BANYUWANGI, JURNALNEWS.COM – Kami dari media ini ditemani jurnalis sinergi media gotongroyong tiba di sebuah halaman luas di sebuah di kecamatan Kalipuro, Banyuwangi. Di antara rimbunnya tanaman, berdiri sebuah pondok yang di sampingnya berdiri rumah yang cukup besar yang menjadi omah kreasi “Green Jasmine”. Lebih dari sekadar rumah, tempat ini adalah pusat edukasi, perkumpulan, dan rumah produksi yang menyulap sampah menjadi karya bernilai. Di halaman belakang, pondok terlihat area produksi yang sepi dan penuh tanaman rimbun, sementara pondok edukasi terlihat masih tertutup rapat di samping rumah utama.
Kedatangan kami disambut oleh tiga sosok wanita energik yang juga pendiri komunitas ini: Bu Eni Kustanti, Bu Sri Sudaryati, dan Bu Dini. Semangat mereka tak lekang oleh usia, membuktikan bahwa dedikasi untuk lingkungan tidak kenal waktu.
Melati yang Tumbuh di Tengah Sampah
Berdiri sejak 2019, Green Jasmine terinspirasi dari ketangguhan bunga melati. “Bagaimanapun juga nama adalah doa. Filosofinya, seperti bunga melati yang mudah tumbuh, di sini kami belajar bersama, lalu dapat tumbuh dan berkembang untuk bermanfaat di daerah masing-masing,” ujar Eny ketua sang pendiri komunitas.
Menurutnya, semangat berbagi, bukan bersaing, adalah kunci.
“Di sini kami saling mengisi. Setiap anggota bebas mengembangkan ilmu dan bahkan mendirikan perkumpulan sejenis di tempat asalnya,” lanjutnya sambil sebut anggotanya 13 menyebar di berbagai desa dan 1 di Australia bergerak di fashion Lis Adiwinoto Ecoprint.

Awalnya, sekumpulan emak-emak di atas 50 tahun ini memanfaatkan apa saja: sampah perca, kotak styrofoam bekas budidaya cacing, hingga sampah rumah tangga. Mereka menyulapnya menjadi pot, asbak, dan barang berguna lainnya.
“Dulu, kami hanya fokus produksi. Yang penting sampah bisa jadi barang bermanfaat. Kalau laku, syukur. Kalau tidak, ya tidak apa-apa,” kenang Bu Eny sambil tersenyum. “Tapi ternyata, mulai banyak yang tertarik.”
Dari Pameran ke Layar Televisi
Ketertarikan itu berawal dari pameran. Bu Sri menceritakan pengalamannya membuka stand di event-event seperti Pinusan Suko Bumi Perkemahan.
“Kami pamerkan produk karya kami, salah satunya pot okedama. Banyak yang suka, bahkan Bu Ipuk beserta staf bupati juga turut membelinya,” tuturnya dengan bangga.
Popularitas Green Jasmine pun meroket. Mereka bahkan sempat diliput oleh Metro TV. Sebuah kolaborasi unik lahir dengan seorang pengusaha kopi, Mas Novian, melalui program “Bayar Kopi Pakai Sampah”. Sampah yang terkumpul kemudian diolah Green Jasmine menjadi produk bermanfaat dan artistik.
Jaringan yang Memperkuat, Kolaborasi yang Memajukan
Perjalanan mereka makin matang berkat kolaborasi. Bergabung dengan Banyuwangi Osoji Club membuka pintu pertemanan dan ilmu baru. “Kami mengenal banyak kawan dengan berbagai potensi. Wawasan kami bertambah, dan produk kami punya varian lebih banyak,” jelas Bu Eny
Salah satu ilmu yang dikembangkan adalah pembuatan Eco Enzim, cairan serba guna dari fermentasi sampah organik. Diperkenalkan oleh bunda Sofi dari osoji kemudian belajar lebih luas lagi dengan beberapa mentor seperti Bu Desi, pak Candra Kusuma, Bu Gung Endah. Setelah wabah pmk berlalu, agar tetap semangat membuat, maja ecoenzyme dibuat produk turunannya seperti sabun cair, sabun padat dll
*Melangkah ke Masa Depan dengan Ecoprint
Saat ini, semangat berkreasi mereka tidak pernah padam. Bu Dini dengan antusias memamerkan aneka kain cantik yang sedang dipersiapkan untuk pameran Eco Printing di Vila Solong. Eco Print adalah sebuah teknik seni mencetak yang menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun, bunga, batang, atau bagian tumbuhan lainnya, untuk mentransfer warna dan bentuknya langsung ke sebuah media (biasanya kain atau kertas).
Prosesnya pada dasarnya adalah “mencetak” dengan alam. Pigmen, tanin, dan bentuk dari tanaman akan meninggalkan jejak yang indah dan unik pada media tersebut. Teknik seni mencetak dengan daun dan bunga ini menjadi chapter baru kreativitas mereka.
Berkeliling di area Green Jasmine, kami disuguhkan hamparan tanaman yang menjadi bahan baku Eco Printing dan Eco Enzim. Suasana yang asri dan luas ini adalah bukti nyata harmoni antara manusia dan alam.
Ketika berpamitan, kami diberi sabun mandi kesehatan Eco Enzim yang dibungkus kantong kain cantik hasil produk Eco Printing sebagai oleh-oleh. Kami pun membeli minyak urut aromatik yang salah satu bahannya adalah Eco Enzim. Produk dengan harga terjangkau ini hangatnya cocok untuk pijat dan aroma terapi untuk relaksasi.
Barang-barang sederhana ini adalah bukti nyata bahwa dari tangan emak-emak pejuang lingkungan di Banyuwangi, tercipta harum yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
Awal Desember kali datang dengan jurnalis sejawat media ini yang berkepentingan susun skripsinya di Fisip-HI UNEJ berkaitan cosplay budaya Jepang pengaruhnya pada budaya lokal. Saat pamitan mahasiswi ini dapat kenangan hijab Ecoprint berwarna biru.
Seperti melati, karya mereka terus tumbuh dan harumnya menyebar. Depan dengan Ecoprint. Saat ini, semangat berkreasi mereka tidak pernah padam. Bu Dini dengan antusias memamerkan aneka kain cantik yang sedang dipersiapkan untuk pameran Eco Printing di Vila Solong.
Eco Print adalah sebuah teknik seni mencetak yang menggunakan bahan-bahan alami, seperti daun, bunga, batang, atau bagian tumbuhan lainnya, untuk mentransfer warna dan bentuknya langsung ke sebuah media (biasanya kain atau kertas).
Prosesnya pada dasarnya adalah “mencetak” dengan alam. Pigmen, tanin, dan bentuk dari tanaman akan meninggalkan jejak yang indah dan unik pada media tersebut.
Teknik seni mencetak dengan daun dan bunga ini menjadi chapter baru kreativitas mereka.
Berkeliling di area Green Jasmine, kami disuguhkan hamparan tanaman yang menjadi bahan baku Eco Printing dan Eco Enzim. Suasana yang asri dan luas ini adalah bukti nyata harmoni antara manusia dan alam.
Ketika berpamitan, kami diberi sabun mandi kesehatan Eco Enzim yang dibungkus kantong kain cantik hasil produk Eco Printing sebagai oleh-oleh. Kami pun membeli minyak urut aromatik yang salah satu bahannya adalah Eco Enzim. Produk dengan harga terjangkau ini hangatnya cocok untuk pijat dan aroma terapi untuk relaksasi.
Barang-barang sederhana ini adalah bukti nyata bahwa dari tangan emak-emak pejuang lingkungan di Banyuwangi, tercipta harum
yang membawa kebaikan bagi banyak orang.
Seperti melati, karya mereka terus tumbuh dan harumnya menyebar. (ARW/AWN/JN)


Komentar