Secuil Kisah Anak Punk, Tiga Hari Bergabung Dipaksa Berbuat Kriminal

Secuil Kisah Anak Punk, Tiga Hari Bergabung Dipaksa Berbuat Kriminal
Bapak kandung FD (paling kiri) dan FD (kaos merah) saat proses serah terima yang dilakukan Polsek Cluring. (Ron/JN)
Spread the love

Cluring-Kerap kali sekelompok anak punk ditemui dijalanan dengan gaya berpakaiannya yang khas. Setiap jumpa itu pula didalam hati kerap terbesit, seperti apa dunia mereka. Mungkin pertanyaan itu sedikit terjawab dengan kisah seorang remaja dibawah ini, yang tiga hari menjadi anak punk sebelum akhirnya “bertobat”.

Sebut saja namanya FD (13), dia baru saja kembali kepangkuan orangtuanya setelah tiga hari kabur dari orangtuanya. Langkah petualangan bocah pank itu pun terhenti saat berada di kawasan SPBU Cluring bersama teman sekelompoknya. Dia ditangkap massa karena diduga mencuri Hp dan sebungkus rokok di dalam mobil yang parkir di depan SPBU Cluring, Selasa (1/8/2017) kemarin.

Dia ditangkap BS, pemilik Hp yang diketahui asal Desa Parijatah Wetan, Kecamatan Singojuruh. Menghindari amuk massa, BS menyerahkan FD ke Polsek setempat. BS sendiri sebenarnya merasa welas, namun apa boleh buat. FD sudah berbuat tidak terpuji. Dengan barang bukti Hp dan rokok yang disimpan disaku celananya.

Singkat cerita, bocah asal Kecamatan Muncar ini meringkuk di Polsek Cluring sendirian. Teman sekelompoknya yang katanya sehidup semati dan sependeritaan tak lagi ada. Pengkhianatan telah melukai arti kesetiaan. Terlebih pencurian Hp itu bukan keinginannya. Melainkan atas paksaan dan ancaman teman-teman di kelompoknya. Bila tak melakukan, maka siap-siap saja untuk digebuki.

“Saya mencuri bukan keinginan saya tapi jika saya tidak melakuknya saya dipukuli beramai-ramai, jadi saya seperti terperdaya,” tuturnya sembari menunduk ditemui JurnalNews.com di Polsek Cluring, Rabu (2/8/2017) kemarin.

Memang, teman-teman di kelompoknya punya pedoman. “Boleh mengambil (mencuri) apa saja yang penting untuk hepi-hepi”, begitu katanya menirukan ucapan teman-teman di kelompoknya.

Bocah berpawakan kurus itu juga mengaku, dulu dia memutuskan bergabung dengan kelompok anak punk jalanan karena keinganannya menjadi seorang lelaki sejati. Tapi dia salah kaprah mengartikannya.

“Saya ikut seperti ini hanya ingin bebas dan mandiri. Tapi ternyata yang saya perbuat salah dan juga malah menjadikan orang lain merasa terganggu,” katanya dengan nada tersendat.

Rupanya dia tak mampu ‘membunuh’ rasa rindu kepada keluarga dan orang tua tercintanya. Ikatan batin itu kerap kali hadir di dalam hatinya. Memanggilnya ditiap tapak langkah pencarian jati dirinya. Setiap itu pula dia berupaya tidak menghiraukan, memilih untuk tetap bertahan bersama kelompoknya.

“Sekarang saya sadar, saya ingin kembali ke keluarga,” tuturnya dengan nada bergetar dan mata berkaca-kaca.

Suasana haru menyelimuti proses serah terima FD di Polsek Cluring. (Ron/JN)

Suasana haru menyelimuti proses serah terima FD di Polsek Cluring. (Ron/JN)

Beruntung, proses hukum FD tidak berlanjut hingga ke meja hijau. Dia dikembalikan ke orang tuanya. Polsek Cluring memilih berlaku bijak melakukan proses diversi dengan mengundang hadirkan sejumlah intansi kompeten. Diantaranya Pekerja Sosial dari Dinas Sosial Banyuwangi, Kepala Dusun dimana tempat tinggal FD dan kedua orang tua FD.

“Karena masih anak-anak kita akan proses Diversi yaitu dikembalikan ke orang tuanya agar diberi pembinaan. Dengan catatan agar FD diberi pembinaan agar tidak lagi kembali ke jalanan,” papar Kanit Reskrim Polsek Cluring Ipda Hariyanto, ditemui usai proses penyerahan FD ke orang tuanya.

Saat dipertemukan, Ibu dan Bapak serta FD menangis haru. Rasa khawatir terhadap anaknya pun pupus. Demikian dengan FD, rasa rindunya tuntas dipelukan orang tuanya. Selama meninggalkan rumah, Bapak dan Ibu FD tidak pernah tahu kemana anaknya pergi. FD harusnya masih duduk dibangku sekolah menengah pertama (SMP), tapi dia enggan melanjutkan jenjang pendidikannya.

“Meninggalkan rumah sudah 3 hari ternyata kesehariannya di jalanan sebagai anak Pank,” keluh Bapak kandung FD sembari berupaya menahan air matanya.

Kelompok anak Punk jalanan sering berkeliaran dan nongkrong di jalananan. Dan biasa beraktivitas di lampu lalu lintas untuk mengamen dengan alat musik seadanya. Mereka berdandan dengan gaya rambut Mohawk berwarna-warni, berbaju kaos dengan banyak gambar sangar, bercelana ketat model pensil, dan memakai sepatu gaya ceko.

Secuil kisah dari FD ini bisa menjadi pengingat kepada para orangtua dan yang duduk di kursi pemerintahan sana. Bukan hanya merazia, tapi juga menjaga dan mencegah lebih utama. (Ron/JN)

 

Tags:
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan