerah yang turut berpartisipasi memeriahkan acara.
Rangkaian peringatan Hari Keris Nasional tahun ini telah dimulai sejak 16–17 Februari 2026 melalui kegiatan Uji Kompetensi Bidang Perkerisan yang diselenggarakan oleh LSP Perkerisan Indonesia. Kegiatan tersebut dibuka secara resmi oleh Basuki Teguh Yuwono selaku Staf Khusus Menteri Kebudayaan RI bidang Sejarah dan Pelindungan Warisan Budaya, sebelum mencapai puncaknya pada 19 April 2026 di Trenggalek.
Kepala Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Trenggalek, Toni Widianto, menyampaikan apresiasinya atas terselenggaranya kegiatan ini.
“Kegiatan ini bukan hanya menjadi tontonan yang menarik, tetapi juga sarana edukasi budaya yang sangat penting. Keris sebagai warisan budaya adiluhung harus terus dikenalkan kepada generasi muda. Kami sangat mendukung kegiatan seperti ini karena mampu menggerakkan sektor pariwisata sekaligus memperkuat identitas budaya daerah,” ujarnya.
Sementara itu, Agustinus Santosa Adiwibowo, Bidang Organisasi & Keanggotaan DPP SNKI yang mewakili Ketua Umum SNKI Fadli Zon, dalam sambutannya saat membuka acara menyampaikan:
“Hari Keris Nasional bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk meneguhkan komitmen bersama dalam melestarikan warisan budaya bangsa. Sinergi antara komunitas, pemerintah, dan masyarakat seperti yang terlihat di Trenggalek ini menjadi contoh nyata bagaimana budaya dapat terus hidup dan berkembang.”
Direktur LSP Perkerisan Indonesia, Agung Guntoro Wisnu, S.Ak, juga menegaskan pentingnya aspek kompetensi dalam pelestarian budaya:
“Pelestarian keris tidak hanya berhenti pada aspek fisik, tetapi juga pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan. Melalui uji kompetensi, kami memastikan bahwa pelaku perkerisan memiliki standar yang jelas, sehingga warisan ini dapat dijaga kualitas dan keasliannya.”
Ketua Paguyuban Parikesit, Gatot Subagtiono, mengungkapkan rasa bangganya atas antusiasme masyarakat:
“Kami sangat bersyukur melihat partisipasi masyarakat yang begitu besar. Ini menjadi bukti bahwa kecintaan terhadap budaya, khususnya keris dan kesenian tradisional, masih sangat kuat di tengah masyarakat.”
Di sisi lain, Trimo Dwi Cahyono, selaku komandan paguyuban jaranan se-Kabupaten Trenggalek, menambahkan:
“Rampag Barong dengan ratusan peserta ini adalah wujud kebersamaan para pelaku seni. Kami ingin menunjukkan bahwa kesenian tradisional tetap memiliki tempat di hati masyarakat dan mampu tampil secara megah dan membanggakan.
Kegiatan ini terselenggara berkat kerja sama antara Paguyuban Parikesit, Relawan Suket Teki, serta paguyuban-paguyuban jaranan se-Kabupaten Trenggalek di bawah koordinasi Trimo Dwi Cahyono, serta mendapat dukungan penuh dari Dinas Pariwisata & Kebudayaan Kabupaten Trenggalek.
Dengan terselenggaranya kegiatan ini, diharapkan semangat pelestarian budaya, khususnya keris sebagai warisan budaya bangsa, dapat terus tumbuh dan diwariskan kepada generasi mendatang.(Ilham)


Komentar