oleh

Sapa Santri, RMI Banyuwangi Bangun Generasi Pesantren Berbasis Kesehatan, Ketahanan Keluarga, dan Nilai Keislaman

Banyuwangi – Pembinaan santri pada era modern tidak lagi cukup berorientasi pada penguatan keilmuan agama semata, tetapi juga memerlukan penguatan kesehatan, psikologi, ketahanan keluarga, serta pembentukan budaya pesantren ramah yang bebas dari perundungan (bullying) dan penyalahgunaan narkoba (anti narkoba). Berangkat dari semangat tersebut, Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) Cabang Banyuwangi menyelenggarakan Sapa Santri di Pondok Pesantren Minhajut Thullab, Desa Sumberberas, Kecamatan Muncar, Senin (20/7/2026). Melalui kolaborasi bersama Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (LKKNU), Lembaga Kesehatan Nahdlatul Ulama (LKNU), Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, RSNU Banyuwangi, Klinik Didik Sulasmono (KDS), serta Universitas Islam KH. Mukhtar Syafaat (UIMSYA) Blokagung, para santri memperoleh pembekalan mengenai pembentukan karakter, kesehatan reproduksi, kesehatan jiwa, ketahanan keluarga, literasi digital, edukasi anti-bullying, serta kampanye anti narkoba sebagai ikhtiar membangun lingkungan pesantren yang aman, sehat, inklusif, dan mencerminkan nilai-nilai rahmatan lil ‘alamin.

Rangkaian kegiatan diawali dengan Bimbingan Remaja Usia Sekolah (BRUS) yang diselenggarakan LKKNU Banyuwangi bekerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi. Program ini menjadi ruang edukasi bagi santri untuk memahami pembentukan karakter, kesehatan reproduksi, kesehatan mental, ketahanan keluarga, dan literasi digital sebagai bagian dari ikhtiar membangun generasi yang seimbang antara kecerdasan intelektual, emosional, spiritual, dan sosial.

Materi disampaikan oleh para akademisi, psikolog, penghulu, penyuluh agama Islam, serta praktisi kesehatan dengan pendekatan ilmiah yang berpijak pada nilai-nilai Islam. Hadir sebagai narasumber Dr. Nur Anim Jauhariyah, S.Pd., M.Si., Coach Ahmad Syamsul Muarif, S.Sos., M.A., CH., CMH., CHt., CPS., CT.KLTC., CN.NLP., CI., Nurin Baroroh, M.Psi., Psikolog, dan Halimatus Sa’diah, S.Psi., M.A. Mereka menegaskan bahwa kesehatan jiwa, kematangan berpikir, dan kesiapan membangun keluarga merupakan bagian penting dari proses pendewasaan seorang muslim.

Ketua LKKNU Banyuwangi, Dalilatus Saadah, bersama jajaran pengurus memberikan penguatan mengenai konsep keluarga maslahat, yakni keluarga yang dibangun di atas nilai keimanan, kasih sayang, tanggung jawab, dan kemaslahatan. Menurutnya, pembinaan sejak usia remaja merupakan investasi sosial yang akan menentukan kualitas keluarga sekaligus kualitas peradaban di masa mendatang.

Penguatan aspek kesehatan juga menjadi perhatian melalui keterlibatan LKNU Banyuwangi yang dipimpin dr. Sabik bersama Sekretaris Bd. Diah Fitrianiingsih dengan dukungan RSNU Banyuwangi dan Klinik Didik Sulasmono (KDS). Edukasi kesehatan diberikan sebagai bentuk implementasi ajaran Islam yang memandang menjaga kesehatan (hifzh an-nafs) sebagai salah satu tujuan utama syariat (maqashid syariah).

Dari unsur Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi hadir H. Lukman Hakim, Kepala KUA Tegaldlimo sekaligus pengurus LFNU Banyuwangi, Fawaid Saiful Rachman, serta Anang Ma’ruf Masyhuri dari KUA Muncar. Bersama para penghulu dan penyuluh agama Islam, mereka menguatkan pemahaman santri mengenai kehidupan berkeluarga, tanggung jawab moral, serta pentingnya membangun relasi sosial yang berlandaskan ajaran Islam yang moderat.

Pimpinan Pondok Pesantren Minhajut Thullab menyatakan komitmennya untuk menjadikan program tersebut sebagai pembinaan berkelanjutan. Ke depan, BRUS akan diperluas pelaksanaannya melalui kerja sama dengan Kantor Kementerian Agama Kabupaten Banyuwangi, disertai penguatan Pos Kesehatan Pesantren (Poskestren) bersama LKNU dan berbagai program edukasi lainnya.

Salah seorang pimpinan pesantren, Ahmad Ahmali, menegaskan bahwa tindak lanjut pembinaan akan difokuskan pada seluruh lembaga pendidikan di bawah naungan Pondok Pesantren Minhajut Thullab, yakni SMA Al Hikmah, SMK Minhajut Thullab, MA Minhajut Thullab, MTs Miftahul Mubtadiin, dan SMP Al-Qur’an.

Melalui Sapa Santri, RMI Banyuwangi berharap pesantren semakin menjadi pusat pembentukan generasi yang memadukan kedalaman ilmu agama dengan wawasan keilmuan kontemporer. Dengan demikian, santri diharapkan mampu menjadi pribadi yang berakhlakul karimah, sehat jasmani dan rohani, tangguh menghadapi perubahan zaman, serta memiliki komitmen menjauhi perundungan dan penyalahgunaan narkoba sebagai bagian dari tanggung jawab menjaga diri, sesama, dan kemaslahatan umat.(AWN)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *