Bendung Karangdoro: Dibiayai Belanda Dibangun Seorang Sakti Pribumi

Bendung Karangdoro: Dibiayai Belanda Dibangun Seorang Sakti Pribumi
Bendung Karangdoro di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari. (Ron/JN)
Spread the love

Tegalsari-Bendung Karangdoro di Desa Karangdoro, Kecamatan Tegalsari dibangun pada masa pendudukan Belanda. Bangunan yang saat ini telah menjadi aset Pemerintah Daerah Banyuwangi, itu masih berfungsi dengan baik. Tapi, masyarakat tidak banyak yang tahu sejarah unik dari salah satu jejak Belanda di kabupaten terujung Timur Jawa tersebut.

Dalam catatan sejarah yang tersimpan di Dinas PU Pengairan Banyuwangi, Bendung Karangdoro adalah satu-satunya bangunan irigasi yang direncanakan Pemerintah Hindia Belanda. Dibangun pada 1921 silam untuk mengatur dan memanfaatkan aliran sungai Kalibaru. Dan juga (mungkin) satu-satunya bangunan Belanda yang pelaksana teknisnya seorang pribumi. Dia adalah Ir Sutejo, yang berasal dari Jawa Tengah.

“Beliau memiliki keahlian dibidang bangunan pengairan yang didapat secara otodidak. Juga dikenal memiliki kemampuan spritual yang ampuh,” jelas Kepala Dinas PU Pengairan, Guntur Priambodo, saat berbincang dengan¬†JurnalNews.com, Senin (24/7/2017).

Bendung Karangdoro Jejak kolonial Beland. (Ron/JN)

Bendung Karangdoro Jejak kolonial Beland. (Ron/JN)

Dari penuturan Paeran, salah satu penyintas sejarah Bendung Karangdoro yang testimoninya dicatatkan Dinas PU Pengairan Banyuwangi menyebutkan, dalam melaksanakan kegiatannya banyak hal muskil yang diterapkan Ir Sutejo. Seperti saat membendung air untuk membuat pondasi. Bila biasanya dengan menggunakan tumpukan karung pasir, Ir Sutejo cukup membentangkan benang diatas sungai Kalibaru.

“Beliau juga cukup menggunakan gerakan tangannya saja untuk mengalihkan arah aliran air sungai” tambahnya.

Dalam pembangunannya, Bendung Karangdoro yang kini mampu menyuplai kebutuhan air bagi sawah seluas 16165 ha itu banyak melibatkan pekerja kasar dari pribumi yang statusnya sebagai tahanan Belanda. Orang-orang pribumi ini tidak diupah. Bendung Karangdoro inipula yang menjadi cikal bakal munculnya nama Desa Karangdoro. Diberi nama Bendung Karangdoro sekaliagus untuk mengabadikan sejarahnya.

“Kata Karang yang diartikan sebuah karangan atau perencanaan. Sedangkan Doro sebutan bagi orang Belanda yang berkuasa pada waktu itu. Jadi Karangdoro memiliki arti hasil dari perencanaan Belanda” katanya lagi.

Sejarah juga mencatatkan bila pernah terjadi musibah banjir besar di Bendung Karangdoro pada 1929. Musibah itu menyebabkan kerugian materi dan jiwa dari hulu hingga hilir sungai Kalibaru. Peristiwa itu oleh masyarakat setempat dikenang dengan nama tragedi “Belabur Senin Legi”. Bendung Karangdoro sendiri secara resmi difungsikan pada 1942. Atau saat Belanda diusir dari tanah Jawa oleh Jepang. Dan pada tahun 1963 dimunculkan tradisi “Bubak Bumi” sebagai ritual penghormatan kepada para leluhur yang berjasa pada pembangunan Bendung Karangdoro.

“Jadi pada tahun itu Bendung Karangdoro diresmikan pemerintah Jepang,” pungkasnya.

Saat ini Bendung Karangdoro pemanfaatan airnya dikelola Dinas Pengairan Banyuwangi melalui kantor Kordinator Eksploitasi Air Irigasi Bangorejo, Cluring dan Pesanggaran. Kordinator Bangorejo untuk sawah irigasi teknis seluas 5981 ha. Cluring seluas 5803 ha. Dab Pesanggaran seluas 4381 ha. (Ron/JN)

 

Tags: , ,
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan