Gelaran budaya berskala nasional mewarnai kawasan Candi Borobudur pada Jumat, 17 April 2026. Partisipasi lintas daerah dan internasional menegaskan bahwa pelestarian budaya bukan lagi isu lokal semata, melainkan telah menjadi perhatian global. Tradisi kirab pusaka pun diposisikan sebagai warisan budaya tak benda yang perlu terus dijaga keberlangsungannya.
Kirab budaya ini dipimpin langsung oleh Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon, menyampaikan Kirab Pusaka Nusantara untuk pertama kalinya digelar di kawasan Candi Borobudur dalam rangka memperingati Hari Warisan Budaya Dunia pada 18 April bertepatan memperingati Hari Keris Nasional pada19 April 2026.
“Kegiatan ini melibatkan berbagai pemangku kepentingan di bidang kebudayaan, mulai dari budayawan, seniman, tokoh agama, hingga masyarakat desa adat di sekitar kawasan Borobudur,” katanya di Magelang, Jawa Tengah.
Para peserta kirab pusaka nusantara berjalan melewati margautama dan menuju pelataran Kenari di sisi barat Candi Borobudur setelah berjalan keliling memutar candi sebanyak satu kali. Pada kesempatan tersebut Menteri Kebudayaan juga melepas burung dan dua bebek
Ia menyampaikan, partisipasi tersebut menunjukkan bahwa Borobudur merupakan warisan budaya milik bersama, tidak hanya bagi masyarakat Indonesia tetapi juga dunia.
Ia menuturkan, kirab ini menjadi momentum untuk meningkatkan kecintaan dan kesadaran masyarakat terhadap budaya sebagai bagian penting dalam menjaga identitas nasional. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sekitar, sejalan dengan asas kemanfaatan dalam Undang-Undang Pemajuan Kebudayaan.
Ia mengatakan, masyarakat desa yang bergotong royong menyiapkan berbagai sajian tradisional, termasuk tumpeng. Beragam atribut budaya turut ditampilkan, seperti busana adat, serta tumpeng lanang dan tumpeng wadon sebagai bagian dari ekspresi budaya Nusantara.
Menurut dia, pemilihan Borobudur sebagai lokasi kirab dinilai tepat karena kawasan cagar budaya peringkat nasional tersebut merupakan salah satu simbol kemajuan budaya dan peradaban masa lalu yang sangat ikonik. Selama ini, kirab pusaka lebih dikenal digelar di lingkungan keraton, seperti di Solo dan Yogyakarta, maupun di daerah lain.
“Kirab Pusaka Nusantara di Borobudur ini pun menjadi yang pertama kali diselenggarakan di kawasan tersebut dan mendapat sambutan antusias dari masyarakat dan komunitas budaya,” ujarnya
Ia berharap, adanya kegiatan ini pelestarian budaya dapat terus ditingkatkan sekaligus memberikan dampak positif bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat di sekitar kawasan Borobudur.
Gelaran budaya berskala besar mewarnai kawasan Candi Borobudur pada Jumat, 17 April 2026. Kirab Pusaka Nusantara menjadi magnet berkumpulnya lebih dari ribuan pelestari pusaka dari berbagai penjuru Indonesia bebaur bersama masyarakat adat sekitar, hingga mancanegara, dalam satu semangat menjaga warisan leluhur.
Di antara peserta yang hadir, Paguyuban Pelestari Tosan Aji Blambangan ( Panji Blambangan ) Banyuwangi , tampil sebagai perwakilan Korwil SNKI Korwil Tapal Kuda Blambangan Kehadiran mereka tidak sekadar simbolis, tetapi mencerminkan komitmen daerah dalam melestarikan budaya, khususnya tradisi pusaka yang memiliki nilai filosofis , estetis dan historis mendalam.
Momentum ini juga menjadi bagian dari rangkaian peringatan Hari Keris Nasional yang jatuh pada 19 April. Melalui kirab tersebut, keris tidak hanya dipandang sebagai benda budaya, melainkan sebagai simbol nilai, etika, dan jati diri bangsa yang terus diwariskan dari generasi ke generasi.
Menurut Basuki Teguh Yuwono Sekjen SNKI ( Sekretariat Nasional Keris Indonesia ) Salam hormat dan salam sehat. Terima kasih banyak atas kehadiran, dukungan dan peran aktifnya dalam kegiatan kirab pusaka di Borobudur , Kehadiran bapak/ibu semua telah memberi warna, spirit dan makna mendalam serta suksesnya acara tersebut.
Ketua umum SNKI dan sekaligus Menteri Kebudayaan bpk Fadli Zon sangat mengapresiasi peran aktif bapak/ibu/ semuanya dan beliau juga mengucapkan banyak terima kasih.(Ilham Triadi)


Komentar