oleh

Ikan Endemik di Sungai Ini Menghilang, Apa Sebabnya?

Bangorejo – Ikan Uceng merupakan hewan endemis di Sungai Setail, Kecamatan Bangorejo. Dulu, ikan tersebut sangat banyak dan mudah dijumpai oleh warga sekitar. Bahkan, acap kali mereka berlomba menangkap ikan tersebut kala waktu senggang.

Namun, kini ikan kecil nan nikmat disantap itu seolah bak ditelan arus hilang tak bersisa. Warga yang ingin mendapatkannya merasa kesulitan bahkan susah dijumpai. Jikapun ada, hanya segelintir saja yang dapat mereka tangkap.

Entah memang telah punah atau dipunahkan oleh pelaku lingkungan. Mungkin pula, adanya persaingan hidup di habitatnya yang semakin terhimpit. Tapi, ada pula yang menyebut, hilangnya ikan endemis itu karena diduga tercemar.

“Dulu kalau saya pasang telik satu telik bisa mendapatkan ikan uceng setengah kilogram namun sekarang hanya bisa dihitung dengan jari tangan,” jelas Herman (41) warga Dusun Krajan, Desa Purwodadi, Selasa (17/10/2017).

Ia pun beranggapan, sebab sulitnya menangkap ikan uceng tersebut. Menurutnya, masifnya sampah di sungai dari perilaku warga menjadi salah satu penyebabnya. Pasalnya, ikan ini biasa menempati kondisi air yang jernih.

“Ikan kecil seperti uceng ini memang tidak mau jika airnya tercemari mereka suka air yang jernih, buktinya dulu ketika saya pasang alat berupa telik bisa mendapatkan banyak sekali, lain dengan sekarang,” terang Herman.

Padahal, perilaku warga untuk menangkap ikan ini dinilai cukup ramah dan tergolong tradisional. Seperti yang dilakukan Herman ini yang memilih menggunakan telik semacam alat tangkap terbuat dari bambu.

Herman membersihkan ikan uceng hasil tangkapannya
Herman membersihkan ikan uceng hasil tangkapannya

Dalam sekali tangkap, ia biasanya memasang 30 buah telik kemudian ditanam di dalam air. Umpannya, kata Herman, hanya butuh tempe mentah, roti tawar ditambah bawang putih. Cara yang unik untuk menangkap ikan.

“Cara membuatnya tidak sulit, yaitu bahan tersebut ditumbuk jadi satu sampai halus lalu dimasukkan kedalam telik kemudian ditutup. Saat menanam telik di sungai jangan lupa diberi tanda kayu kecil,” ucapnya.

Pemasangan telik biasanya dilakukan pada sore hari hingga kemudian pagi harinya dapat dipanen atau diangkat. Hasilnya, selain dapat digunakan lauk sehari-hari juga dapat dijual untuk membantu perekonomian warga sekitar.

“Saya harap masyarakat agar tidak membuang sampah disungai apalagi sampai mencari ikan dengan cara meracuni sungai itu semua sangat disayangkan, biar ikan yang bernama Uceng tersebut bisa dirasakan sampai ke anak cucu kita,” imbuhnya.

Ikan uceng mungkin sangat asing di telinga anak jaman sekarang. Apalagi sampai tidak pernah merasakan kelezatannya yang ternyata mengandung protein yang baik bagi tubuh. (Jumroini)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat surel Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

News