Pembelajaran sepanjang hayat seperti halnya tercantum dalam UU Sisdiknas Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional (UU Sisdiknas). Pada Pasal 4 Dalam ayat (3) ditetapkan bahwa pendidikan diselenggarakan sebagai suatu proses pembudayaan dan pemberdayaan peserta didik yang berlangsung sepanjang hayat. Halini terus di inisiasi oleh Direktorat Guru dan Tenaga Kependidikan. (GTK). Seperti halnya pada hari ini, Selasa 16 Maret 2021 Dirut DTK Pendidikan menengah (Dikmen) dan Pendidikan Khusus (Diksus) menggelar kegiatan Bimtek Pemenuhan Guru Pembimbing Khusus Tahap Penguasaan Keterampilan di Banyuwangi di dua hotel sekaligus.
Adapun pemateri dalam bimtek kali ini yakni Agustina Sandjaya, Ahsan Romadlon J (Dosen UM), Eka Yuli A, Indra Jaya (Dosen UI), Joko Yuwono (Ahli Autis), M. Nurul Ashar, M Syamsuri, Dadang Garnida, Yani Mulyani dan Bapak Yoga Budi Santoso. Hadir secara langsung dalam acara tersebut yakni DR. H. Yaswardi, M.Si selaku direktur GTK Dikmen dan Diksus serta Bapak Saiful Bahri, S.Kom selaku koordinator Pokja Pembelajaran. Hadir pula secara daring yakni Bapak DR Iwan Syahril, L.Phd selaku Dirjen GTK. DR. H. Yaswardi, M.Si dalam Sambutannya beliau menyampaikan bahwa Bimtek ini merupakan lanjutan dari kegiatan Program Pembelajaran Guru Belajar dan Berbagi seri Pendidikan Inklusi yang dimulai sejak tanggal 14 September 2020 sampai dengan 24 Oktober 2020 di tingkat pengenalan tentang sekolah inklusi.

Sedangkan pada bimtek tahap 2 ini merupakan tahap penguasaan. Pada tahap pertama dibagi dalam 5 angkatan. Sedangkan pada tahap penguasaan telah dilaksanakan dalam 4 region yakni Jawa Barat yang dilaksanakan di Bandung, Jawa Tengah di Jogja, Sumatra di Padang dan yang saat ini sedang berlangsung yakni region Jawa Timur yang dilaksanakan di Banyuwangi. Adapun peserta yang berjumlah dua ratus dan dibagi di dua tempat 100 di hotel Ketapang Indah dan 100 peserta di hotel Aston.
“Pelaksanaan bimtek sengaja dibagi di dua tempat dimana setiap peserta mendapatkan satu kamar. Dan di hall pun ditata sedemikian rupa dengan mengatur jarak posisi duduk. Semua diusahakan sesuai dengan protokol kesehatan. Tujuannya agar peserta merasa aman selama proses bimtek dan saat selesai bimtek tetap aman untuk pulang dan kembali kepada keluarga”. Adapun dalam bimtek pemenuhan GPK tahap penguasaan, para peserta mendapatkan 4 materi yang sebelumnya dilakukan secara daring sejak tanggal 13 Februari sampai dengan minggu pertama bulan Maret selanjutnya dilakukan tatap muka saat ini. Empat materi tersebut yakni Guru diharapkan mampu mengidentifikasi peserta didik di awal pembelajaran kemudian dapat mengembangkan assesmen yang dilanjukna planing matrix. Hal ini menjadi dasar dari pembuatan Program Pembelajaran Indivudial (PPI) sebagai dasar pembuatan RPP modifikasi bagi kelas berbasis inklusi.

Sambutan berikutnya yang sekaligus membuka acara yakni Bapak DR. Iwan Syahril, L. Phd selaku Dirjen GTK. Dalam sambutannya beliau menyampaikan bahwa pendidikan merupakan hak semua warga negara. Sehingga layanan bagi disabilitaspun perlu diperhatikan. Guru sebagai garda terdepan selaykanya terus bersemangat sebagai leader untuk terus belajar dan belajar lagi.
“Tujuan diadakannya bimtek GTK ini bagaimana guru dapat meningkatkan kompetensinya dibidang pelayanan terhadap peserta didik agar berkarakter Pancasila, ” Ungkap beliau.
Masih dari sambutan Bapak Syahril, bahwa sesungguhnya filosifi dari pembelajaran GPK merupakan penerapan apresiatif dan kontektual terhadap Pancasila dengan kebhinnekaannya. Bagaimana siswa reguler dan Anak berkebutuhan Husus (ABK) mendapatkan kesempaytan yang sama dalam memperoleh pendidikan yang layak. Sehingga tercipta rasa saling hormat menghormati antar sesama dan bekerja bersama untuk membangun bangsa menuju Indonesia emas 2045. Beliau berharap guru yang sudah terekrut dalam kegiatan GPK dapat lebih memahami keragaman cara belajar peserta didik. GPK dapat dijadikan sebagai referensi dan inspirasi bagi guru pembelajar lainnya. GPK juga diharapkan menjadi inisiator terlaksananya kelas inklusi sampai membumi menjadi sekolah inklusi.

Diakhir sambutannya, Bapak Syahril menyampaikan bahwa ke depan masih sedang dirilis tentang pembelajaran seri inklusi dalam bentuk daring seperti halnya pembelajaran masa pandemi, AKM, dan Pendidikan Kecakapan Hidup (PKH). Karena dengan peminatan jumlah guru dalam kegiatan merdeka belajar, ternyata menguatkan harapan dari Kemendikbud bahwa guru mempunyai kekuatan hati yang luar biasa dalam masa pandemi ini, guru juga sosok yang tangguh dan kreatif. Semua ini bisa dilakukan secara kolaboratif, kasih sayang dan keikhlasan. (Yeti Ch).


Komentar