Anggota DPRD Jawa Timur dapil 4, Hermanto, SE. menggandeng Persatuan Alumni GMNI Banyuwangi sebagai pelaksana menggelar sarasehan bertema Presfektif Wawasan Kebangsaan Melalui Karya Seni, yang dikemas jelang buka bersama dan sosialisasi wawasan kebangsaan.
Hadir dalam sarasehan tersebut 125 orang dari kalangan seniman, budayawan, pemerhati seni dan jurnalis . Pembicara yang dihadirkan adalah Indah Caturningtyas dan Aries Umartadi , sedang jalannya sarasehan dipandu oleh Ricky Byaen. Peserta sarasehan mendengarkan paparan dari narasumber di ballroom Hotel Santika pada hari Kamis, (28/04/22).
Sosialisasi ini bertujuan menanamkan pentingnya kesadaran berbangsa pada generasi muda dan para seniman dalam mencegah perpecahan dan konflik sosial.

Menurut Hermanto, SE. Dalam kegiatan serap aspirasi ini dirinya mencoba mengajak, merangkul bahwa kita harus cinta dan menjaga kekeluargaan dan kebersamaan, harapannya sosialisasi ini dijadikan ajang konsolidasi bagi pelaku seni agar program DPRD Jawa Timur dikomunikasikan melalui kebersamaan dan gotong-royong.
Seniman dan pemerhati seni budaya merupakan bagian integral dari masyarakat yang turut andil dalam berkontribusi memajukan budaya Banyuwangi.
”Membangun karakter bangsa melalui seni budaya adalah upaya untuk memperbaiki serta menanamkan cinta tanah air mencakup adat istiadat, nilai-nilai potensi, kemampuan bakat, dan pikiran bangsa yang berdasarkan pada Pancasila dan UUD 1945,” jelasnya.
Hermanto dalam sambutannya sekaligus membuka acara sosialisasi wawasan kebangsaan, berharap bahwa kegiatan ini bisa memberikan motivasi dan daya dorong yang besar kepada masyarakat Banyuwangi agar bisa menjadi masyarakat yang guyub, tangguh dan berkualitas. Hermanto juga berharap, “Saya berharap Sarasehan mengimplementasikan Wawasan kebangsaan yang merupakan konsep politik bangsa Indonesia yang memandang Indonesia sebagai satu kesatuan wilayah untuk mempersatukan bangsa dan negara secara menyeluruh mencakup segenap bidang kehidupan nasional yang meliputi aspek ekonomi, politik dan sosial budaya.
Kultur budaya masyarakat juga mempengaruhi terutama masyarakat Osing yang terbuka, egaliter, berpikir simpel, dan suka kesenian. Yang tak kalah penting adalah kesenian itu harus berideologi,” tegasnya.

“Inilah letak urgensinya dialog budaya daerah ini. Tidak ada jalan lain bagi kita kecuali mulai memberikan perhatian khusus pada pembahasan tradisi, termasuk tradisi lisan. Keunikan dan kekhasan internal yang terdapat dalam masing-masing tradisi merupakan potensi yang dapat diolah sebagai penegasan bahwa kita hidup di dalam pluralitas budaya. Kebudayaan dari suatu etnis kecil, yang terbatas jumlah warga penduduknya sekalipun tak bisa dilecehkan oleh pendukung suatu kebudayaan yang lebih kompleks, lebih modern, dan lebih dominan dalam percaturan nasional. Hal ini bukanlah cermin dari demokrasi di bidang kebudayaan yang hendak kita perjuangkan, ” jlentrehnya.
Sementara Pengurus JRKI Jawa Timur Korda Banyuwangi Agus Wahyu Nuryadi dalam sambutannya menyampaikan bahwa,
“Melalui karya seni kita pupuk rasa cinta NKRI, ciptakan karya seni yang di tonton menjadi tuntunan bagi yang menikmati karya seni, “ungkapnya.
Agus Wahyu Nuryadi turut memberikan sumbangan pemikiran dalam sarasehan itu
“Sebagai warga Banyuwangi harus bangga karena memiliki kekayaan kaya seni yang mampu bertahan hingga sekarang. ”Kita juga harus merasa memiliki, melestarikan, dan mempertahankan budaya tersebut. Karya seni tradisi tersebut kaya dengan nilai-nilai sejarah dan perjuangan,” ungkapnya.
Sementara, Wakabid Perempuan dan Anak PA GMNI, Indah Catur Cahyaningtyas sebagai narasumber pertama membeberkan, Banyuwangi memiliki identitas daerah yang khas dibandingkan daerah-daerah lain. Adalah peran Seniman yang memiliki kesaktian, berupa kekuatan ketika seorang seniman mencurahkan imajinasinya lahirlah karya yang memiliki kesaktian, maka alam bawah sadar penikmat seni akan terhipnotis akan pesan-pesan yang disampaikan seniman, jelasnya.
Narasumber kedua dalam kegiatan ini adalah Aries Umarthadi, Sekretaris PA GMNI Banyuwangi Aries membawakan materi Peran seniman dalam Pergerakan Kebangsaan. Era reformasi dan demokrasi, memang harus tetap berjalan. Seniman sudah melakukan tapi perlu mempertajam, misalnya gandrung, menurutnya sebagai produk kebudayaan yang ada muncul dari masyarakat sehingga tidak salah jika produk budaya yang ada sangat beragam dan berkembang.
”Gandrung itu kaya nilai-nilai perjuangan, nilai persatuan, dan nilai gotong royong, pelaku seni harus tidak ada yang menolak serap aspirasi seperti hari ini, Hermanto sebagai penyerap aspirasi harus membantu memperkuat, ” ujarnya.(Ilham Triadi)


Komentar