Dirobohkan cagar budaya Gedung Juang’45,dibangun kontruksi yang tonjolkan rumput dan mau difungsikan untuk gedung kesenian, mengusik budayawan Mas Soepranoto (88) saat ditemui di Sanggar Manggisan Lateng, Sabtu (26/6/21) sembari melukis ekpresionis surealis magis khasnya dari kursi roda listrik aki.
“Banyak yang dilakukan pemerintah mencederai semangat perjuangan’45 seakan tak ada sejarah heroik di Blambangan, ” tuturnya dengan ekspresi kecewa seraya menyebut juga perlakuan ke TMP Wisma Raga Satria.
“Hal ini bukan bangunan fisiknya,tapi penghormatan dan penghargaannya pada pahlawan, ” ungkap birokrat di era Bupati Djoko Supaat Slamet ini.

Perintis Museum Blambangan di Pendopo Sabha Swagata Blambangan ini sembari membaca berita Veteran Marah pada pemegang amanat yang khianat yang ditulis di Majalah Keboendha edisi Juni 2021, beliau berharap tak ada karma bagi yang tidak tobat. Ndak elok bila sampai yang berjasa pada pejabat sekarang sampai turun ke jalan bareng mahasiswa dan rakyat.
Pencipta lagu Sumber Wangi, Sayu Wiwit dan Pahlawan Bongso ini juga pertanyakan bagaimana sikap organisasi yang turut diikuti kala masih bugar yakni DHC Angkatan ’45 dan Dewan Kesenian Blambangan?
“Harapan Saya mau ingatkan eksekutif, legislatif serta yudikatif untuk generasi penerus agar moral dan jatidirinya sesuai pembukaan UUD’45,
“tandas keluarga besar Tawang Alun dan Mbah Mas Saleh ini sembari berharap ada kader pejuang’45 yang swadaya gotong-royong bisa membangun relief sejarah perjuangan rakyat Banyuwangi sekeliling Gedung Juang’45 serta monumen Garuda Pancasila di depan tiang bendera Merah Putih untuk destinasi pelestarian dan pembudayaan nilai semangat juang”45.(Bung Aguk)


Komentar