oleh

Meriah ! Barong Ider Bumi Sebagai Tolak Bala Masyarakat Osing Kemiren

Tradisi Barong Ider Bumi merupakan salah satu ritual Suku Osing di Desa Kemiren Kecamatan Glagah Kabupaten Banyuwangi. Sebuah upacara sinkretisme yang ditujukan sebagai ungkapan rasa syukur atas keselamatan masyarakat desa juga bisa dipercaya sebagai Ritual Pengusir bahaya (Tolak Bala). Upacara barong ider bumi yang merupakan ritual pengusir pagebluk yang dipercaya sebagai ritual pensucian diri dari segala kesalahan yang dilakukan selama setahun dan penyembuhan terhadap wabah penyakit. Bagi masyarakat Osing Kemiren Banyuwangi, tradisi ini telah berjalan sejak tahun 1800 an , setiap tahunnya diperingati dihari kedua lebaran idul fitri, seperti tahun 1444 hijriah ini bertepatan hari Minggu, 23 April 2023.

Di hari kedua Lebaran tahun ini, dimulai pukul 14.00 WIB, seluruh warga Kemiren keluar rumah mengarak tiga barong Osing yang diawali dari pusaran (gerbang masuk) desa ke arah barat menuju tempat mangku barong sejauh dua kilometer. Selama diarak warga, barong-barong tersebut juga diikuti para sesepuh desa yang berjalan beriringan sambil membawa dupa dan melafalkan doa-doa untuk keselamatan seluruh warga. Tak lupa, tabuhan musik khas Osing juga mengiringi. Sangat meriah namun tetap sakral. Ratusan hingga ribuan warga, baik dari Banyuwangi maupun luar Banyuwangi, menyaksikan tradisi ritual desa ini.

IMG-20230424-WA0019

Pemimpin ritual melakukan sembur uthik- uthik (salah satu sarana ritual, berupa beras kuning, bunga dan uang koin, yang dilempar-lemparkan dalam rangkaian ritual) diikuti, tokoh adat dan tamu undangan

Sepanjang jalan Desa Kemiren penuh sesak dengan masyarakat yang mengawal arak-arakan Barong khas Banyuwangi yang digeber setiap 2 Syawal atau hari kedua Idulfitri tersebut.

Rangkain ritual Barong Ider Bumi Desa Kemiren Banyuwangi
Sepanjang perjalanan sambil melakukan pembacaan macapat atau tembang yang terserat dalam lontar yusuf yang merupakan bentuk doa kepada Tuhan dan mantera untuk roh nenek moyang. Menurut Suhaimi, 63 tahun sesepuh adat Desa Kemiren, “Tradisi Barong Ider Bumi di Desa Kemiren, merupakan ritual adat tahunan yang digelar setiap 2 Syawal. Tradisi ini dipercaya warga dapat mengusir segala penyakit dan segala macam keburukan dari Desa Kemiren, ”katanya.

IMG-20230424-WA0025

Lebih lanjut masih kata Suhaimi, “Upacara adat leluhur ini digelar sebagai bentuk syukur pada Yang Kuasa atas karunia-Nya yang telah memberikan ketenteraman dan kemakmuran kepada warga desa. Tradisi ini juga dipercaya dapat menghilangkan bala bencana. Dalam kepercayaan masyarakat Osing, Barong ini dirasuki roh leluhur,” tuturnya.

Setelah diarak sejauh dua kilometer, para Barong digiring kembali ke pusaran untuk selamatan bersama. Disinilah puncak acaranya, yakni selamatan dengan menggunakan tumpeng pecel pitik (ayam kampung yang dibakar dengan ditaburi kelapa) sebagai wujud rasa bersyukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan keberkahan.

Tumpeng pecel pitik ini jumlahnya banyak sekali karena tiap keluarga menyuguhkan pecel pitik untuk makan bersama-sama.

“Ini dianggap sebagai sedekah Syawal. Sehari sebelumnya, masyarakat membuat kupat lepet dan kue-kue tradisional khas Banyuwangi untuk dibagikan kepada penonton,” terang Suhaimi.

Mohammad Arifin, Kepala Desa Kemiren , menyatakan Tradisi yang sudah digelar puluhan tahun ini, Berbeda pada tahun ini, kegiatan ritual bersih desa ini diikuti oleh ribuan warga Kemiren maupun dari tamu undangan dari luar desa Kemiren.

“Alhamdulillah kegiatan berlangsung lancar. Masyarakat yang ikut serta dalam kegiatan ini bahagia, bisa turut serta dalam selamatan bersih desa. Selama tiga tahun lalu tidak bisa seperti ini. Karena kita gelar hanya pokoknya saja, akibat pembatasan pandemi Covid-19, ” ujarnya

Sementara itu, Wakil Bupati Banyuwangi H.Sugirah sangat mengapresiasi kearifan lokal ini dengan ikut serta dalam rombongan arak-arakan.
Sugirah mengungkapkan bahwa hal tersebut adalah bagian dari upaya pelestarian adat.

“Alhamdulillah, tradisi turun-temurun yang melahirkan masyarakat guyup rukun damai ini masih lestari dan semoga kelak diwarisi oleh generasi muda penerusnya, “urai Sugirah.

“Ini merupakan kewajiban kami untuk melestarikan budaya leluhur, dan juga upaya peningkatan ekonomi bagi masyarakat,” tutur Sugirah.

Sugirah juga mengapresiasi keguyuban masyarakat Kemiren dalam menguri-nguri budaya.
“Kemiren sudah lama menjadi jantung budaya Banyuwangi. Ke depan, kiranya ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Osing tetap lestari,” ungkapnya.

Sugirah menambahkan, pihaknya sangat mengapresiasi inisiatif masyarakat Osing di Desa Kemiren yang telah menjaga dan melestarikan nilai-nilai kearifan lokal. Khususnya adat istiadat Osing di Banyuwangi.

“Ke depan, kiranya ini tetap dilestarikan oleh generasi muda, sehingga budaya dan adat istiadat Using Banyuwangi tetap lestari,” harapnya.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *