Silaturahmi dan Buka Puasa Bersama KOPAT Glagah di Warung Kemarang jalan Perkebunan Kalibendo Km 5 Desa Tamansuruh Kecamatan Glagah Banyuwangi dihadiri oleh seluruh anggota Komunitas Pelestari Adat Tradisi Glagah, (19/04/2021)
Acara dimulai dengan pembukaan dengan sambutan oleh Wowok Meirianto selaku ketua KOPAT sekaligus owner Warung Kemarang ini mengatakan Ormas atau NGO ada karena kebutuhan masyarakat, bukan hanya menunggu atau tergantung dengan SK Kemenkumham dan mengharapkan APBN, APBD, yang penting orangnya ada, kegiatannya ada dengan tujuan mendukung pemerintah agar pembangunan terus berjalan, dan KOPAT berjalan semua kegiatannya.

“Ormas atau NGO ada karena kebutuhan masyarakat, bukan hanya menunggu atau tergantung dengan SK Kemenkumham dan mengharapkan APBN, APBD, yang penting orangnya ada, kegiatannya ada dengan tujuan mendukung pemerintah agar pembangunan terus berjalan, dan KOPAT berjalan semua kegiatannya, “tutur Wowok.
Kemudian dilanjutkan dengan penjelasan dari pendiri KOPAT Sanusi Marhaedi mengatakan bahwa Kopat bukan hanya milik orang Osing tapi Kopat adalah milik kita semua.
“Jadi Kopat bukan hanya milik satu etnis atau suku. Kopat sudah melaksanakan beberapa kegiatan diantaranya pada 13 Oktober 2020 doa tolak balak ring dino rabu wekasan, 25 Oktober 2020 di Lingkungan Kelembon upacara adat sedekah bumi serabi sewu dan madang Kerawu Cukulan, 14 Januari 2021 pendidikan terbuka untuk mahasiswa Uniba dan 24 Januari 2021 ngaji roso tentang selametan sawah dari awal nggarap sawah sampai panen, “jelas Usik.

Pada 13 Februari 2021 acara ritual adat mudun lemah di Kampung Dukuh Glagah. Pada 9 April 2021 Kopat mendapat kehormatan dari dewan pimpinan Lesbumi NU Banyuwangi di cafe Akbar Singotrunan.
“Membangun Banyuwangi tidak harus menjadi bupati, Camat, Kades, tetapi apa pun posisi kita sekarang harus tetap ikut serta membangun wilayah Banyuwangi, “tegas Usik.
Sanusi menambahkan di tanggal 10 April 2021 mendirikan Basecam Kopat di Dukuh Glagah. Dan 20 April sampai 8 Mei 2021 mengadakan lomba patrol di Warung Kemarang yang diikuti oleh beberapa perwakilan grup dari beberapa desa di kabupaten Banyuwangi.
Dalam diskusi ada beberapa masukan diantaranya oleh Begawan Cipto Toso tentang SK Kemenkunham tidak usah ditunggu tanpa SK kegiatan Kopat tetap berjalan, dan mengenai lagu wajib pada lomba patrol tidak ada yang penting menggugah sahur saja. Menurut Wowok Asal-usul lomba patrol dari Banyuwangi Festival tidak mengadakan akhirnya dirangkul diadakan di Warung Kemarang patrol tetap ada di tahun ini.
Sementara dari Aekanu Hariyono mengatakan Adat tradisi biarlah berjalan alami, tradisi turun temurun ya seperti itu, dan perlu generasi penerus untuk pelaku adat budaya karena Indonesia ditonjolkan adat dan budaya.
“Saya tetap semangat untuk melakukan kegiatan budaya ini, karena apa yang bisa kita tinggalkan untuk anak cucu, dan semua ini sosial, “ungkap Aekanu.(Basuki)


Komentar