oleh

Ritual Penampan Tradisi Mapag Puasa Masyarakat Osing Banyuwangi

Sehari Menjelang Ramadhan, warga Osing di beberapa desa seperti Kemiren, Olehsari, Glagah, Bakungan Kecamatan Glagah dan Cungking (Mojopanggung) Kecamatan Giri Kabupaten Banyuwangi Jawa Timur memiliki tradisi ritual Penampan Puasa. Kegiatan dengan bentuk berdoa dan makan bersama di tengah jalan kampung dengan harapan agar selama Ramadhan bisa menjalankan ibadah puasa dan tarawih tanpa ada gangguan. Banyuwangi yang berada di ujung timur Pulau Jawa dikenal sebagai salah satu kabupaten yg mampu menumbuhkembangkan dan melestarikan berbagai macam adat istiadat dan seni budaya. Salah satunya adalah adat dan tradisi sebagian masyarakat Osing yang tinggal masih mendiami beberapa desa di Banyuwangi.

Tradisi penampan diawali dengan masak bersama mulai pagi. Lalu, menjelang Maghrib warga berkumpul di depan rumah masing-masing. Tradisi unik menyambut datangnya Ramadhan. Mereka menggelar sedekah penampan, Sabtu (2/4/2022) malam. Tradisi ini dilakukan dengan kegiatan makan bersama di depan rumah masing-masing. Menu makanan yang disajikan beragam. Seluruhnya kuliner khas suku Using. Salah satunya ayam kalak. Bahannya, daging ayam kampung dengan bumbu sambal kecap pedas. Namun, ada satu menu wajib yang disajikan. Yaitu, ketupat dan lepet. Lepet adalah makanan berbahan ketan dibungkus daun janur, lalu direbus hingga matang. Tak hanya ketupat, makanan dalam Penampan Puasa disiapkan juga hidangan bersantan berbahan daging ayam, sapi dan ikan laut.

Menurut Sanusi Marhaedi yang akrab disapa Kang Usik, Tokoh Pendiri Komunitas Osing Pelestari Adat Tradisi (KOPAT) Banyuwangi, masyarakat di lingkungannya memiliki kepercayaan arwah para leluhur mendatangi rumah anak turunnya setelah tanggal 15 Nisfu Syahban atau bulan Ruwah. Puncaknya, lanjut Kang Usik malam 1 Ramadan masyarakat memotong ayam kampung untuk menggelar selamatan yang dikenal dengan istilah “Penampan”.

IMG-20220403-WA0033

” Sehari sebelum Ramadan, setelah salat Duhur pada jaman dahulu masyarakat mengurangi aktivitas dan lebih banyak melakukan perenungan dan bertafakur sebagai upaya menyiapkan jiwaraganya memasuki bulan suci Ramadan, “ujar kang Usik.

“Ketupat lepet ini memiliki makna permohonan maaf sebelum melakukan ibadah puasa,” kata Haidi tokoh muda warga Desa Kemiren.

Selain memohon keselamatan selama puasa, tradisi penampan sebagai ritual sedekah bagi para leluhur yang sudah meninggal. Harapannya, dengan sedekah makanan ini, para ahli kubur diharapkan ikut memberikan doa keturunan yang masih hidup. “Jadi, kami mendoakan leluhur, sekaligus meminta doa keselamatan,” tegasnya.

Kalau dahulu, kita keliling menyantap makanan dari rumah ke rumah. Tapi, banyak yang justru tidak termakan. Akhirnya, dibuat makan bersama di jalan depan rumah secara bersamaan.

“Ini tradisi leluhur kami. Dalam menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, agar kita diberikan kekuatan,” ujar Haidi Bing Slamet, Tokoh muda masyarakat Desa Kemiren.

Haidi mengaku tradisi ini memang sedikit bergeser dengan tradisi lama. Sebelumnya, Penampan Puasa dilakukan dengan cara berkunjung dari rumah ke rumah. Untuk hidangan, kata Haidi, makanan yang wajib ada adalah ketupat. Ketupat yang layaknya disajikan saat Lebaran, di Desa Kemiren sudah muncul menjelang Ramadan. Karena menurut mereka, ketupat yang memiliki bentuk persegi memiliki arti sebagai mata angin.

“Agar keberkahan, rejeki dan keselamatan datang dari 4 penjuru mata angin,” tambahnya.

IMG-20220403-WA0032

Bagi orang Osing, momen datangnya Bulan Ramadhan disambut dengan ritual-ritual tertentu yang dilakukan secara turun-temurun. Agar tradisi itu tidak hilang, dengan tema Mapag Puoso atau Menyongsong Bulan Puasa Ramadhan, tentang ragam adat orang Using menyongsong bulan Ramadhan, tokoh pesinaunan adat Osing Slamet ” Samsul ” Diharjo, menjadikan materi penampan sebagai tradisi kearifan lokal mapag puoso kedalam sekolah non formal yang khusus mempelajari adat , tradisi dan budaya Osing. Samsul menyatakan bahwa karena kepercayaan orang Using saat bulan Ramadhan leluhur akan pulang.

“Saat nyekar atau ngirim, kata orang osing, biasa arwah ini juga diajak pulang. Ternyata dipercaya ada yang ikut pulang, terus bokor dan kendidibersihkan, makanya ada larangan dikala orang Using, kalau makan nasi yang diambil dari kemarang, agar tidak dihabiskan isi kemarangnya. Barangkali ada arwah yang ikut pulang, agar masih mendapatkan bagian nasi,” jelas Samsul yang juga pemilik Sawah Art Speace.

Sementara menurut Ketua PD AMAN Osing, Wiwin Indiarti menjelaskan, bahwa simbol ikatan kuat antara keluarga dengan para leluhurnya. Masyarakat Adat Osing punya tradisi khas berupa nyekar dan selamatan dalam menyambut datangnya bulan Ramadhan. Dua tradisi tersebut dilakukan sehari sebelum puasa. *Nyekar* atau menaburkan bunga di makam para leluhur dan kerabat yang sudah lebih dulu wafat pada sore hari menjelang puasa disebut jg *ngirim* karena aksi tabur bunga secara simbolis merepresentasikan aksi mengirimkan doa. Karena sifatnya menyambut atau *nampa* (dalam Bahasa Osing), maka tradisi selametan disebut *penampan* atau penyambutan. Dalam kedua tradisi doa-doa dilangitkan untuk para leluhur dan kerabat yang sudah wafat. Sementara itu selametan yg dilaksanakan selepas sholat magrib juga mengundang tetangga kanan-kiri. Selain menggambarkan orang Osing yang selalu melibatkan Tuhan dalam setiap urusan dan menjaga hubungan dengan leluhur yang sudah meninggal, selametan juga menjaga hubungan baik dengan sesamanya (menyuburkan komunalitas) kata Wiwin yang juga peneliti dari Universitas Banyuwangi.

Wiwin menambahkan
“Bentuknya persembahan doa atau kalau orang Using ya sandingan itu. Jadi sandingan adalah simbol ikatan kita dengan leluhur yang sudah lebih dulu menghadap Pengeran,” tambahnya. Sekaligus mengingatkan, bahwan hidup itu tidak selamanya,” pungkas Wiwin.(Ilham Triadi)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *