oleh

NYA WIJI Menabur Karya Tari Bersinergi Untuk Kedamaian dan Persaudaraan

Dalam rangka Peringatan Hari Tadi Dunia WDD (World Dance Day) digelar di Ruang Terbuka Hijau ( RTH ) Kecamatan Singojuruh. Event kedua kalinya ini digelar di Banyuwangi secara terbuka tidak seperti tahun sebelumnya akibat pandemi covid 19

Kegiatan ini meski tidak masuk kalender B- Fest, namun alam menjadi saksi bergeliatnya tari di Banyuwangi, Hari ini 29 april 2022 adalah hari tari dunia Selamat Hari Tari , Menabur karya menuai budaya. Bertajuk ‘ Nya Wiji ‘ Tari untuk kedamaian, persaudaraan. Melintas batas etnik, bahasa, agama dan segala yang membatasi para seniman muda untuk mengeksplor kreatifitasnya.

IMG-20220504-WA0023

Sedikitnya puluhan performa tari dari penampilan 33 sanggar perorangan maupun kelompok yang sepenuhnya didukung oleh Dewan Kesenian Blambangan dan seluruh sanggar tari di Banyuwangi dengan tetap menerapkan protokol kesehatan. Maestro Gandrung, Temu Misti juga tampil memukau pengunjung yang memadati RTH Singojuruh. Bahkan para penari-penari senior akan tampil bersama (Nyawiji), dengan tarian Jaranan Buto.

Tanggal 29 April merupakan hari kelahiran Jean Georges Noverre (1727-1810), pencipta balet modern yang kemudian ditetapkan sebagai International Dance Day atau Hari Tari Sedunia sejak tahun 1982.
Memperingati Hari Tari Sedunia tersebut, RTH Kecamatan Singojuruh mempersembahkan sajian bertema Nya Wiji.

Dalam kesempatan tersebut, Hasan Basri Ketua DKB ( Dewan Kesenian Blambangan ), menyatakan “Tari merupakan pencapaian peradaban bangsa. Jadi, jika bangsa ini meremehkan dan menganggap rendah tari, maka sesungguhnya bangsa ini menghianati tubuh dan gerak bangsanya, filosofi tersebut merupakan salah satu bentuk memuliakan seni tari. Di dalam setiap gerak tari mengandung sejarah, filosofi dan peradaban bangsa,” paparnya.

IMG-20220504-WA0019

“Kehadiran DKB di sini, hanya memayungi kegiatan seniman muda ini. Apalagi dari mereka sebagian besar juga pengurus DKB, jadi sudah selayaknya didukung sekaligus didampingi,” kata Kang Son, panggilan akrab Ketua DKB ini.

“Saya amati pelaksanaannya memang beda, cara penata panggung dan menyusun rundown acara, sangat profesional,” imbuhnya.

Hasan Basri, menyebut perayaan Hari Tari Sedunia sebagai perwujudan rasa, budaya, dan narasi bangsa serta kebahagiaan universal dalam bentuk tari. Karena bahasa tari mampu melintasi hambatan politik dan etnis untuk menyatukan semua orang di seluruh dunia,” tambahnya.

Kegiatan ini penting untuk seniman Banyuwangi agar memiliki kesadaran global. Selain itu kegiatan ini bukan sekedar memberikan hiburan tapi mengusung idealisme, mengusung gagasan tentang persaudaraan, kebersamaan, keharmonisan, persatuan yang dirangkum dalam tema NYA WIJI. Dengan keindahan tari yang universal kita terabas sekat ideologi, politik, etnis, agama dll. Tari adalah bahasa universal. Selamat hari tari sedunia. Mari lestarikan seni tari tradisi Indonesia agar semakin dikenal dunia, ” pungkas Hasan.

Sedangkan menurut Adlin Mustika, penanggung jawab kegiatan yang juga tokoh seniman muda Singojuruh mengatakan, kebersamaan menambah kekuatan oleh masyarakat yang diintegrasikan dengan alam. Yakni, keberadaan ruang terbuka hijau juga sangat mendukung pengembangan wisata.Tidak hanya yang nampak, tetapi juga yang tidak nampak, seperti ritual dan cerita legenda lainnya untuk mendukung pengembangan wisata Kecamatan Singojuruh ,

“Ke depan nanti kan wisata budaya, religi dan sejarah. Kita juga sudah mulai mengembangkan ke desa-desa sebagai pendukung,” ujarnya.

Acara WDD Banyuwangi mengusung tema, bersinergi dalam kedamaian dengan judul Nyawiji dalam arti bersatu. “Tema ini kami ambil dari isu hari ini bahwa manusia selalu hidup berdampingan dengan sesuatu yang tidak diharapkan lalu bagaimana manusia lebih memaknai hidup dengan segala kondisi dan perbedaan,” terang Sarjana Seni Musik lulusan STKW Surabaya ini.

“Tampilan acara dari berbagai komunitas, sanggar, maupun individu menampilkan karya yang sudah jadi ataupun karya on progress,” ujarnya.

Peringatan Hari Tari Dunia di RTH Kecamatan Singojuruh diikuti hampir semua Sanggar Tari yang ada di Banyuwangi dan penari individu dari sekolah-sekolah yang mempunyai ekstra tari.

Mereka performa mulai jam 14.00 smpek jam 22.00 , tampil bergantian selama 8 jam . Ada 33 penampil dari sanggar tari dan ada juga Tamu dari luar kota seperti :
Team dari DinasKebudayaan dan Pariwisata Kota Batu, UNEJ Jember, UKM Sembur
Unesa Surabaya dan Gong Prada Surabaya

“Ini sangat membanggakan, karena ada semacam solidaritas para seniman tari,” ujarnya

“Biasanya mereka tampil diundang dan mendapatkan honor, tetapi kali ini mereka tampil tanpa mendapat honor. Bahkan mereka terlihat bersemangat, meskipun harus merogoh kocek sendiri,” imbuhnya.

Sementara itu, Slamet ” Samsul ” Diharjo koordinator acara, mengatakan momentum Hari Tari Sedunia ini menjadi titik awal dengan acara ini bisa mengembalikan gairah menari, khususnya bagi kaum muda yang selama dua tahun terakhir meredup akibat pandemi. “Awal ide ini bermula kita menampung keresahan dari teman-teman para seniman tari di Kabupaten Banyuwangi yang selama masa pandemi ini jarang melakukan pementasan. Selama dua tahun sangat jarang tampil, makanya Nya Wiji di RTH ini memfasilitasi teman-teman penari di Banyuwangi , khususnya untuk anak muda, karena kita ketahui selama pandemi covid 19 nyaris tidak ada seni pertunjukan, kami harapkan bisa menjadi pemicu kembali bergairahnya seni pertunjukan di Kabupaten Banyuwangi, ” harapnya.

“Sebagai ciri khas agenda perhelatan ini, diakhir acara ditutup dengan menari bersama dalam ketubuhan yang berbeda namun satu irama saling bertukar rasa sesuai dengan Nyawiji,” jlentreh Samsul.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *