oleh

Gesah Budaya Bertemakan “Menyiasati Eksotisme”

Ada sesuatu yang menarik puluhan pelukis, pemerhati budaya dan pelaku seni lain di Banyuwangi berkumpul sambil gesah malam itu, mereka juga berdiskusi tentang berbagai hal seputar sosial – budaya dan filosofi masyarakat Banyuwangi. Pada malam Senin, 14/3/2021, Hore angkringan & apresiasi yang berkesempatan menjadi tuan rumah acara Gesah Budaya bertemakan “Menyiasati Eksotisme” Forum ini dikemas dengan Komunikatif. Selain sebagai forum diskusi yang membahas bagaimana membaca estetika sekitar, acara ini ditujukan untuk mempererat silaturahmi antara pelaku seni rupa, budayawan dan pengunjung cafe. Gesah bersama budayawan Banyuwangi dikemas sambil ngopi itu dihadiri akademisi dan pemerhati sosial- budaya , Kjn. Ilham merangkap tuan rumah disertai 3 pelukis lain yang berpameran , Hasan Basri – Ketua DKB, Saham Sugiono – Ketua III DKB, Sastrawan Fatah Yasin Noor yang didaulat menjadi moderator dan Aekanu pemerhati adat, sejarah, budaya, Azis pelukis senior, master angklung Slamet Menur , Momo , Kenong, Ali Momo, pelaku seni dan budaya serta beberapa komunitas-komunitas milenial.

Hadir pula sebagai pemantik diskusi, Dwiki Dwinugroho Mukti, pegiat budaya dari Kemendikbud. Melalui diskusi ini, Dwiki berharap kegiatan diskusi seperti ini digunakan sebagai ajang pemetaan intelektual seni di Banyuwangi untuk kemudian dapat menjadi pantikan kegiatan yang selanjutnya, membuka peluang untuk lebih lanjut berkolaborasi untuk melakukan eksplorasi seni budaya dan adat istiadat yang ada di Banyuwangi kedepan.

IMG-20210317-WA0065

“Untuk membahas Kebudayaan Banyuwangi, kita harus memahami masyarakatnya dan untuk itu realitasnya bisa ditinjau dari berbagai sudut pandang yang berbeda termasuk harus ikut pula mempelajari sejarahnya. Presepsi berkesenian dalam hal ini juga harus diselesaikan dengan paradigma baru yang diasumsikan sebagai suatu proses yang berlangsung terus-menerus dengan memelihara simbol-simbol, kita memanusiakan manusia dengan memelihara kebudayaan, “katanya.

“Gesah dan diskusi seperti malam ini harus diagendakan menjadi rutinitas dengan memanfaatkan medsos sebagai pendukung utamanya, “tambahnya.

Untuk menggerakkan ekosistem seni rupa di kota yang bukan menjadi pusaran utama seperti Banyuwangi tentu adalah satu tantangan tersendiri, tantanganya adalah untuk menaklukan ruang dalam konteks wilayah dan menyesuaikan pola gerak yang tepat untuk berproses. Untuk dapat menentukan pola gerak yang cocok kirnya perlu banyak wawasan mengenai seni rupa dan bagaimana prakteknya hari ini, sebenarnya hal ini juga sangat berkaitan dengan bagaimana pengetahuan mengenai konteks wilayah, kata Dwiki.

Pameran DO IT yang diselengarakan dan dilakukan oleh N. Kojin, KRT. Ilham, Aris Sugiarta, dan Ben Hendro. Jika dilihat dari komposisi senimanya maka kita akan bertemu dengan 4 corak karya yang berbeda dan masing-masing ke khasannya.

IMG-20210317-WA0063

“Saya banyak berharap agar pameran ini dapat memiliki penawaran lebih dari sekedar pameran bentuk visual saja, namun juga dapat membawa sebuah gagasan yang dapat menjadi pemantik agar bentuk dan gagasan dapat berjalan beriringan. Lebih jauh lagi semoga pantikan yg dilontarkan dapat membuat ekosistem seni di Banyuwangi semakin bergerak cepat dan kencang, sedapat mungkin menjadi pusaran tersendiri di medan seni rupa Indonesia maupun Global, “tambah Dwiki.

“Saya berfikir memang seharusnya seniman bermain di dua kaki, bila memang membuat karya menjadi pekerjaan agar dapur dapat ngebul namun disisi lain seniman juga harus selalu kreatif dan menggali lebih jauh lagi terhadap karyanya. Lebih lanjut lagi karya yang ditawarkan kepada apresiator bukan hanya karya yang dari segi visual ‘indah” namun juga merupakan karya yang memiliki value lebih dan bisa diperbincangkan lebih lanjut, guna memantik kesadaran terkait sebuah permasalahan yang terjadi ditenggah-tenggah masyarakat, “pungkas Dwiki.

Sedangkan Fatah Yasin Noor sebagai moderator sangat berharap peran para pelukis sangat diperlukan untuk menggali budaya dan adat istiadat sendiri sehingga pemahaman generasi mendatang tentang Banyuwangi bukan hanya didapat selain dari bahasa tutur, juga melalui bahasa visual turut menjaga situs-situs budaya maupun wisata alam yang ada di Banyuwangi.

“Melihat beberapa permasalahan di atas, yang hadirpun menyatakan kesanggupannya dalam membantu pengelolaan walaupun budaya dan wisata di Banyuwangi belum optimal di berdayakan, “kata Fatah.

Harapan Fatah dipertegas oleh Hasan Basri, Ketua DKB bahwa dalam budaya Banyuwangi Gesah merupakan suatu kebiasaan yang dilakukan masyarakat dengan tujuan untuk membahas berbagai permasalahan yang ada di masyarakat, yang bisa dilakukan secara santun.

“Tradisi Gesah hampir terlupakan dalam masyarakat sekarang ini, padahal Gesah merupakan sarana yang tumbuh dari masyarakat yang bercirikan kehidupan di Banyuwangi. Seperti malam ini adalah malam senin istimewa, untuk mengasah kepekaan estetika. Kegiatan ini swadaya, contoh ideal cukup dengan suguhan kopi dan pisang goreng sudah menghidupkan tradisi berkesenian , sederhana namun ada sirkulasi yang dinamis.Mudah-mudahan hal ini akan berdampak positif, “ujarnya.

“Dalam hal budaya, adat istiadat dan pariwisata pengembangannya sudah luar biasa berkembang dengan baik,
namun secara individu banyak seniman yang telah mengukir nama di tingkat nasional maupun internasional, seperti Mozes Misdy ( almh ), S. Yadi K , “tambah Hasan.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *