Ratusan pasang mata undangan yang hadirmenyaksikan launching Sendratari Temurune Dewi Sri, Minggu sore 2 Oktober 2022 di Panggung Omprok Gandrung Waroeng Kemarang, undangan begitu antusias menyaksikan penyajian sendratari yang diwarnai oleh musik gerak tari gending bersumber pada Tradisi Penghormatan kepada Dewi Padi ( Sri )
Arti kata itu adalah kesuburan (prosperity), menggunakan pendekatan sejarah dan etimologi. Ini cenderung merujuk pada penggunaan kata tersebut sebagai sebutan penghormatan, merupakan karya sastra di antara bahasa Jawa kuno dan bahasa Jawa sekarang. Diperkirakan, ini dibuat di era Majapahit. Adapun paparan tentang pengkultusan Dewi Padi yang kemudian diasosiasikan dengan Dewi Sri sebagai tradisi yang sudah banyak ditinggalkan di masyarakat Jawa Osing sebagai wujud terima kasih dan rasa syukur kepada bumi sebagai sedulur sikep dan dewi sri atau dewi padi yang telah menumbuhkan padi. Di Banyuwangi masyarakat Osing , tari Gandrung sesungguhnya lekat dengan kehidupan para petani sejak masa Kerajaan Blambangan. Di masa lalu, tari ini digelar sebagai wujud rasa syukur atas hasil panen yang didapat. Pertunjukan sendratari ini berjudul Temurune Dewi Sri yang bermakna melestarikan budaya sekitar terkhusus kebudayaan berbasis pertanian daerah Banyuwangi.

Wakil Bupati Banyuwangi , H. Sugirah menyampaikan apresiasi, dukungan serta ucapan terima kasih atas terselenggaranya kegiatan ini, sebagai wujud kepedulian BPVP ( Balai Pelatihan Vokasi dan Produktivitas ) bekerjasama dengan Waroeng Kemarang terhadap pengembangan seni sendratari dalam mendukung program pembangunan kepariwisataan berbasis budaya, pasca pandemi di Banyuwangi.
H. Sugirah mengatakan tema Sendratari “ sesuai dengan tema yang artinya saat ini masih dalam masa pasca pandemi, kita harus bersama-sama saling bahu membahu keluar dari masa pandemi, bersama-sama mengatasi dampak negatif pandemi, sekaligus merawat budaya, dan warisan budaya nenek moyang, untuk senantiasa berupaya memajukan wilayah dan melestarikan budaya setempat, merajut harmoni sudah lengkap merajut harmoni karya bangsa. Multiplayer efek perekonomiannya harus dirasakan bagi masyarakat Banyuwangi pada umumnya.

“Dengan mewarisi semangat nenek moyang, kita bersama saling menguatkan satu sama yang lainnya untuk menyongsong masa depan yang lebih baik,” tukas Wakil Bupati.
Waki Bupati menambahkan, adanya pertunjukan sendratari ini, sebagai salah satu bukti bahwa Banyuwangi memang kaya akan seni budaya.
“Seni budaya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat sehari-hari di Kabupaten Banyuwangi ,” tambahnya
Kata Dewi Sri berasal dari dua kata yakni Dewi dan Sri. Dewi artinya pantas, asri dan Sri cantik (putri yang ayu,) sedangkan dalam bahasa Sansekerta artinya terang, kecantikan dan kemakmuran. Dewi artinya laku atau laris, sehingga Dewi Sri menggambarkan Banyuwangi yang asri, cantik bagaikan putri ayu jelmaan Dewi Padi yang melambangkan kemakmuran serta menawan hati, seiring dengan pembangunan di berbagai sektor yang berkembang dengan pesat, dengan tanpa meninggalkan nilai-nilai budaya dan kearifan lokal.
“Semoga karya tari yang diciptakan ini bisa benar-benar menjadi ikon seni budaya Kopat dan dikenal oleh masyarakat luas. Seperti halnya Tari Gandrung yang menjadi tarian khas Banyuwangi , semoga Sendratari Temurune Dewi Sri ini menjadi Sendratari Penyambutan juga bisa menjadi tari khas dan dikenal masyarakat luas,” harap Sugirah .
“Akhirnya dengan mengucap Bismillahirrahmanirrahim karya Sendratari Temurune Dewi Sri secara resmi saya tetapkan menjadi Sendratari , Semoga Allah SWT, Tuhan Yang Maha Kuasa, senantiasa meridhoi setiap usaha kita bersama. Aamiin,” do’a Wakil Bupati.
Tampak hadir dalam giat even tersebut selain Wakil Bupati, Kepala BPVP , Plt.Kepala Kesbangpol Moh. Lutfi didampingi Ketua FPK , Miskawi, Camat Glagah Naniek Machrufi, Perwakilan dari Disbudpar Banyuwangi, DKB beserta seniman- budayawan , Ketua HPI, Agen Travel, Forkopimka Glagah , Lurah Tamansuruh dan anggota Kopat ( Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi ).
Pertunjukan sendratari ini berjudul Temurune Dewi Sri yang bermakna melestarikan budaya sekitar terkhusus kebudayaan berbasis pertanian daerah Banyuwangi
Wowok Meirianto , selaku salah satu pemrakarsa Sendratari Temurune Dewi Sri menjelaskan bahwa pagelaran Sendratari ini bercerita tentang kisah perjalanan Dewi Sri yang dipercaya oleh masyarakat Jawa sebagai dewi kesuburan, membangun
mitos khususnya kepada masyarakat Osing disekitar Waroeng Kemarang.
Pagelaran Sendratari Temurune Dewi Sri melibatkan tidak kurang dari 30 seniman dan seniwati dengan lebih dari 10 pengrawit, asli anggota Kopat “Sendratari Temurune Dèwi Sri akan menjadi paket pertunjukan Tradisional Cuisini & Dance di Waroeng Kemarang dan bagi wisatawan baik lokal maupun mancanegara bisa menikmatinya sewaktu waktu.
Sementara Koreografer sendratari Temurune Dèwi Sri , Subari Sofyan, Cerita tersebut berkisah tentang Dewi Sri atau Dewi Padi dimana masyarakat jawa mempercayai bahwa Dewi Sri adalah dewi kesuburan.
“Ada masyarakat menyebut mustikanig wuwuh atau dewi panen ada juga yang menyebut mustikaning pari atau dewi padi,” jelas Subari Sufyan .
Sendratari tersebut berkisah tentang Dewi Sri yang berasal dari Kahyangan mengajarkan masyarakat untuk bercocok tanam dan bertani. Perjuangan Dewi Sri mengajarkan kehidupan yang melibatkan lebih dari 30 seniman terbaik dari pengurus dan anggota Kopat di patung omprok gandrung . Tak lupa Subari mengucapkan banyak terima kasih Khususnya kepada Kopat yang telah memberikan kesempatan untuk mewujudkan karya nya dalam bentuk Sendratari Temurune Dèwi Sri dan berjanji untuk tetap eksis kedepannya.
Sementara menurut Sesepuh sekaligus pendiri Kopat , Sanusi Marhendi, mengatakan Ada pendapat yang mengungkapkan, istilah gandrung diartikan sebagai terpesonanya masyarakat Blambangan yang agraris kepada Dewi Sri sebagai Dewi Padi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat.
Ritual penghormatan kepada Dewi Sri diawali dengan proses membajak sawah dan menabur benih. Dalam proses tabur benih ini, warga desa akan saling berebut benih,” ungkap Kang Usik.
Warga desa setempat meyakini, benih-benih padi yang ditabur saat ritual digelar tersebut, telah mendapat berkah dari Dewi Sri, selaku dewi kesuburan. “Bibit-bibit padi ini diyakini bisa menghasilkan hasil panen yang melimpah-ruah,” tandasnya.(Ilham Triadi)


Komentar