Para Manula Berdaya di Kampung Eksodus Desa Kebondalem

Para Manula Berdaya di Kampung Eksodus Desa Kebondalem
Tumirin (80), salah satu manula di kampung eksodus Desa Kebondalem. (Ron/JN)
Spread the love

Bangorejo-Sesuai namanya, kampung yang berada di area komplek kantor Pemerintah Desa Kebondalem, ini dihuni para eksodus atau pelarian atau korban dari kerusuhan SARA di sejumlah pulau di Indonesia. Disini ada sekitar 30 unit rumah non permanen yang dibagi 4 blok. Beberapa diantaranya telah berubah menjadi bangunan permanen.

Diawal kedatangannya, 2004 silam, jumlah penghuni kampung eksodus berjumlah 30 KK. Seiring perjalanan waktu penghuninya bersisa 12 KK saja dan kini resmi menjadi penduduk tetap Desa Kebondalem. Lebih dari separuhnya meninggalkan tempat penampungan dengan berbagai alasan. Ada yang tidak betah dan kembali merantau.

Namun adapula beberapa dari mereka telah mapan ekonominya dan mampu membeli rumah di tempat lain. Tapi, bukan berarti mereka yang menetap tidak bahagia. Mereka yang rata-rata adalah manula enggan keluar karena sudah merasa menjadi bagian dari warga Kebondalem. Apalagi trauma menjadi korban kerusuhan bukan perkara mudah untuk melupakannya.

Seperti Tumirin (85), salah satunya. Kakek renta kelahiran Jember, ini enggan meninggalkan Desa Kebondalem karena masih trauma. Untuk menyambung hidup, dia dan Gisah (65), istrinya membuat beragam kerajinan anyaman bambu. Seperti sangkar ayam, tempeh, topi tani dan lain-lainnya. Kerajinannya itu pesanan dari warga sekitar. Bila tidak ada pesanan Tumirin akan menjual buah tangannya ke pasar tradisional setempat.

“Sudah tua mau kerja apalagi, punya ketrampilan ya dipergunakan,” katanya sembari merapatkan bilah bambu yang dianyamnya, Senin (7/8/2017).

Sebelumnya, dia bersama Gisah (65), istrinya merantau di Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah melalui program pemerintah, transmigrasi. Hidup di tanah rantau menjadikan kehidupannya membaik secara ekonomi. Rumah, ladang yang luas sudah dimilikinya.

“Disana (Poso) saya sudah punya rumah, ladang dan sawah. Bahkan saya punya gumuk (bukit kecil), sudah bersertifikat,” kenangnya.

Meski kini hidup dengan segala keterbatasan, Tumirin lebih bersyukur. Karena dia bisa hidup damai bersama istri, anak dan cucunya. Apalagi dia sangat betah tinggal di Kampung Eksodus dan hidup rukun berdampingan dengan masyarakat setempat. Kakek yang pendengaran dan penglihatannya masih berfungsi dengan baik, itu mengaku tidak ingin kejadian buruk menimpan kepada anak dan cucunya.

“Anak saya sudah pada kerja tapi tidak saya ijinkan keluar pulau. Disini saja, palagi Pak Lurahnya sangat baik, bijaksana. Kami sangat berterima kasih kepada beliau,” imbuhnya.

Misinem (65) di depan rumahnya. (Ron/JN)

Misinem (65) di depan rumahnya. (Ron/JN)

Kehidupan serupa juga dijalani Misinem (65), yang tinggal tak jauh dari Tukimin. Sehari-hari nenek bercucu 6 ini menjaga toko kebutuhan rumah tangga sembari merajut kerajinan manik-manik. Kerajinan itu pekerjaan dari salah satu pengrajin di desa. Dia mengaku hanya mengambil ongkos merajut saja.

“Kalau dompet seperti ini upahnya Rp 2500/potong. Bahannya dari pak bosnya,” tuturnya sambil menunjukan dompet manik-manik yang dimaksud.

Nenek yang pernah hidup di Maluku, ini sendiri dalam sehari bisa menyelesaikan paling banyak 4 potong. Bila sudah terkumpul banyak akan disetorkan ke penampung. “Lumayan untuk nambah uang jajan cucu saya, daripada diam,” katanya lagi sambil membetulkan posisi duduknya.

Kepala Desa (Kades) Kebondalem Ikhsan menjelaskan, penghuni Kampung Eksodus sudah menjadi bagian dari desanya. Mereka yang memilih menetap sudah mengantongi KTP. Untuk membantu penghidupannya, pihaknya tidak memberikan bantuan uang tunai. Melainkan dalam bentuk pelatihan dan pendampingan ketrampilan. Karena hal itu yang dianggap lebih bermanfaat.

“Kami tidak sampai hati bila saudara-saudara kita itu tidak bisa menopang hidupnya. Kita bekali dengan ketrampilan ketrampilan. Kita kerjasama dengan pengrajin yang sudah lebih dulu mapan,” jelasnya.

Ikhsan juga mengaku tidak memungut biaya apapun kepada penghuni kampung eksodus. Termasuk biaya menempatinya. Pihaknya hanya meminta kepada para penghuni untuk merawat dan menjaganya.

“Ini karena pinjam tempat saja, sekali lagi ini misi kemanusiaan,” pungkasnya. (Ron/JN).

Tags:
banner 468x60

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan