oleh

Mimpi Warga Sambimulyo di ‘Tour de Jalan Wangkit Amoh’

Bangorejo – Saat mata dan perhatian warga Banyuwangi tertuju pada ajang balap sepeda International Tour de Banyuwangi Ijen (ITdBI), ada hal menarik dilakukan oleh sejumlah warga Desa Sambimulyo, Kecamatan Bangorejo. Mereka menggelar kegiatan serupa tapi tak sama yakni balap sepeda bertajuk ‘Tour de Jalan Wangkit Amoh’.

Tujuan dari kegiatan syarat ironi ini, tak lain mewujudkan bentuk suara mereka akan kondisi jalan di desanya yang rusak tak kunjung diperbaiki. Jalan itu masih berbentuk tanah dan batu yang tak rata, bahkan memberi beban bagi setiap warga yang melewatinya.

Mirisnya lagi, jalan itu sebenarnya adalah jalan utama yang biasa digunakan para petani setempat untuk mengambil hasil panen. Terlebih, jalan itu pula menjadi sarana utama bagi para siswa menuju ke sekolah.

Melihat hal itu, mereka seakan terlecut akan kondisi jalan di tempat lain yang mayoritas mulus dengan balutan aspal tebal. Teriakan halus yang sengaja dihembuskan melalui kegiatan tersebut, setidaknya dapat menyentuh harapan sehingga merubah mimpi menjadi kenyataan.

Peserta Tour de Jalan Wangkit Amoh


“Tour de Jalan Wangkit Amoh ini kita selenggarakan sebagai sarana penyampaian aspirasi kami terhadap kondisi jalan di sini yang tak kunjung diperbaiki. Mengapa acara ini dinamakan demikian, karena sebenarnya jalan yang dilalau melintas di empat batas desa. Di antaranya, Desa Bulurejo, Temurejo, Seneporejo, Sambimulyo,” ucap Andik Santoso, penggagas acara Tour de Jalan Wangkit Rusak, Minggu (24/9/2017).

Pesertanya, kata Andik, mayoritas didominasi oleh kalangan petani. Mereka diajak melalui sejumlah rute yang disiapkan sepanjang 10 kilometer. Termasuk melewati jalan batas yang kini kondisinya rusak parah.

“Ini sekaligus menunjukkan kepada pemerintah agar jalan wangkit atau batas ini juga perlu perhatian. Dengan ini, harapan kami dapat dibuatkan Perda untuk memperjelas pembagian pembangunan yang ada dibatas-batas desa,” ungkapnya.

Sementara itu, Kepala Desa Sambimulyo Wintoyo mengakui, sejauh ini memang belum ada kordinasi dengan desa lain menyikapi jalan batas tersebut. Pihaknya menegaskan, kedepan juga akan memberikan andil untuk mengambil tindakan.

“Memang selama ini belum pernah diadakan musyawah dengan desa-desa lain. Tapi selanjutnya kita akan segera kordinasi untuk membahas pembangunan terutama jalan yang melintas dibatas desa,” jelas Wintoyo.

Beda halnya dengan Camat Bangorejo Didik Joko Suhono yang menegaskan akan segera mengusulkan jalan tersebut dapat segera diperbaiki. “Nanti dalam rapat tingkat kecamatan saya akan usulkan pembanguanan jalan produksi agar bisa diperbaiki,” tegasnya.

Mendengar pernyataan itu, Fatwa salah seorang warga mengatakan, pihaknya tak mau lagi mendengar janji atau sekedar wacana belaka. Sejumlah warga sudah tak sabar mewujudkan mimpi mereka menikmati jalan yang lebih baik.

“Jalan batas ini sejak dulu belum pernah ada perbaikan dengan acara ini semoga bisa membawa perubahan. Setidaknya warga pinggir batas bisa beraktifitas seperti yang lain,” terang Fatwa.

Acara ini sekaligus menjadi rangkaian kegiatan warga dalam memperingatai Hari Tani Nasional. Selain menggelar Tour de Jalan Wangkit Amoh, para warga juga memanfaatkan momen bertemu ini sebagai sarana musyawarah demi kemajuan petani kedepan. (ron/ito)


 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News