oleh

“Selamat Jalan AK. Armaya” Pejuang Sastra dari Banyuwangi

Kepergian maestro seni sastra Banyuwangi menimbulkan duka mendalam bagi kalangan seniman-budayawan di Bumi Blambangan. Bukan sekadar kehilangan rekan sesama pelaku seni, melainkan sosok panutan

Sejak pagi hari, ketika mendengar kepergiaannya puluhan para pelayat dan budayawan Banyuwangi untuk mengikuti serangkaian pemakaman maestro Haji Abdul Kadir Armaya, 88 tahun di Jalan Citarum 44 Banyuwangi 26/6/2022. Pemakaman almarhum dihadiri para tokoh budayawan, Hasan Basri, Fatah Yasin Noor , Taufik Wr. Hidayat serta tokoh-tokoh dan seniman lainnya .

” Semoga arwah almarhum agar ditempatkan disisi terbaik-Nya dan keluarga yang ditinggalkan selalu tegar diberi ketabahan dan kekuatan oleh Allah swt, ” ujar Hasan Basri, Ketua DKB dihadiri oleh perwakilan Ketua dan pengurus Dewan Kesenian Blambangan, tokoh, seniman dan budayawan lainnya menyampaikan doa agar almarhum diampuni dosa-dosanya, diterima amal baiknya.

H. Armaya bukan hanya penulis yang terkenal juga sebagai sebagai maestro sastrawan nasional. Armaya merupakan satu seniman yang masih aktif berkesenian dari usia sangat muda sampai menjelang ajal menjemputnya masih aktif membimbing generasi penerus sastra Banyuwangi, “tambahnya.

Ia menilai Armaya sebagai seniman yang getol mengangkat derajat kesenian Banyuwangi. Inspirator dan motivator bagi sastrawan-sastrawan muda, tidak pelit ilmu sangat berperan mendorong kemajuan seni budaya di Banyuwangi, tambah Hasan

Hal senada dilontarkan salah satu seniman senior Banyuwangi Fatah Yasin Noor. Dia mengatakan, dirinya dan para penulis Banyuwangi sangat kehilangan. “Beliau adalah maestro di Banyuwangi dan Indonesia.

“Pak Armaya adalah penyemangat kami, para penulis untuk eksis dan berkarya lebih jauh lagi,” ujarnya.

Hari ini Minggu, 26 Juni 2022 Haji Abdul Kadir Amaya meninggal dunia. Beliau lahir tanggal 10 Januari 1930. Tapi di KTP tertulis lahir 1934, dimudakan. Hidup hampir se abad kurang 8 tahun. Jasadnya dikubur, rohnya dibawa malaikat ke langit. Kita tidak bisa melihat.

“Selama hidupnya Haji Armaya dikenal akan dikenang sebagai orang yang baik, orang paling dermawan. Suka bersedekah dan suka sastra. Suka sedekah, tak hanya kepada orang dan lembaga-lembaga, juga kepada binatang, “tambah Fatah

“Saat beliau jadi sekretaris Masjid Agung Baiturrahman dulu. Buletin Jumat rutin terbit dengan biaya dari kantongnya sendiri. Saya waktu itu jadi pimred buletin Jumat dipercaya penuh mengisi materi apa saja. Tak jarang Saya menurunkan berita budaya dan memuat puisi religius teman-teman disitu, “urai Fatah.

“Dirumahnya Haji Armaya, di Kemasan, Panderejo, penuh piaraan burung, kucing, ayam. Tikus liar yang masuk rumahnya dibiarkan, justru dikasih makan, “ujarnya.

Lanjut Fatah , Singkat cerita ia minta tolong menerbitkan ulang novelnya Sejarah Berdirinya Kerajaan Macanputih. Saya sangat senang sekaligus bingung, sebab saya belum punya pengalaman menerbitkan buku. Itulah awal mulanya, kemudian berlanjut dengan penerbitan-peberbitan buku yang lain. Tidak banyak memang, paling banyak dicetak cuma 150 eksemplar per judul.

“Cuma perlu saya informasikan disini judul buku yang telah diterbitkan tak kurang dari 240 judul, semua dana dari beliau. Ia adalah “orang gila” satu-satunya di Banyuwangi, “katanya.

Pada tingkat nasional Antologi puisi tiga penyair “Manifes” (Goenawan Mohamad, Armaya, dan Hartojo Andangdjaja (1963). Ketika ia dinas di Bandung, Armaya jadi redaktur sastra di majalah paling prestisius. Sayang saya lupa majalah apa.

“Ketika masih sekolah SMA di Solo, kalau gak salah di SMA Katolik, Solo ia berkawan akrab dengan WS Rendra. Jadi makcomblang ketika Rendra jatuh kepayang pada Putri Keraton Sitoresmi. Armayalah yang mengantarkan surat-surat cinta ke Sitoresmi. Kita tahu akhirnya mereka kawin, “tambahnya.

Fatah Yasin mengaku dirinya sangat meneladani Armaya. Selain merupakan penulis andal, Armaya adalah penulis yang tidak pelit ilmu.

“Banyak penulis menimba ilmu ke beliau,” tuturnya.

“Bukan itu saja, kata Fatah tidak sedikit yang lantaran kagum atas sosok Armaya Baik dari segi tehnik menulis maupun gagasan. Setelah itu dikembangkan,” urai Fatah.

Kepergian maestro seni sastra Banyuwangi ini menimbulkan duka mendalam bagi kalangan seniman-budayawan di Bumi Blambangan. Bukan sekadar kehilangan rekan sesama pelaku seni, melainkan sosok panutan.

Seperti diketahui, AK. Armaya bukanlah seniman “pupuk bawang”. Dia adalah maestro sekaligus pelopor sastra nasional dari Banyuwangi. Melalui karya-karyanya , Armaya dikenal luas di kancah nasional. Meski karya-karyanya sudah menasional , Armaya tidak jemawa. Dia tetap rendah hati. Istilah Osing-nya andhap asor. Di kalangan pelaku seni sastra , dia juga terkenal tidak pelit ilmu. Bahkan di masa senjanya dia masih aktif membina para penulis Bumi Blambangan. Setelah pensiun dari PNS Kemendikbud dirinya memutuskan untuk kembali ke kabupaten ujung timur Pulau Jawa ini untuk “membantu para sastrawan muda yang ada di Bumi Blambangan.
Pada periode 1990-an itu pula Armaya kerap mengumpulkan sastrawan-sastrawan muda. Namun sayang, setiap kali menggelar partemuan tidak pernah ada orang.
Kini, Armaya memiliki seabrek anak didik. Tidak terhitung penulis yang pernah menimba ilmu kepadanya. Tidak hanya di Banyuwangi, muridnya tersebar di berbagai penjuru tanah air.

Nama AK. Armaya merupakan seniman kreatif yang sudah mengabdikan dirinya di dunia seni sastra profesional lebih dari 60 tahun. Dari rekam jejaknya itu Armaya merupakan seniman yang legendaris menjalani proses kreatifnya dengan menulis berbagai buku yang khas, sejak sejak masih muda hingga akhir hayatnya. Selamat Jalan sang maestro…. Mudah-mudahan Husnul Khotimah dan mendapatkan Surga disisi-Nya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *