oleh

Sekolah Asuh Sekolah antara SMPN 2 Rogojampi dengan Pesinaunan Adat Osing Desa Olehsari dan Kemiren

Spread the love

Sore hari jelang fajar menyingsing warga Pesinaunan Adat Osing bergabung dengan sahabat-sahabat dari SMPN 2 Rogojampi di Sawah Art Space , Desa Olehsari Kecamatan Glagah.

Kedatangan sahabat-
sahabat dari SMPN 2 Rogojampi untuk memberi motivasi kepada warga pesinaunan adat Osing untuk saling bertukar informasi dan pengalaman yang dikemas dengan Siswa Asuh Sekolah.

IMG-20210613-WA0069

Berbagai lingkungan yang dapat digunakan untuk sumber belajar antara lain persawahan, taman, kunjungan lapangan, Pendidikan menjelajah lingkungan. Kearifan lokal ini akan jadi materi utama yang akan disinauni. Misal bagaimana kultur masyarakat Osing yang agraris dalam mengelola lahannya.

Selain berkonsepkan alam, sekolah ini juga memanfaatkan potensi masing-masing komunitas adat. Sehingga, ke depan dalam perkembangannya, setiap komunitas adat diharapkan memiliki kegiatan pembelajaran terkait kearifan lokal berupa Pesinauan Adat Osing berkonsep alam.

IMG-20210613-WA0065

Dalam kesempatan terpisah, Ketua DKB (Dewan Kesenian Blambangan), Hasan Basri menilai, Sekolah Adat Osing ini merupakan salah satu upaya untuk memperkuat adat, budaya serta tradisi lokal di Banyuwangi.

“Banyuwangi Festival sudah berhasil melakukan selebrasi ritual adat yang berdampak positif bagi perekonomian. Namun, di tengah gempuran moderenitas, kita tidak boleh lengah untuk tetap memperkuat pelaku, nilai, norma, dan filosofinya,” ungkap Hasan.

Hasan optimis, melalui Sekolah Adat Osing, bisa menjadi motor penggerak anak-anak muda secara mandiri dalam menjalankan nilai-nilai adat berdasarkan kesadaran, tambahnya.

IMG-20210613-WA0064

Termasuk yang jadi tujuan sore itu dengan tema Sambung Rasa antara Organisasi Sekolah, OSIS, Kospradha dan PMR dengan Warga belajar Pesinaunan Adat Osing desa Olehsari dan Kemiren Kecamatan Glagah, Sabtu-Minggu ( 12-13/6/2021 )

Kegiatan yang dilakukan 35 siswa ini adalah suatu kegiatan pembelajaran di luar kelas yang berorientasi pada alam sekitar yang mempunyai sifat menyenangkan dan dapat mewujudkan nilai spiritual siswa mengenai keindahan ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa seperti di destinasi wisata alam sebagai ungkapan rasa syukur dengan cara mengamati, menyelidiki, menemukan sendiri segala sesuatu ciptaan Tuhan Yang Maha Kuasa merupakan proses mengasah aktivitas fisik, sosial ( kerjasama ) untuk menumbuhkan kreatifitas dalam pencapaian belajar, sudah benar-benar diterapkan menjadi sisi lain membangun pendidikan karakter untuk menumbuhkan kreatifitas dalam pencapaian belajar menjadi Gerakan SAS kini diperluas jangkauannya.

Tidak hanya membantu antar siswa di dalam sekolah, namun meluas antar sekolah. Kini gerakan membangun kepedulian antar pelajar di Banyuwangi itu kini diperluas menjadi Sekolah Asuh Sekolah (SAS), termasuk kolaborasi SMPN 2 Rogojampi dengan Pesinaunan Adat Osing Kemiren Kecamatan Glagah.
Mereka berkolaborasi melakukan Gerakan solidaritas antar siswa di Banyuwangi, Siswa Asuh Sekolah (SAS) agar semakin dirasakan manfaatnya SMPN 2 Rogojampi memberikan bantuan yang berupa tas, sepatu, buku-buku dan peralatan sekolah lainnya dan donasi “ilmu” , pengalaman antar sekolah formal dengan sekolah non formal, dengan ditutup materi pemutaran film konten lokal hingga larut malam.

Menurut H. Agus Syafi’i Kepala SMPN 2 Rogojampi, “Dengan cara ini diharapkan sinergitas dan solidaritas antar sekolah, lewat program ini, antara tamu dam tuan rumah bisa saling bersinergi di tengah gempuran medsos , inilah langkah paling ampuh untuk memanfaatkan dalam membuat konten- konten berkarakter dan berbasis kearifal lokal, ” ujar Agus.

Lebih lanjut Agus menjelaskan,

“Selama ini SMPN 2 Rogojampi sudah menjalankan program SAS dengan baik, ada sejumlah siswa kurang mampu yang sudah mendapatkan manfaat seperti bantuan tas , membeli sepatu baru dan peralatan sekolah lainnya. Tak hanya itu, kegiatan Sambung Rasa dengan warga Pesinaunan Adat Osing untuk mendukung program Sekolah Asuh,” kata Agus.

Agus menambahkan, pada peluncuran SAS Karakter bulan lalu ( 8/5 ) pihaknya juga memberikan manfaat bagi 15 siswa Yatim Piatu “Alhamdulillah menghadapi lebaran Idul Fitri siswa kita mendapat sejumlah uang dari SAS untuk kebutuhan menghadapi lebaran. Semoga ini bermanfaat bagi siswa kita,” tandasnya.

Sementara Menurut Slamet Diharjo pimpinan Sawah Art Space

“Berdirinya sekolah adat ini dalam rangka mempertahankan dan melestarikan adat tradisi di wilayah komunitas adat Osing melalui media pembelajaran,” katanya.

“Sekolah adat ini sebagai wadah kegiatan memanfaatkan potensi masing-masing komunitas adat untuk saling menguatkan. Ruang kegiatan belajar mengajar tidak hanya di Sawah Art Space, dengan waktu pelaksanaan fleksibel untuk bersinergi dengan SMPN 2 Rogojampi. “Di Sawah Art Space ini hanyalah salah satu lokasi pembelajaran sekaligus sekretariatnya,” jelas Samsul.

Lebih lanjut, sejumlah hal yang berkaitan dengan kearifan lokal akan diajarkan di sekolah adat, termasuk konsep pertanian dalam masyarakat agraris.

“Anak-anak harus diberi pemahaman, bahwa tradisi itu bukan hanya sekedar pementasan, namun ada nilai-nilai tersendiri. Misal bagaimana kultur masyarakat Osing yang agraris dalam mengelola lahannya,” pungkas Samsul.(Ilham Triadi)